Dawainusa.com — Nasib naas menimpa Gusti Ayu Arianti (23), warga Pejanggik, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat. Ia kehilangan bayinya karena harus menjalani rapid test saat hendak melahirkan, Selasa (18/8) lalu.

Arianti menyesali peristiwa itu terjadi karena sebenarnya petugas medis dapat menangani terlebih dahulu tanpa harus menjalani pemeriksaan Covid-19.

Lagipula, dalam pemeriksaan kehamilan yang terakhir, petugas medis tidak menginformasikan untuk mengantongi surat bebas Covid-19 saat melahirkan.

Jika segera ditangani petugas medis di Rumah Sakit Angkatan Darat (RSAD) Wira Bhakti Mataram, maka bayinya pasti masih selamat.

Sebab, ia telah mengalami kesakitan sejak masih berada di rumah. Sementara ketubannya telah pecah dan darah terus mengalir.

Namun pihak rumah sakit bersikukuh agar ia harus menjalani pemeriksaan, sedangkan rumah sakit itu sendiri tidak memiliki fasilitas rapid test. Ia dan keluarganya pun lantas memeriksakan diri ke puskesmas terdekat.

“Ketuban saya sudah pecah, darah saya sudah banyak yang keluar dari rumah, tapi saya tidak ditangani, kata petugas saya harus rapid test dulu, tapi di RSAD tidak ada fasilitas rapid test, saya diminta ke puskesmas untuk rapid test,” kata Arianti kepada Kompas.com di rumahnya, Rabu (19/8) malam.

Arianti pun mengaku kecewa dengan perlakuan pihak rumah sakit yang lebih mementingkan prosedur medis ketimbang keselamatan bayinya.

Jika petugas medis telah memberitahukannya sejak awal, maka keluarganya pun sudah pasti akan melengkapi berkasi-berkas itu sebelum hari kelahiran. Sebab, tidak semua ibu hamil mengetahui prosedur kesehatan tersebut.

“Saya itu kecewa, kenapa prosedur atau aturan ketika kami akan melahirkan tidak diberitahu bahwa wajib membawa hasil rapid test,” ungkapnya.

Baca Juga: Tak Mampu Bayar Swab, Ibu Hamil Ini Kehilangan Bayi dalam Kandungannya

Kronologi Kejadian yang Menimpa Arianti

Dilansir Dawainusa.com, peristiwa naas yang menyebabkan kematian buah hati kedua Arianti itu terjadi pada Selasa (18/8) pagi.

Mula-mula, Arianti menduga ketubannya pecah karena cairan yang disertai darah banyak keluar. Bersama suami dan ibunya, Jero Fatmawati, mereka pun segera berangkat menuju RSAD Wira Bhakti Mataram.

Mereka memilih rumah sakit itu karena putri pertamanya juga lahir di sana.

Sampai di rumah sakit, perut Arianti semakin sakit. Ia meminta petugas jaga di RSAD segera menanganinya karena sudah banyak darah yang keluar.

Namun, petugas justru memintanya melakukan rapid test di luar rumah sakit atau puskesmas terdekat, karena rumah sakit tidak memiliki alat rapid test.

“Mereka minta saya ke puskesmas terdekat dengan tempat tinggal saya, padahal saya sudah memohon agar dilihat kondisi kandungan saya,” kata Arianti sedih.

Padahal, kata Arianti, petugas medis rumah sakit bisa terlebih dahulu memeriksa kondisi kandungannya asalkan mengenakan alat pelindung diri (APD). Apalagi, dirinya tak memiliki gejala sakit seperti pasien Covid-19.

Karena didesak harus menjalani rapid test, Arianti bersama suami dan ibunya pulang ke rumah mengganti pembalut yang penuh cairan.

Mereka lalu menuju Puskesmas Pagesangan untuk melakukan rapid test. Di sana, Arianti sempat masuk ke ruang bersalin puskesmas dan memohon agar kandungannya diperiksa.

Ia juga menjelaskan ada cairan dan darah yang telah keluar. Akan tetapi, petugas puskesmas memintanya sabar dan harus melakukan rapid test dulu.

Dalam kondisi yang semakin lemah, Arianti diminta mengikuti antrean.

Suaminya pun protes kepada petugas puskesmas karena istrinya akan melahirkan. Petugas lalu mengizinkannya mendaftar dulu tanpa ikut antrean.

Karena kesakitan, Arianti kembali berusaha meminta dokter di ruang bersalin puskesmas untuk mengecek kandungannya.

“Dokternya tanya, tadi sudah keluar air dan darah, dia bilang belum waktunya tanpa memeriksa saya, saya diminta tunggu hasil rapid test dulu,” kata Arianti.

Meski sudah memohon, tim medis di puskesmas tak bersedia menangananinya karena hasil rapid test Covid-19 belum keluar.

Hasil rapid test sendiri baru akan keluar dalam 30 menit. Ia bahkan pasrah jika sampai melahirkan di puskesmas.

Karena tidak tahan, Arianti pulang mengganti pembalut dan meminta ibunya menunggu hasil rapid test di Puskesmas Pagesangan.

