‘Gulat’ Roland Barthes dan Tontonan Penderitaan yang Viral

‘Gulat’ Roland Barthes dan Tontonan Penderitaan yang Viral

SENANDUNG, dawainusa.com Beberapa hari terakhir kita disuguhkan oleh perilaku main hakim sendiri yang dilakukan oleh seorang tokoh masyarakat, Rensi Ambang, terhadap Melkior Marseden Sehamu. Melki disinyalir mengajak istri Rensi untuk berselingkuh.

Tindakan yang tidak terpuji itu ditolak oleh istri Rensi. Melki menyadari kesalahannya dan berniat meminta maaf secara adat. Ketika sampai di rumah Rensi, Melki mendapatkan persekusi verbal dan kekerasan fisik dan dipertontonkan dalam video yang viral.

Rensi boleh saja mengakui bahwa aksi kekerasan yang dilakukannya bersama anak laki-lakinya adalah spontanitas emosi. Publik boleh saja tidak menerima perlakuan tersebut dan menganggap bahwa aksi main hakim sendiri melanggar hukum.

Baca juga: Apakah Strategi Neuropolitik Trump akan Diadopsi di Pemilu 2019?

Namun, sekalipun, keluarga dan publik netizen mengutuk ajakan perselingkuhan tersebut, ada hal yang tidak kalah mengusik selain persoalan hukum semata. Kenapa posisi korban atau penderitaan begitu mudah dideklarasikan?

Korban Kok Mengumumkan “Penderitaannya”?

Ketika seseorang mengalami persoalan yang sangat sensitif dan privat dalam kehidupan keluarganya, ia tidak harus mengumumkannya ke publik. Dengan demikian, alasan untuk mendapatkan perhatian, sepertinya tidak cukup.

Dalam kasus tersebut, penderitaan justru dideklarasikan oleh korban sendiri pertama kali. Viralitas persoalan ini lahir dari ruang kosong yang diciptakan oleh korban sendiri dan tidak muncul pertama kali dari mulut orang lain.

Baca juga: Pos Islamisme Sandi, Akankah Toleran Terhadap Non Muslim?

Apakah persoalan harus diselesaikan di media sosial dan selesai dengan mendapatkan respon orang banyak? Apakah dengan mengumumkan di media sosial, pelaku akan merasa terintimidasi sehingga berani mengakui?

Tetapi bukankah dengan cara itu, persoalan pribadi juga ditelanjangi dan kerahasiaan persoalan menjadi terbuka dan dapat diakses oleh siapa saja? Lebih lanjut, kita bisa bertanya, kenapa sih penderitaan harus diselesaikan secara narsistik?

Dalam imajinasi, kasus ini barangkali bisa diparalelkan dengan aksi pasien rumah sakit yang berswa foto dari atas tempat tidur rawat inap atau seorang penderita yang mengunggah foto goresan luka di kaki yang cukup parah usai kecelakaan.

Dengan demikian, orientasi untuk mendapatkan perhatian tidak cukup menjelaskan. Lebih dalam lagi, ini adalah tentang pemuasan kemarahan dan cara penyaluran emosi yang mesti mengundang nikmat.

Analisis Roland Barthes mengenai tontonan penderitaan dalam Gulat bisa menjadi referensi. Di situ akan dipahami bagaimana aksi teatrikal sebagai tontonan menampilkan realitas yang “menyeramkan” justru sebagai saluran pemuasan.

Belajar Dari Analisis Roland Barthes tentang “Gulat”

Roland Barthes (1957) dalam esainya yang berjudul The World of Wrestling pada buku Mythologies menjelaskan bahwa gulat adalah pertunjukkan. Dalam gulat, fisik petarung dan gerakannya dimunculkan secara jelas; berotot dan tangguh membanting lawan sambil berteriak mengerang dengan keras.

Secara denotatif, gulat adalah olahraga, namun secara konotatif ia adalah hiburan yang memuaskan. Ibarat teater, gulat adalah pertunjukkan publik di mana tujuan dari ‘pertarungan’ tersebut bukanlah kemenangan melainkan pameran “penderitaan”.

