Industri Garam Bawa Dampak Positif Bagi Rakyat NTT

Industri Garam Bawa Dampak Positif Bagi Rakyat NTT

Industri garam yang ada di Nusa tenggara Timur (NTT) telah berdampak positif bagi kehidupan masyarakat, seperti adanya ladang pekerjaan baru bagi masyarakat sekitar. (Foto: Petani Garam - Nawacita.co).

KUPANG, dawainusa.com Kepala Desa Bipolo Kabupaten Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Matheos Tapikab mengungkapkan, industri garam yang ada di daerahnya telah berdampak positif bagi kehidupan masyarakat.

Ia mengatakan, adanya industri garam tersebut telah memberikan ladang pekerjaan baru bagi masyarakat di daerah itu. “Sudah 200 tenaga kerja yang terserap untuk produksi garam Bipolo ini yang berasal dari Desa Bipolo maupun desa tetangga dari Oeteta dan Oelatino,” ungkap Tapikab di Kupang, Jumat (2/2).

Tabikab menyebut, 200 tenaga kerja tersebut tidak hanya laki-laki tetapi juga terdapat banyak perempuan. Mereka bekerja dengan pendapatan harian setiap orang sebesar Rp55.000.

“Meskipun untuk makan mereka tanggung sendiri tapi pendapatan ini sudah bisa membantu perekonomian mereka di masing-masing keluarga mereka,” tuturnya.

Ia menerangkan, untuk produksi garam Bipolo tersebut ditargetkan akan memanfaatkan lahan seluas 400 hektare dengan kondisi lahan potensial produksi seluas 318 hektare. Produksi garam tersebut dikelola oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Baca juga: Di Flores Timur, 300 Hektare Lahan Disediakan Untuk Tambak Garam

Pada awal percobaan, kata dia, produksi garam tersebut memanfaatkan lahan seluas 2 hektare. Dari lahan tersebut dihasilkan garam sebanyak 327 ton.

“Sementara produksi sepanjang tahun 2017 sampai sekarang sudah mencapai 12 hektare dan sebelumnya saya tanyakan produksi mereka mencapai 3.700 ton,” ujarnya.

Dengan potensi tersebut, Tapikab berharap agar produksi garam terus dioptimalkan. Dengan demikian, jelas dia, usaha tersebut dapat menyerap tenaga kerja yang lebih banyak lagi. Pemerintah desa sendiri, katanya sangat mendukung usaha tersebut.

Ia menambahkan, dukungan tersebut juga dilakukan dengan menghibahkan lahan seluas 15 hektare untuk pembangunan pabrik dan gudang yang diprogramkan PT Garam. Akan tetapi, mereka masih menunggu realisasi pembangunan pabrik dan gudang yang dimaksud karena hingga kini belum terlaksana.

“Lahan ini telah dihibakan keluarga kami, secara lisan sudah disepakati tinggal secara tertulisnya, karena katanya PT Garam mau membangun pabrik dan gudang di sini,” pungkasnya.

NTT Didorong Jadi Pilar Produksi Garam Nasional

Kondisi strategis NTT sebagai Provinsi Kepulauan memang sangat menguntungkan daerah tersebut. Keadaan ini mesti menjadi sebuah kekuatan bagi NTT untuk memajukan daerahnya dengan terus memaksimalkan berbagai potensi yang ada secara khusus dari sektor kelautan, yakni garam.

Potensi ini sendiri sudah mendapatkan perhatian dari pemerintah. Kepala Dinas Perindustrian Nusa Tenggara Timur (NTT), Obaldus Toda mengungkapkan, NTT telah menjadi daerah yang dianggarkan pemerintah sebagai pusat produksi garam nasional.

Pasalnya, daerah ini memiliki potensi lahan untuk produksi garam mencapai 60 ribu hektare. Sementara untuk kebutuhan swasembada garam industri dan konsumsi secara nasional hanya dibutuhkan sekitar 20 ribu hektare.

“Potensi garam kita terus didorong menjadi pilar produksi garam nasional karena sudah didukung kondisi cuaca yang baik, wilayah pantai dan laut yang luas dan bersih,” kata Toda di Kupang, Rabu (31/1).

Baca juga: Dukung Regulasi Daerah Kepulauan, NTT Sepakati Deklarasi Batam

Kondisi ini, ungkapnya, menjadikan NTT lebih istimewa dibandingkan dengan daerah lainnya yang keadaan alamnya masih kurang mendukung ditambah faktor meningkatnya aktivitas industri yang berdampak pada keadaan laut.

“Sementara wilayah sentra produksi seperti di Jawa dan sekitarnya semakin mengalami kejenuhan, di sisi lain kualitas laut mereka juga seiring waktu menurun akibat aktivitas industri lainnya,” lanjutnya.

Ia juga menambahkan, semua daerah strategis yang ada di NTT tersebut mesti terus diperhatikan dan dikembangkan demi mendukung kebutuhan garam di tingkat Nasional.

Selain demi produksi nasional, pemerintah juga akan terus mendorong produksi garam konsumsi di kabupaten lainnya di NTT dengan memakai teknologi geomebram. Kisaran lahan untuk produksi garam di setiap kabupaten di daerah ini berkisar antara 5-10 hektare.

“Budidaya garam untuk kebutuhan lokal ini terus kami dorong, selain itu juga bersinergi dengan swasta maupaun BUMN sehingga ke depannya NTT bisa menjadi pilar swasembada garam nasional,” ungkap Toda.

Empat Daerah Jadi Pusat Industri Garam Nasional

Toda menyebut, ada empat daerah strategis di NTT yang dipetakan akan menjadi pusat produksi garam. Ia menjelaskan, pemetaan itu dilakukan dalam rangka mendukung swasembada garam secara nasional.

“Keempat wilayah strategis tersebut meliputi Kabupaten Kupang dan Malaka di Pulau Timor serta Kabupaten Ende dan Nagekeo di Pulau Flores,” jelas Toda.

Menurut Toda, keempat daerah tersebut sangat strategis baik secara nasional maupun secara regional untuk mendukung pengembangan produksi garam. Apalagi, kata dia, tingkat cakupan masing-masing daerah itu mencapai ratusan hektare.

Baca juga: Empat Daerah di NTT Bakal Jadi Pusat Produksi Garam Nasional

Ia mengungkapkan, sejauh ini, sudah ada dua daerah pusat garam di NTT yang sudah berproduksi untuk memenuhi kebutuhan industri garam serta demi menjawab kebutuhan konsumsi lokal.

Dua daerah tersebut, yakni di Bipolo Kabupaten Kupang yang di kelola oleh PT Garam dan di Mbay Kabupaten Nagekeo yang dikelola oleh pihak swasta.

Adapun produksi garam di Bipolo sendiri, jelas Toda, potensi lahan mencapai 4 ribu hektare. Sementara, di daerah Mbay, lahan yang sudah dipakai untuk produksi sudah sekitar 50 hektare dari total potensi mencapai ratusan hektare.

“Wilayah-wilayah potensial ini yang dipersiapkan dan dikembangkan untuk mendukung upaya pemerintah dalam program swasembada garam secara nasional,” tutur Toda.*