Gusur Paksa Warga, PT. Angkasa Pura Dinilai Kangkangi HAM dan Pancasila

Gusur Paksa Warga, PT. Angkasa Pura Dinilai Kangkangi HAM dan Pancasila

Penggusuran paksa warga yang dilakukan PT.Angkasa Pura dan aparat militer dinilai mengangkangi HAM dan Pancasila. (Ilustrasi: Warga berdoa di depan alat berat ketika menolak penggusuran lahan untuk bandara di Temon, Kulonprogo - ist)

YOGYAKARTA, dawainusa.com Polemik pembagunan New Yogyakarta Internasional Airports (NYIP), masih saja terus berlanjut. Rabu (6/12), tepat pukul 11.30 Wib, tampak ratusan anggota Aliansi Tolak Bandara (ATB) Kulonprogo, melangsungkan aksi demonstrasi di depan Kantor Angkasa Pura I, Jalan Laksamana Adisutjipto, Yogyakarta.

Pantauan dawainusa.com, ratusan massa aksi yang memadati halaman depan Kantor Angkasa Pura I sejak pukul 11.30 Wib tersebut, menyuarakan penolakan pembangunan New Yogyakarta International Airport (NYIA), Kulonprogo.

Baca juga: Pernyataan Mendikbud, Kado Hitam Jelang Ultah NTT

“Tolak bandara! Tolak bandara!” teriak salah satu orator pada aksi tersebut.

Tak Hanya Gusur Paksa, Warga Alami Banyak Teror 

Usaha penolakan warga Kecamatan Temon, Kabupaten Kulonprogo, DIY, terhadap pembangunan bandara di tanah mereka, juga menuai beragam teror dari PT. Angkasa Pura yang secara langsung megurus megaproyek pembangunan bandara tersebut.

Dalam release aksi ATB yang diterima dawainusa.com, Rabu (6/12), tercatat hingga kini ratusan rumah warga dan ratusan hektar lahan tanah warga yang tersebar di lima desa di kecamatan Temon telah rata dengan tanah.

Selain gusur paksa, teror lain yang dilakonkan PT. Angkasa Pura terhadap 38 rumah warga yang hingga kini masih konsisten tolak pembagunan Bandara Internasional Kulonprogo, Yogyakarta, tampak dalam tindakan pencabutan aliran listrik oleh pihak PLN, pengerusakan bangunan rumah, hingga pemukulan warga yang diaktori oleh personil Polri dan TNI.

Warga Kulonprogo yang diduga dipukul aparat kepolisian

Warga Kulonprogo yang diduga dipukul aparat kepolisian. (Foto: ist)

Kangkangi HAM dan Pancasila

Tindakan represif dan kriminalisasi tak hanya dirasakan warga Temon, Kulonprogo. Hal serupa juga menimpa ke-lima belas aktivis yang turut mengambil bagian dalam perjuangan bersama warga Temon.

Ke-lima belas aktivis tersebut ditangkap dan dituduh sebagai provokator oleh aparat Kepolisian dalam aksi penolakan penggusuran bersama warga, Selasa (5/12).

Baca juga: Pilot Lion Air, Ketua RT yang Ditangkap Polisi Karena Nyabu

Kejadian ini, menuai kecaman serius dari ATB Kulonprogo. ATB menilai, tindakan represif yang dilakukan pihak kepolisian terhadap ke-lima belas aktivis telah melanggar hak asasi manusia yang termaktub pada pasal 100 UU No. 39/1999.

Tak hanya itu, kecaman juga dinyatakan dalam orasi politik salah satu anggota ATB Kulonprogo dalam aksi tadi.

“Penggusuran paksa yang terjadi di Kulonprogo merupakan aksi represif yang tidak sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan dan Pancasila,” ucap salah satu orator.

Senada dengan itu, Hironimus Heron yang dihubungi secara terpisah oleh dawainusa.com menilai, upaya pembangunan Bandara Kulonprogo oleh PT. Angkasa Pura melanggar UU Lingkungan Hidup No. 32/2009 pasal 66 yang memberikan dampak buruk bagi lingkungan hidup Kulonprogo.

“Aparat kepolisian seharusnya tidak melakukan penangkapan dan pemukulan terhadap para aktivis yang berjuang bersama petani di Kulonprogo karena mereka bukan kriminal tetapi mahasiswa yang sadar bahwa mendampingi para petani adalah suatu kewajiban pemuda mendampingi para petani yang telah berjasa memenuhi pangan bagi keberlangsungan hidupnya”, tutur Heron.

Aksi yang dikawal pihak kepolisian sektor Depok Timur dan pihak keamanan PT. Angkasa Pura I tersebut, mnghasilkan dua tuntutan yakni; Tolak ketelibatan TNI dan Polri dalam upaya penggusuran tanah milik warga Kecamatan Temon, Kulonprogo dan menuntut penghentian proses pembagunan NYAI di Temon, Kulonprogo, DIY yang dibacakan di akhir aksinya.* (Atan)