Dawainusa.com — Pembicaraan mengenai desain logo Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia ke-75 tahun mendadak viral di media sosial beberapa hari ini. Beragam komentar mencuat soal penampakan logo terbaru HUT RI ke-75.

Pembicaraan ini menjadi ramai setelah Dewan Syariah Kota Surakarta (DSKS) dalam audiensi dengan Pemerintah Kota Solo pekan lalu mempersoalkan desain logo tersebut.

Menurut DSKS, grafis logo tersebut menyerupai simbol atau tanda salib. Grafis yang mengarah ke agama tertentu itu terpasang di beberapa tempat di Solo.

DSKS pun meminta Kementrian Sekretaris Negara menarik kembali desain logo tersebut agar tidak menimbulkan keresahan di masyarakat.

“Dari 10 alternatif yang didesan oleh Kemenseneg, ada 3 yang mirip dengan salib,” ujar Hendro Sudarsono, Humas DSKS, Jumat (7/8).

Aksi protes kemudian datang dari perwakilan AUIK Karanganyar, Jawa Tengah. Mereka mendesak agar spanduk tersebut diturunkan dan diganti desainnya. Spanduk itupun telah diturunkan oleh pemerintah setempat.

Para politikus dan pengamat pun turut nimbrung dalam pembicaraan yang sedang hangat itu. Politikus Partai Solidaritas Indonesia Guntur Romli membuat kalimat sarkastik namun masih disertai guyonan untuk menanggapi protes tersebut.

“Apakah mereka yang protes dan nuduh logo kemerdekaan juga akan protes dan haramkan layang-layang karena dilihat seperti salib? Kalau mereka diikuti, masyarakat ini akan ikutan sakit,” tulisnya di akun medsosnya, Minggu (9/8).

Sementara pendiri lembaga survei Charta Politika Yunarto Wijaya ikut memberikan komentar sarkastik mengenai protes sekelompok masyarakat tersebut.

“Menurut saya harus diteliti lebih lanjut infiltrasi dari Jepang, ada bendera Jepang yang diselipkan di tengah-tengah salib,” tulisnya di akun medsosnya, Senin (10/8).

Sebagaimana terlihat dari logo resmi yang dirilis, diketahui bahwa logo HUT RI ke-75 terdiri dari warna merah yang mendominasi dan angka 75 yang berwarna putih.

Di bagian kiri spanduk tampak angka 75 yang menunjukkan usia Indonesia merdeka. Kemudian di bawah logo itu tertulis “Indonesia Maju”. Sementara itu, di bagian kanan spanduk terlihat susunan balok bermotif yang diklaim menyerupai simbol salib.

Humas Dewan Syariah Kota Surakarta Hendro Sudarsono. Foto/TribunSolo.
Humas Dewan Syariah Kota Surakarta Hendro Sudarsono. Foto/TribunSolo.

Baca Juga: Digugat Warga Soal Corona, Istana Angkat Bicara

Istana Tanggai Isu Logo Mirip Salib

Menanggapi isu tersebut, pihak istana pun turun tangan. Tenaga ahli utama Kantor Staf Presiden Ali Mochtar Ngabalin memberi klarifikasi untuk meredam isu di masyarakat.

Ngabalin menampik isu bahwa logo kemerdekaan tahun ini mirip tanda salib. Ia meminta masyarakat tak berspekulasi macam-macam soal logo kemerdekaan RI itu. Ia menegaskan logo kemerdekaan RI bukan berbentuk salib.

“Logo ini murni dan resmi asli, bukan salib. Ini adalah sebuah karya seni yang dibuat dan dilakukan oleh teman-teman, anak-anak Indonesia yang memiliki kemampuan karya seni yang luar biasa,” tegas Ngabalin dalam sebuah video, Senin (10/8).

