dawainusa.com Video pertengkaran warga soal ibadah online umat Kristen di Rawa Sentul, Cikarang Utara, Bekasi, Jawa Barat, tengah viral di media sosial.

Rekaman berdurasi 30 detik itu menunjukkan kejadian pada Minggu (19/4) di mana seorang pria berbaju koko putih nampak sedang berdebat dengan seorang pria.

Baca juga: Warga di Bekasi Bubarkan Ibadah di Rumah, Gubernur Jabar Turun Tangan

“Ini ibadah biasa Pak,” kata pria yang tidak kelihatan di video.

“Bukan masalah ibadah, itu kagak boleh,” kata pria berbaju putih. Melihat ada yang merekam video pria itu marah dan membalas ancaman akan melaporkannya ke pihak berwajib. “Silahkan laporkan!”

Belakangan diketahui pria berbaju koko adalah Kiai Haji Imam Mulyana dan pemilik rumah di Rawa Sentul itu adalah Jamin Sihombing.

Video tersebut diunggah akun Instagram @arionsihombing. Melihat posting Instastory, ia menyebut sebagai orang yang merekam kejadian itu dan juga terlihat terlibat dalam pembahasan kasus ini dengan kepolisian.

“Karena kami nggak boleh ibadah di rumah, aku langsung videoin kejadian itu. Lalu dia pergi,” kata Arion.

Ia bercerita sekitar 12 tahun yang lalu rumahnya itu pernah didemo saat ibadah syukuran rumah. Setelahnya, selama sebulan penuh mereka merasa diteror dengan pelemparan batu di tengah malam.

“Kami terpaksa berjanji agar tidak mengadakan ibadah di rumah,” katanya.

Namun menurut dia, di tengah wabah virus corona Covid-19, mereka harus beribadah di rumah sesuai anjuran pemerintah.

Arion menandai Gubernur Ridwan Kamil dalam postingannya itu. Emil mengatakan akan segera mengecek kejadian tersebut. Menurut Emil, hal seperti seharusnya tidak boleh terjadi, karena beribadah merupakan hak setiap warga.

“Saya akan cek malam ini ke aparat setempat. Sangat disesalkan, seharusnya ini tidak boleh terjadi. Karena beribadah adalah hak setiap warga. Dan sudah sesuai anjuran untuk tidak melakukannya di ruang publik selama pandemi COVID,” tulisnya lewat akun Instagram @ridwankamil, dalam kolom komentar.

Namun polisi memiliki cerita berbeda soal kejadian ini. Kapolsek Cikarang AKP Somantri dalam pernyataannya kepada media menyebut selain penghuni rumah ada juga orang lain yang datang ke rumah itu dari luar Cikarang Pusat.

Menurut AKP Somantri, protes Haji M terkait kedatangan orang dari luar tersebut yang diperkirakan sekitar 15 orang. Dalam video yang tersebar tak terlalu terlihat jumlah orang di rumah itu, hanya ada perekam, dua orang pria, dan satu perempuan.

Pernyataan Kedua Pihak

Lantas bagaimana kelanjutan kasus pembubaran ibadah online ini? Kini Arion sudah menghapus video tersebut atas permintaan Kapolres Bekasi.

Menurut Arion, petugas Polres Bekasi sudah memediasi kedua belah pihak untuk menemukan jalan keluar. Setelah mediasi tersebut, berikut ini pernyataan kedua belah pihak:

Haji Mulyana yang menyatakan diri tokoh masyarakat setempat menyatakan telah terjadi kesalahpahaman dan ia telah bermusyarawarah dengan keluarga Sihombing.

“Dengan niat saling menghormati satu sama lain dan hidup bertoleransi,” ujarnya.

Jamin Sihombing dalam pernyataan bersama itu membenarkan ada kesalahpahaman dan sudah bermusyawarah. Setelahnya kedua pria ini mengatakan bersama-sama, “Bersatu untuk Indonesia, NKRI harga mati.”*