Seorang Ibu Muda Rela Lakukan Ini Demi Biaya Pengobatan Buah Hati

Seorang Ibu Muda Rela Lakukan Ini Demi Biaya Pengobatan Buah Hati

Seorang ibu muda di Provinsi Guangdong, China, rela menjual ASI-nya untuk biaya perawatan sang buah hati. (Ilustrasi jual ASI - vamale.com)

BEIJING, dawainusa.com Seperti kata pepatah “kasih ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang galah”. Itulah yang dilakukan seorang ibu muda di Provinsi Guangdong, China, yang rela menjual ASI-nya untuk biaya perawatan sang buah hati.

Pasalnya, sang buah hati terus terbaring sakit sejak dilahirkan pada Desember lalu. Adapun sang bayi malang tersebut menderita demam terus-terusan. Meski organ vitalnya sudah stabil, si bayi telah didiagnosa mengalami syok septik, meningitis purulen, dan kondisi lain yang sangat serius.

Dilansir BBC, Kamis (1/02), pada tanggal 26 Januari lalu, pihak rumah sakit tempat sang bayi dirawat menyatakan perawatan sang bayi tidak bisa ditunda. Jika tidak, penyakit yang diidapnya bisa mengancam nyawa sang bayi. Sang ibu yang bernama Tang Jianling  tak tega.

Baca juga: Langkah Lanjutan Pemerintah Atasi KLB di Asmat-Papua

Untuk diketahui, bayi yang menderita sakit itu memiliki kembaran. Kembarannya tersebut dalam kondisi sehat dan terus digendong sang ibu ketika menjajakan ASI di trotoar di kota itu.

Harga ASI: Satu Menit Sepuluh Yuan

Keputusan ibu muda tersebut menjajakan Asi tersebut karena situasi ekonomi yang mencekik keluarganya. Namun, himpitan ekonomi itu seakan-akan kalah dengan kekuatan cintanya terhadap sang buah hati.

Ia menjual Asi dengan harga 10 yuan atau sekitar Rp 21.000 dalam satu menit untuk satu orang bayi. Terkait harga tersebut diketahui dari selembaran foto yang ditemukan di jalan Shenzhen, Provinsi Guangdong, China pada minggu lalu.

Baca juga: Demi Kebahagian Ibunda, Remaja Ini Lelang Keperawanannya

Dalam foto tersebut ditulis demikian. “Jual ASI untuk selamatkan putri saya. Sepuluh yuan (21 ribu rupiah) selama satu menit,” tulisnya.

Selain itu ada juga tulisan lain. “Halo, saya seorang ibu berusia 24 tahun yang sehat dan telah melahirkan sepasang anak perempuan kembar. Saat ini, saya sangat membutuhkan uang untuk membayar perawatan medis anak saya yang sakit parah. Saya bersedia memberikan ASI di tempat. Orang-orang dari segala usia diterima. Terima kasih atas dukungannya,” tulisnya.

Di bagian bawah selebaran foto tersebut terpampang foto sang buah hati yang sakit, catatan rumah sakit, dan sertifikat resmi bantuan orang miskin.

Sementara itu, dari telusuran media lokal di kota itu mengungkapkan perempua 24 tahun itu bersama suaminya bekerja di Shenzhen sebagai pekerja migran selama 16 tahun terakhir. Keduanya berasal dari kota berbeda. Sang ibu muda itu berasal dari Guangxi dan sang suami yang bernama Luo Xingming berasal dari Sichuan.

Fenomena Jual ASI

Terlepas dari alasan para ibu menjual ASI, entah karena tuntutan ekonomi atau karena tuntutan kesehatan, fenomena jual ASI bukan hal baru. Bahkan dengan kehadiran teknologi internet, fenomena tersebut memiliki lapak tersendiri.

Dilansir wolipop.detik.com, pada tahun 2011 lalu, ada situs yang dikenal dengan Onlythebreast.com. Situs tersebut menjadi forum para ibu untuk menjual dan membeli ASI. Situs itu didirikan oleh pasangan Glenn and Chelly Snow, sekitar tahun 2010 lalu di Amerika.

Baca juga: Di Papua, Perkawinan Anak Usia 10-16 Tahun Sangat Tinggi

Jenna Mosbarger asal Arizona, Amerika Serikat, termasuk ibu yang menjual ASI-nya di situs tersebut. Dia menjualnya, setelah mulai kembali bekerja dan rajin memompa ASI. Awalnya, Mosbarger menjadi donor ASI untuk National Milk Bank dan Prolacta Bioscience. Dia mendonasikan sekitar 1.000 ons ASI.

Namun kemudian dia sadar, dia bisa mendapatkan uang dari ASI nya tersebut dan tetap dapat membantu bayi yang membutuhkan. Dia pun menjual ASI nya itu dengan harga US$ 2 per ons untuk ASI beku dan US$ 5 untuk ASI segar. Dalam sebulan, Mosbarger bisa mendapatkan keuntungan sekitar US$ 1.500.

Meskipun informasi dan aturan yang diberikan sudah cukup jelas, menurut Dr. Richard J. Schanler, seorang pakar bayi yang juga Chairman of the Section On Breastfeeding, American Academy of Pediatrics, bisnis ASI itu tetap berbahaya. Dikatakannya, memberikan bayi ASI dari orang yang tidak dikenal berisiko membuatnya terkena infeksi atau penyakit.

Tak hanya itu saja, ASI yang diberikan juga berisiko mengandung alkohol, obat-obatan atau terkontaminasi bakteri. Ada juga risiko penipuan jika paket yang diterima ternyata bukan berisi ASI.*