Ilmuwan Temukan Zat Kimia yang Menggenjot Gairah Wanita di Ranjang

Ilmuwan Temukan Zat Kimia yang Menggenjot Gairah Wanita di Ranjang

Ilmuwan menemukan sebuah zat kimia pada otak yang mampu membantu wanita untuk mencapai orgasme lebih baik. Zat ini disebut kisspeptin atau kiss hormone. (Ilustrasi - sheknows.com )

LIFE STYLE, dawainusa.com Kondisi sang istri yang tidak bergairah di ranjang, seringkali menjadi keluhan para suami. Memang, ada banyak faktor yang mempengaruhi gairah seksual perempuan ketika di ranjang, seperti memiliki momongan.

Namun, kondisi ini berbeda degan para pria yang akan berlomba mencari obat kuat demi hubungan intim yang memuaskan. Lantas, apa yang seharusnya dilakukan perempuan dengan kondisi seperti ini?

Memang sejauh ini, tidak ada obat kuat untuk wanita yang bisa menambah gairah seks. Namun, ilmuwan menemukan sebuah zat kimia pada otak yang mampu membantu wanita untuk mencapai orgasme lebih baik. Zat ini disebut kisspeptin atau kiss hormone. Kisspeptin biasa dihubungkan dengan pubertas dan kesuburan.

Baca juga: Para Peneliti Ungkap Alasan Pria Menyukai Payudara Wanita

Kisspeptin memiliki peran penting dalam memulai sekresi hormon pelepas gonadotropin (GnRH) pada masa pubertas. Zat ini terletak pada kromosom yang ditranskripsikan di otak, kelenjar adrenal dan pankreas.

Dalam sebuah studi yang dilakukan Profesor Julie Bakker dari Universitas Liege, Belgia, menemukan bahwa zat bisa bermanfaat bagi wanita yang mengalami gairah seks rendah atau hypoactive sexual desire disorder (HSDD). Meski demikian, potensi dari kisspeptin ini belum ditemukan dengan jelas.

Berbeda dengan hormon testosteron, pada wanita, hormon ini bisa meningkatkan hasrat. Bagaimanapun, ini dapat mengakibatkan sedikit efek layaknya pria yakni tumbuhnya rambut pada seputaran wajah dan suara yang lebih dalam.

“Tak ada pengobatan yang baik dan tersedia untuk wanita yang mengalami gairah seks rendah. Temuan bahwa kisspeptin mengontrol ketertarikan dan gairah seksual membuka kemungkinan baru yang menarik untuk pengembangan obat untuk gairah seks rendah,” tutur Julie seperti dikutip Daily Mail (26/1).

Libatkan Tikus Betina

Dalam studi tersebut, Profesor Julie bersama ilmuwan lain melibatkan tikus betina untuk melihat pengaruh kisspeptin baik pada ketertarikan maupun tingkah laku seksual tikus. Mereka menemukan bahwa feromon, sebuah aroma khas hewan, dikeluarkan oleh sel otak tikus jantan, kemudian mengirim sinyal pada neuron. Sinyal ini menimbulkan rasa tertarik pada tikus betina.

Neuron pun mengirim sinyal pada sel yang memproduksi neurotransmitter nitric oxide, yang memicu tingkah laku seksual tikus. Selain untuk menarik perhatian tikus betina, tikus yang merupakan hewan nokturnal (aktif di malam hari) menggunakan feromon untuk mengidentifikasi partner mereka.

Baca juga: Bukan Hanya Wanita, Ini Gejala Kanker Payudara pada Pria

Meski tak ada data pasti untuk kasus di Indonesia, tapi di Inggris dan Amerika Serikat, kasus HSDD memengaruhi 40 persen wanita. Bahkan 5 – 15 persen wanita bisa mengalaminya secara berkelanjutan. Temuan yang dipublikasikan di jurnal Nature Communication ini diharap mampu membuka peluang akan adanya obat untuk HSDD.

Profesor Ulrich Boehm, salah satu peneliti, memberikan catatan bahwa hingga kini hanya sedikit informasi tentang bagaimana otak mengikat tiga hal yakni, ovulasi, ketertarikan dan seks.

“Kini kita tahu bahwa satu molekul, kisspeptin, mengontrol semua aspek melalui sirkuit otak yang berbeda dan berjalan paralel satu sama lain,” tambah akademisi dari Universitas Saarland, Jerman ini.*