Dawainusa.com —¬†Indonesia dipastikan akan memasuki jurang resesi ekonomi bulan depan jika lagi-lagi mengalami pertumbuhan ekonomi negatif pada kuartal III 2020.

Pada kuartal II 2020, pertumbuhan ekonomi Indonesia mengalami konstraksi sebesar 5,32 persen tahun ke tahun (yoy), terbesar sejak krisis 1998.

Pertumbuhan negatif ekonomi Indonesia kuartal II ini memperlebar pertumbuhan minus pada kuartal I sebesar 2,97 persen yoy. Jika terus berlanjut, maka dipastikan Indonesia akan mengalami resesi ekonomi pada September mendatang.

Indikator utama yang menyebabkan resesi ekonomi adalah konsumsi rumah tangga yang rendah akibat lesunya daya beli dan ekspor dan impor yang tumbuh minus.

Dengan resesi ekonomi, Indonesia mengikuti puluhan negara lain yang telah lebih dahulu mengalami resesi akibat pukulan virus corona. Resesi sendiri adalah kondisi di mana pertumbuhan ekonomi minus dua kuartal berturut-turut.

Baca Juga: Ini 7 Bantuan Pemerintah untuk Masyarakat Selama Pandemi Covid-19

Ahli: Dampaknya adalah PHK Besar-Besaran

Dihimpun Dawainusa.com, dampak resesi ekonomi memang begitu mengerikan, apalagi terjadi di tengah pandemi virus corona.

Sejumlah ekonomi telah memprediksi beberapa dampak dominan akibat resesi ekonomi. Salah satunya adalah pemutusan hubungan kerja (PHK) massal. Selain itu, pekerja yang memiliki kontrak jangka pendek kemungkinan tidak diperpanjang.

“Tentu saja perusahaan-perusahaan yang punya kontrak jangka pendek atau kontraknya terbatas misalnya, dia tidak akan dilanjutkan untuk perpanjangan kontrak. Kemungkinan itu terutama bagi industri-industri yang terpengaruh sampai akhir tahun bahkan sampai tahun depan seperti industri penerbangan dan sebagainya itu yang saya kira masih relatif terkendala,” kata Tauhid Ahmad, Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) kepada Detik.com, Senin (31/8).

Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal pun menandaskan, PHK massal terjadi karena menurunnya konsumsi masyarakat.

Dengan demikian, para pengusaha pun terpaksa harus melakukan efisiensi terhadap karyawannya untuk mengurangi beban operasional.

“Masyarakat bawah daya belinya turun, masyarakat atas punya uang tapi dia berhati-hati dalam spending sehingga pelaku usaha itu kan bergantung kepada pembelian konsumen. Kalau yang beli sepi maka pelaku usaha, produsen-produsen, pabrik-pabrik yang jualan pasti akan turun dari sisi penjualan, kalau turun terpaksa dia melakukan efisiensi salah satunya PHK karyawan,” terangnya.

Dengan PHK besar-besaran terjadi, kata dia, maka hampir pasti menambah jumlah pengangguran. Demikian pula, jumlah masyarakat miskin akan bertambah.

Namun demikian, Tauhid Ahmad menjelaskan, resesi memang tidak segawat depresi atau krisis ekonomi. Namun dampaknya juga bisa dirasakan oleh masyarakat.

Untuk itu, ia menyarankan untuk menunda seluruh pengeluaran untuk kegiatan di luar kebutuhan pokok, seperti liburan. Lalu uangnya bisa dialihkan untuk berinvestasi.

Ia juga menyarankan masyarakat yang pendapatannya berkurang ada baiknya mulai fokus menata kewajiban utang jika memiliki cicilan.

Caranya, dengan memanfaatkan stimulus yang diberikan pemerintah seperti restrukturisasi utang maupun cicilan kendaraan.

Kemudian, bagi pengusaha mikro yang pendapatannya tergerus dan memiliki cicilan utang modal usaha, ia mengimbau untuk segera mencari pinjaman yang bunganya lebih murah. Pemerintah juga sudah menyediakan fasilitas bantuan pinjaman untuk UMKM dengan bunga yang sangat rendah bahkan ditanggung pemerintah.

Selain itu, bantuan sosial dan insentif yang digelontorkan pemerintah selama pandemi Covid-19 ini diharapkan digunakan dengan sebaik-baiknya.

Baca Juga: Pemerintah Akan Memberikan Bantuan Kuota Internet untuk Guru dan Siswa

Pandangan Para Menteri Jokowi

Menanggapi paceklik kondisi perekonomian Indonesia bulan depan, sejumlah menteri Presiden Joko Widodo pun turut bersuara.

Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan Mahfud MD, misalnya, baru saja mengeluarkan pernyataan terkait resesi ekonomi di Indonesia bulan depan.

Pakat hukum tatanegara itu yakin Indonesia akan dilanda resesi ekonomi. Kendati demikian, resesi itu tidak akan membuat Indonesia mengalami krisis ekonomi.

Ia mengatakan, imbauan Pemerintah untuk hidup normal kembali dengan menyadari Covid-19 kurang efektif karena saat ini masih banyak masyarakat yang tidak mengenakan masker, berkerumun seakan-akan tidak terjadi apa-apa.

Padahal virus corona, kata dia, sangat nyata sebagai musuh atau dapat membahayakan kehidupan sehari-hari masyarakat dunia.

“Sementara kehidupan ekonomi turun terus. Bulan depan hampir dapat dipastikan 99,9 persen akan terjadi resesi ekonomi di Indonesia,” katanya saat memberikan sambutan dalam acara temu seniman dan budayawan Yogya di Warung Bu Ageng, Jalan Tirtodipuran, Kecamatan Mantrijeron, Kota Yogyakarta, Sabtu (29/8).

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati di sisi lain masih percaya harapan bahwa ekonomi Indonesia tidak terkonstraksi. Dia menegaskan pemerintah tidak akan mengibarkan bendera putih terhadap resesi selama kuartal III-2020 belum berakhir.

“Jangan menyerah dulu, kan masih ada 1 setengah bulan, jadi kita upayakan,” ujarnya di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (26/8) lalu.

Menurut Sri Mulyani, konsumsi masyarakat yang menjadi motor roda ekonomi RI masih bisa diharapkan. Apa lagi masyarakat sudah mulai beraktivitas di era new normal.

Meskipun dalam beberapa kesempatan Sri Mulyani memberikan gambaran tentang risiko resesi yang akan menimpa ekonomi RI. Dia juga terkadang memberikan sinyal-sinyal bahwa ekonomi RI akan terjun ke jurang resesi.

Sementara itu, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto memiliki pandangan sendiri mengenai resesi. Menurutnya jika pertumbuhan ekonomi di kuartal III 2020 minus namun angkanya lebih kecil dari kontraksi kuartal sebelumnya maka tidak terjadi resesi.

“Indonesia di kuartal II-2020 pertumbuhan ekonominya -5,3%. Secara teori masuk ke arena resesi kalau pertumbuhan ekonomi 2 kuartal berturut-turut semakin turun. Tapi kalau ada perbaikan dari -5,3% ke angka lebih rendah, itu technically bukan resesi,” katanya dalam acara Kampanye Penggunaan Masker di Kawasan Stadion Utama GBK Senayan, Jakarta, Minggu (30/8) kemarin.

Namun Airlangga mengaku enggan mempersoalkan lebih jauh terkait resesi. Menurutnya jauh lebih penting saat ini menjaga momentum pertumbuhan ketimbang meributkan apakah RI masuk ke jurang resesi atau tidak.

“Hari ini kita tidak persoalkan itu resesi atau bukan resesi. Tetapi yang paling penting kita jaga kehidupan masyarakat dengan social safety net dan kemudian kita menjaga agar pertumbuhan tetap terlihat,” pungkasnya.

Menko Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan pun buka suara soal jurang menganga yang akan dilewati Indonesia akibat pandemi mematikan ini.

Ia cenderung memiliki pandangan tentang kesiapan Indonesia menghadapi resesi ekonomi. Dia yakni Indonesia siap jika akhirnya jatuh ke jurang resesi ekonomi.

“Ya kalau resesi terjadi ya bisa saja terjadi. Tapi kita siap menghadapi itu semua karena infrastruktur yang kita buat, program yang kita buat, eksekusi yang kita buat kita feel comfortable,” katanya saat pidato ilmiah dalam rangka memperingati Dies Natalis IV Sekolah Kajian Stratejik dan Global (SKSG), Jumat (14/8) lalu.

Namun dia juga menegaskan optimisme terhadap perekonomian Indonesia harus tetap dijaga. Dia harap masyarakat tidak ditakut-takuti terkait ancaman tersebut.

“Kunci mendorong perekonomian di Kuartal III adalah kompak, kompak bekerja sama semangat inovasi dan jaga optimisme. Jangan sampai ditakut-takuti kalau ada sampai negatif di kuartal III ini,” ungkap Luhut, dalam peluncuran program Karya Kreatif Indonesia Bank Indonesia, Minggu (30/8).*