Idealisme (Pasca) Mahasiswa

Idealisme (Pasca) Mahasiswa

Idealisme adalah kemewahan terakhir yang dimiliki oleh seorang pemuda. Idealisme itulah yang menjadi landasan seseorang untuk bersikap dan bertindak. (Foto: Gedi Gaut)

SENANDUNG, dawainusa.com “Idealisme adalah kemewahan terakhir yang dimiliki oleh seorang pemuda. Idealisme itulah yang menjadi landasan seseorang untuk bersikap dan bertindak”.

Term idealisme pertama kali digunakan oleh Leibintz, seorang filsuf Jerman keturunan Sorbia pada awal abad ke 18. Ia menerapkan term tersebut pada seluruh karya Plato. Tetapi disini penulis tidak membahas lebih jauh tentang Leibnitz dan bagaimana dia menerapkan istilah idealisme pada karya Plato, penulis ingin membedah ‘tubuh’ idealisme yang dimiliki pemuda pasca mahasiswa.

Baca juga: Setya Novanto, Dari Kasus Korupsi PON Riau hingga Dugaan Korupsi e-KTP

Idealisme terbentuk dari pendidikan dan lingkungan yang memengaruhi seseorang, baik itu lingkungan terkecil (keluarga) hingga lingkungan yang luas cakupannya. Berawal dari pemikiran dan idealisme, kemudian terejawantahkan ke dalam sikap, karakter, hingga pada akhirnya akan membentuk kebiasaan. Dari kebiasaan itulah yang nanti akan menentukan nasib seseorang.

Idealisme adalah kemewahan terakhir yang dimiliki oleh seorang pemuda. Idealisme itulah yang menjadi landasan seseorang untuk bersikap dan bertindak.

Sebagai makhluk sosial, kita tidak dapat dilepaskan dari kehidupan sosial kemasyarakatan. Disana, nilai-nilai dasar pola kehidupan kita mulai dibenturkan pada realita-realita sosial yang terkadang tidak sejalan dengan prinsip kita. Disana pula, lunturnya idealisme juga mungkin tidak dapat terhindarkan lagi.

Ada manusia yang mampu bertahan mempertahankan idealismenya sehingga ia disebut dengan manusia idealis, tapi ada pula manusia yang akhirnya terbawa arus lingkungan sehingga pada akhirnya mengantarkan ia menjadi seorang manusia realistis. Banyak manusia yang pada awalnya memiliki idealisme yang sangat tinggi, namun dalam sekejap saja ia gugur dan menyebabkan ia menjadi seorang manusia realistis.

Kampus menjadi bagian dari pembentukan karakter dan idealisme seorang pemuda. Bagaimana tidak? Kampus menjadi tempat bagi kita untuk mengasah berbagai keahlian, mengembangkan minat dan bakat, mematangkan emosi, belajar mengorganisasi sesuatu, dan sebagai tempat pendewasaan diri.

Mengingat fungsi, peran, dan posisi mahasiswa dalam kehidupan bermasyarakat, sudah menjadi peran mahasiswa sebagai “jembatan” penghubung antara rakyat dan pemerintah. Dalam menjalankan fungsi, peran, dan posisinya ini, sudah sepatutnya kita menjunjung tinggi idealisme kita.

Baca juga: Novanto Ditahan KPK, Ini Kata Sejumlah Elit Golkar

Detik-detik kejatuhan Soeharto

Detik-detik kejatuhan Soeharto (Foto: Bersatoe.com)

Mari kita tengok realita bangsa kita, ketika aparat hukum sudah termanipulasi, pemerintah sudah tidak berpihak lagi kepada rakyat, oknum pemerintahan banyak yang melakukan tindak pidana korupsi, maka disitulah sesungguhnya peran mahasiswa sebagai agent of change untuk mengubah segala keterpurukan.

Dunia kemahasiswaan memang penuh dengan cerita perjuangannya membangun idealisme. Namun, bagaimanakan nasib dari idealisme itu sendiri dalam kehidupan pasca kampus? Kita tentu tahu para tokoh negeri ini seperti Soekarno, Fadel Muhammad, Rizal Ramli, Pramono Anung, Hatta Rajasa, Fadli Zon, dan sejumlah tokoh nasional lainnya yang sewaktu menjadi mahasiswa dulu dikenal sebagai mahasiswa yang idealis.

Namun, sebagian dari mereka ada yang masih memiliki idealisme yang kuat sehingga terus menorehkan sejarah, tapi juga ada yang harus menjadi manusia realistis yang menyerah pada tantangan.

Dari sinilah, kita belajar bahwa bagaimana agar kita bisa terus mempertahankan idealisme kita dalam kehidupan pasca mahasiswa (setelah lulus). Sudah tidak asing lagi bagi kita, banyak tokoh yang dulunya idealis tapi harus menyerah pada setumpuk uang dan janji jabatan.

Ada yang sewaktu menjadi mahasiswa gencar meneriakkan gerakan anti-korupsi, tapi ketika telah menjadi pejabat publik malah ditangkap sebagai koruptor. Lalu, mau dibawa kemana negeri ini jika para manusia-manusia idealis telah terbeli oleh janji manis uang dan jabatan? Bagaimana nasib bangsa ini jika manusia-manusia idealis telah berubah menjadi manusia realistis yang tidak lagi punya impian?

Oleh karena itu, nasib dan arah gerak bangsa ini terletak pada kita semua sebagai pemuda, baik yang sudah sarjana maupun yang masih bergelut dengan status kesarjanaannya. Kitalah yang pada nantinya akan mencetak sejarah baru bagi bangsa kita.

Bangsa Super Power hanya bisa dibentuk oleh bangsa yang memiliki IPTEK yang tinggi dan IMTAK yang luhur. Selain memperkuat fondasi akal dan ilmu pengetahuan, kita juga dituntut untuk memperkuat fondasi IMTAK kita. Pada akhirnya, kita lah pencetak sejarah itu!*

*Oleh : Gedi Gaut (Alumnus Ilmu Administrasi Publik Fisip UNDANA Kupang. Sekarang bergabung di LSM Gugah Nurani Indonesia di Manggarai)