Ijinkan Perempuan Kendarai Motor, Reformasi Kebijakan Konservatif Saudi

Ijinkan Perempuan Kendarai Motor, Reformasi Kebijakan Konservatif Saudi

Perempuan di Arab Saudi akan diperkenankan mengendarai sepeda motor dan mengemudikan truk. Negara tersebut akan secara resmi mengizinkan perempuan mengemudikan kendaraan pada 2018 nanti. (Ilustrasi perempuan Saudi kendarai motor – ist)

DUBAI, dawainusa.com Pada 2018, Arab Saudi akan merubah citra konservatifnya melalui reformasi kebijakan. Salah satunya dengan mengizinkan kaum perempuan mengendarai sepeda motor dan mengemudikan truk.

“Kami akan mengizinkan kaum perempuan mengendarai sepeda motor dan mengemudikan truk. Ada aturan yang setara bagi kaum laki-laki dan kaum perempuan,” demikian pernyataan Dirjen Lalu Lintas Arab Saudi, dilansir SkyNews, Sabtu (30/12) lalu.

Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz As-Saud pada September lalu memerintahkan agar perempuan diizinkan mengemudikan mobil. Selama ini, Arab Saudi merupakan satu-satunya negara di dunia yang menerapkan larangan tersebut.

Baca juga: Soroti Imigran dan Pengungsi, Paus Fransiskus: Jangan Padamkan Harapan di Hati Mereka

Keputusan kerajaan Saudi ini akan dinyatakan dalam Undang-Undang. Dalam Undang-Undang mengemudi tersebut kedudukan pria dan perempuan setara. Undang-Undang itu nantinya juga mengatur apabila perempuan terlibat dalam kecelakaan lalu lintas maka akan ditangani pusat khusus pelanggaran perempuan.

Beberapa Dasawarsa Dibatasi

September 2017 lalu, Raja Salman mengeluarkan dekrit perempuan diizinkan mengemudi pada Juni 2018 nanti. Penghapusan larangan mengemudi tersebut merupakan bagian dari reformasi pemerintahan Raja Salman.

Direktur Human Rights Watch (HRW) Kenneth Roth mengatakan, Arab Saudi memiliki jalan yang panjang sebelum pria dan wanita diperlakukan sama. Kaum hawa kerap dilarang untuk berkendara. Keputusan Raja Salman tersebut mengakhiri diskriminasi terhadap wanita.

Baca juga: Jangan Biarkan Politik Identitas di DKI Terjadi Dalam Pilkada Serentak 2018

Sebelumnya, pada 1990, 47 wanita yang diketuai oleh Maheda al Ajroush pernah melakukan aksi penolakan. Mereka nekat mengendarai mobil di pusat kota Riyadh. Namun, atas aksi nekat tersebut, mereka kemudian dipecat dari pekerjaan dan dikecam di sejumlah surat kabar. Bahkan, mereka juga dilarang untuk bepergian ke luar negeri.

Aktivis perempuan lainnya juga terus melakukan kampanye untuk bisa mendapatkan izin mengemudi. Mereka mengajukan petisi kepada raja dan mengunggah video dirinya berkendara di media sosial.

Selama ini, menurut pemerintah, pembiaran muslimah menyetir sendiri sangat rentan dengan pelepasan jilbab. Padahal, kewajiban menutup aurat menjadi ajaran agama yang utama dan sangat diperhatikan.

Berangkat dari pandangan tersebut, Kementerian Dalam Negeri Arab Saudi mengeluarkan larangan berkendara bagi kaum perempuan. Ketentuan ini mengikat umum dan para pelanggar dikenakan sanksi.

Mendapat Respon Positif

Seperti diketahui, Arab Saudi merupakan salah satu negara importir kendaraan terbesar. Negara ini berada di peringkat 21 dari 198 negara pasar otomotif dunia. Prediksinya, penarikan larangan ini berpotensi mendatangkan 9 juta pengemudi baru selama beberapa tahun ke depan.

Keputusan itu pun disambut dengan gembira oleh kaum perempuan di Arab Saudi. Keputusan bersejarah yang mengizinkan perempuan mengemudi dari bulan Juni 2018 ini juga mendapat banyak sambutan dari masyarakat internasional.

Baca juga: Kapolri: Tahun 2017 Kontak Senjata dan Bentrok Massa Paling Banyak di Papua

Pemerintah berjanji, keputusan yang diambil tidak sekedar aturan semata. Negara berkomitmen mengawal pelaksanaan keputusan tersebut.

Adapun keputusan ini merupakan perubahan paling signifikan terhadap tatanan sosial konservatif di Arab Saudi yang secara ketat membatasi peran gender dan keterlibatan perempuan.* (AK)