“Anda lihat dari sisi keindahannya, dilihat dari semangat kebersamaan yang dibangun. Jadi jauhkan dari pikiran-pikiran penuh kecurigaan, kebencian, karena apa yang dibangun ini adalah spirit untuk mendorong komitmen dari nilai-nilai Pancasila, nilai-nilai luhur yang dibangun kebersamaan,” imbuhnya.

Arti logo HUT RI ke-75 tahun 2020. Foto/Setneg.
Arti logo HUT RI ke-75 tahun 2020. Foto/Setneg.

Baca Juga: Jokowi Harap Pilkada Serentak 2020 Tak Munculkan Klaster Baru Covid-19

Sementara itu, pihak Sekretariat Negara pun telah menanggapi viralnya pembicaraan mengenai logo kemerdekaan RI yang dicurigai mirip salib.

“Arti dan makna logo dan turunan ada di pedoman visual di atas,” kata Setya Utama, Sekretaris Kemensetneg, seperti dikutip dari Detik, Senin (10/8).

Setya pun membagikan berkas “Tema dan Logo Peringatan Hari Ulang Tahun Ke-75 Kemerdekaan RI Tahun 2020 & Pedoman Visual Penggunaan” kepada awak media.

Pada halama 27, tertulis maksud dari penggunaan supergrafis. Supergrafis ini terdiri dari 10 elemen yang diambil dari dekonstruksi logo 75 tahun yang dipecah lagi menjadi 10 bagian yang merepresentasikan komitmen dan nilai luhur Pancasila.

Dikatakan bahwa logo tersebut memang terinspirasi dari simbol perisai yang ada dalam lambang Garuda Pancasila. Di logo ini Indonesia digambarkan sebagai negara yang mampu memperkokoh kedaulatan dan menjaga persatuan dan kesatuan Indonesia.

Selain itu, logo ini menjadi simbol kesetaraan dan pertumbuhan ekonomi untuk rakyat Indonesia dan kerja nyata untuk mempersembahkan hasil terbaik bagi rakyat Indonesia.

“Untuk pengaplikasiannya, supergraphic ini cukup fleksibel karena bersifat abstrak yang merupakan rakitan dari 10 pecahan tadi menjadi satu kesatuan bentuk,” tulis berkas itu.

Dalam implementasinya, logo tersebut dapat digunakan untuk umbul-umbul, poster, billboard, spanduk, media sosial, gambar profil, maupun merchandise.

Menurut situs Sekretariat Negara, logo HUT ke-75 RI mempunyai tujuan di periode pemerintahan Joko Widodo dan Ma’ruf Amin yaitu pembangunan infrastruktur, SDM, menciptakan lapangan kerja hingga pemberdayaan UMKM. Indonesia Maju juga menggambarkan sebagai pedoman dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Untuk diketahui, pemerintah telah mengeluarkan peraturan khusus mengenai perayaan 17 Agustus 2020 dalam surat nomor B-492/M.Sesneg/Set/TU.00.04/07/2020 terkait Pedoman Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-75 Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) Tahun 2020 sebagai pencegahan penularan Covid-19.

Rencananya upacara kemerdekaan 17 Agustus akan digelar di Istana Kepresidenan dengan jumlah yang terbatas.

Total hanya ada 6 pejabat yang menghadiri upacara secara fisik seperti Presiden Jokowi, Wapres Ma’ruf Amin, Menteri Agama Fachrul Razi hingga Kapolri Jenderal Idham Azis.

Untuk menteri hingga kepala daerah akan mengikuti upacara secara virtual di kantor masing-masing. Sedangkan untuk setingkat pimpinan tinggi pratama hingga pegawai instansi di pusat maupun daerah diwajibkan untuk menonton siaran langsung upacara HUT RI ke-75 di rumah masing-masing.

Pemerintah juga menghimbau agar masyarakat menghentikan segala aktivitas dan berdiri tegak sempurna selama 3 menit pada 17 Agustus nanti sekitar pukul 10.17 hingga 10.20 WIB. Hal itu untuk menghormati perayaan akbar bangsa ini.*