Baca juga: Meiliana dan Masa Depan Diskursus Kita

Oleh karena itu, gulat menampilkan tanda budaya, dimana dalam penderitaan seorang pegulat bisa dibangun aspek heroisme dan ketangguhan secara maskulin; dibanting atau dimatikan oleh kuncian lawan, hingga menyerah dalam waktu yang lama.

Seperti teater, gulat  menggunakan topeng-topeng yang tragis dan merepresentasikan tokoh baik dan jahat tertentu. Kekalahan bukanlah “hasil”, tetapi “tampilan”. Karena bersifat teatrikal, orang tidak peduli apakah kontes dicurangi.

Itulah sebabnya mengapa “orang-orang sangat senang melihat peraturan dipatahkan dan penderitaan pegulat memunculkan kenikmatan tontonan”. Dalam gulat, realitas kemanusiaan seperti kalah, menang, dan penderitaan disimbolisasikan oleh gerakan atau momen yang susah ditebak.

Ini tentu tidak seperti tinju, yang terukur oleh peraturan, hingga kemenangan mudah diprediksi. Pada gulat, dua petarung bergelut dalam kemenangan dan kekalahan sekaligus dalam momen per dertik untuk menampilkan rasa sakit

Sehingga, dalam gulat yang dipentingkan adalah bukan apa yang orang pikirkan (dalam kalkulasi aturan), tetapi apa yang ia lihat apa adanya termasuk pelanggaran aturan (secara mendadak). Menang dan kalah memiliki kekuatan yang sama-sama sejajar.

Dalam kemenangan, selebrasi akan menjadi energi. Teriakan akan dibalas oleh sorakan penonton. Dalam kekalahan, ekpresi kesakitan dan perih melalui gestur ketidakberdayaan dilebih-lebihkan. Kedua ekpresi menjadi tampilan pemuas yang sama mutunya.

Korban Yang Mempertontonkan Diri

Dalam video tersebut muncul emosi amarah yang disalurkan secara narsistik untuk mengumbar kekuasaan yang muncul dalam momen menang (menampar pelaku) atau kalah (mengumbar sakit hati) dalam posisi yang sejajar dan cepat bertukar tempat.

Korban sebagai tokoh masyarakat mau menunjukkan bahwa inilah akibatnya bila masyarakat biasa bertindak macam-macam dengan figur publik. Dengan kata lain, harus ada aksi tertentu terhadap pelaku, agar ‘kuasanya’ sebagai figur publik terafirmasi.

Dalam video tersebut, korban tidak segan mengumbar rasa sakit hatinya untuk menarik simpati. Rasa sakit hati dijadikan alasan untuk melakukan penghukuman. Karena korban adalah figur publik, ia merasa wajib untuk menghukum pelaku di depan umum.

Sayangnya, alih-alih menghukum pelaku, persoalan privat korban malah menjadi tontonan dan bahan sorakan. Ini adalah realitas teatrikal panggung gulat, yang menunjukkan kepada kita bahwa dengan mengumbar derita, kemenangan secara absurd dirayakan.

Namun kemenangan itu sebenarnya kemenangan dari dan untuk apa? Bisa jadi, itu adalah kemenangan dari masyarakat biasa untuk meneguhkan posisi figur publiknya. Namun, dalam video tersebut, kalah-menang bukan yang utama.

Yang terpenting adalah bagaimana bahasa penderitaan dimunculkan agar bahasa itu bisa tersampaikan. Sayangnya, bila dalam gulat, panggung ‘pertunjukkan’ dihadirkan oleh penyelenggara, dalam video tersebut, panggung bagi pengumbaran derita malah diciptakan oleh aktor gulat sendiri.

Realitas video tersebut sungguh lucu. Sakit hati adalah hal yang memang harus muncul. Sikap pelaku yang mengajak selingkuh tentu tidak bisa diterima. Namun, haruskah itu dipertontonkan secara umum? Oleh diri sendiri?

Barangkali, tontonan itu tidak keluarga korban persoalkan. Namun, dalam konteks yang lebih besar, ada moralitas publik sebenarnya yang sedang dilecehkan. Pelecehan itu adalah pengumbaran privasi dan kekerasan simbolik serta fisik yang dipertontonkan ibarat gulat di depan umum. Inilah bahayanya ketika derita diumbar!*