Dawainusa.com – Sebanyak 145 imam Katolik di Papua mengeluarkan 10 seruan yang terkait dengan berbagai macam peristiwa di wilayah tersebut.

Para Imam Katolik tersebut menyampaikan seruan resminya baik kepada pemerintah, pemimpin agama dan juga aparat keamanan.

Seruan para para pastor Katolik ini terjadi pada hari peringatan Hak Asasi Manusia (HAM), Kamis (10/12/2020).

Baca jugaPakar Komunikasi Tanggapi Pengakuan Gisel soal HP-nya yang Hilang 3 Tahun Lalu

10 Seruan Imam Katolik Papua

Lantas seperti apakah seruan dari 147 Imam Katolik di Papua tersebut? Berikut ulasannya sebagaimana dilansir Dawainusa.com dari papua.inews.id.

1. Kepada kubu TNI/POLRI dan kubu organisasi Papua merdeka (OPM) agar menghentikan kekerasan bersenjata dan membuka ruang hati untuk berunding dalam dialog, dimediasi oleh negara atau kelompok independen.

2. Kepada Bapak Presiden, supaya menggelar pertemuan dengan Kapolri dan Panglima TNI untuk mengevaluasi dampak dari penambahan pasukan ke Tanah Papua.

3. Kepada MRP dan DPRD Papua dan Papua Barat segera menetapkan regulasi-regulasi yang lebih memihak kepada masyarkat asli Papua.

4. Kepada Gubernur Papua Lukas Enembe, kami meminta agar Bapak mencabut Rekomendasi WIUPK Blok Wabu di Intan Jaya. Sebab tempat itu menjadi penyebab konflik.

5. Kepada Ketua Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI) mengapa tidak membahas secara holistik, serius dan tuntas mengenai konflik terlama di Tanah Papua dalam rapat tahunan KWI?

Para Imam Katolik Papua
Para Imam Katolik se-Papua mengeluarkan seruan resmi untuk mengantisipasi konflik/iNews.id

Baca jugaSoal Kasus Kerumunan di Petamburan, Polisi Tetapkan Rizieq Shihab Sebagai Tersangka

6. Kepada Konferensi Episkopal Papua, kami merindukan sikap yang tegas dan penuh keberpihakan terhadap masyarakat di Papua serta warga lainnya di menjadi korban kekerasan dalam konflik di daerah tersebut.

7. Kepada Pemerintah Indonesia dan para Investor yang akan masuk ke Papua. Tanah Papua bukanlah Tanah kosong dan tak bertuan. Pemilik Tanah Papua yakni masyarakat asli Papua terbagi dalam tujuh wilayah adat.

8. Kepada kelompok pemicu konflik, yakni KNPB, Barisan Merah Putih, Bintang Kejora, Pro NKRI dan Pro Papua Merdeka, mari selesaikan masalah dengan cara bermartabat. Perbedaan ideologi dapat selesai dengan saling menghormati untuk mencari solusi.

9. Kepada para pemimpin daerah baik gubernur, wali kota dan bupati se-tanah Papua, kami mendoakan agar Saudara dapat memimpin semua masyarakat di daerah ini dengan adil, dapat hidup berdampingan secara damai dan sejahtera.

10. Kepada para pengambil kebijakan migrasi. Mesti ada kebijakan yang jelas mengenai migrasi. Semisal ada pembatasan atau dihentikan, agar tidak membuat renggang hubungan pendatang dan masyarakat asli Papua.*