Saat hendak meminta surat rujukan agar ditangani di RSAD Mataram, petugas puskesmas tak bisa memberikan karena dirinya pulang mengganti pembalut.

Setelah memiliki surat hasil rapid test Covid-19 dari puskesmas, keluarga memilih membawa Arianti ke Rumah Sakit Permata Hati.

Tiba di RS Permata Hati, surat keterangan rapid test Covid-19 tak diakui karena tak melampirkan alat rapid test Covid-19.

Arianti melakukan tes ulang. Tim medis di RS Permata Hati memeriksa kandungan Arianti. Awalnya, dokter menyebutkan, detak jantung janinnya lemah. Namun perlahan mulai kembali normal.

Arianti pun lega setelah mengetahui bahwa kondisnya janinnya aman. Ia mempersiapkan diri menjalani persalinan dengan operasi sesar.

Namun, setelah perjuangan yang dilakukannya, bayi laki-laki yang hendak diberi nama I Made Arsya Prasetya Jaya itu dinyatakan meninggal sejak dalam kandungan. Arianti awalnya tak bisa menerima informasi itu.

Karena, ia sempat menanyakan kondisi bayinya setelah operasi kepada dokter. Dokter menjawab, bayi itu sedang dipanaskan dalam inkubator.

Ketika keluarga membawa jenazah bayi laki-laki itu ke rumah duka, Arianti menghubungi suaminya lewat sambungan video call.

“Saya tak sanggup, saya tidak bisa lagi mengatakan apa-apa, saya hanya membesarkan hati istri saya,” kata suami Arianti.

Pihak keluarga tidak terima kenyataan bahwa bayi tersebut dinyatakan meninggal sejak dalam kandungan.

“Kalau memang meninggal tujuh hari lalu, kan akan berbahaya bagi ibunya, anak saya, akan ada pembusukan, tapi ini tidak demikian, bayi itu sama sekali tak berbau busuk, masih segar, seperti layaknya bayi baru lahir. Diagnosa dokter inilah yang kami pertanyakan,” kata Ketut Mahajaya, ayah kandung Arianti.

Ketut ingin masalah ini ditanggapi serius, agar tidak ada orang lain yang bernasib sama seperti anaknya.

“Kami mengikhlaskan apa yang telah terjadi, kami tidak akan menuntut, tapi kami hanya ingin ada perbaikan ke depannya, tangani dulu pasien, utamakan kemanusiaan, jangan mengutamakan rapid test dulu baru tangani pasien,” ucapnya.

Baca Juga: Kondisi Jalan Buruk, Seorang Ibu Hamil di Ende Melahirkan di Jalan

Rapid Test untuk Cegah Penularan Covid-19

Kepala Dinas Kesehatan NTB Eka Nurhandini menjelaskan, rapid test wajib dijalani ibu hamil yang hendak melahirkan untuk mencegah Covid-19.

“Memang dari Satgas Covid-19 ada surat edaran yang mengatakan bahwa direkomendasikan ibu-ibu yang akan melahirkan melakukan rapid test, karena apa, ibu hamil itu adalah orang yang rentan, yang kemungkinan tertular itu adalah ibu hamil,” katanya.

Selain itu, rapid test Covid-19 diperlukan untuk menentukan ruangan yang akan digunakan dan APD yang dipakai petugas saat menangani ibu hamil tersebut.

Jika hasil rapid test reaktif, ibu hamil harus dirawat di ruang isolasi, dipisahkan dari pasien lain.

“Kenapa diminta periksa di awal, karena persiapan dan kesiapan untuk proses kelahiran itu lebih prepare, jika reaktif ibu dan anak akan masuk ruang isolasi, petugas juga begitu akan mengunakan APD dengan level yang tinggi untuk perlindungan bagi petugas,” imbuh Eka.

Ia mengatakan bahwa hal itu merupakan landasan kebijakan sebagaimana diatur dalam surat edaran satgas Covid-19 tersebut. Kecuali ada keadaan darurat, maka diharapkan disediakan rapid test untuk keadaan darurat.

Sementara itu, Kepala Rumah Sakit RSAD Wira Bhakti Kota Mataram Yudi Akbar Manurung tidak bisa memberikan penjelasan rinci terkait kasus itu.

“Memang awalnya pasien ini ke RSAD, kemudian ke puskesmas kemudian persalinannya di Rumah Sakit Permata Hati, pasien sempat menjelaskan ada cairan yang keluar, masih pada tahap konsultasi belum melakukan pemeriksaan,” kata Yudi saat dikonfirmasi Kompas.com, Kamis (20/8).

Terkait masalah rapid test Covid-19 yang dikeluhkan pasien, Yudi mengatakan, hal itu dilakukan untuk pasien yang akan menjalani rawat inap.

“Petugas kami menjelaskan, karena yang bersangkutan pasien umum, rapid test-nya berbayar, tapi kalau yang gratis di Puskesmas dan RSUD Kota Mataram, kita sampaikan begitu dan tidak ada masalah, akhirnya dia ke puskesmas, dari puskesmas kemudian memilih ke Rumah Sakit Permata Hati,” jelasnya.*