Dawainusa.com —¬†Situasi di Lebanon pasca ledakan di Pelabuhan Beirut pada 4 Agustus lalu makin mencekam dan menakutkan.

Di saat pemerintah Lebanon dan dunia mengulurkan tangan untuk membantu memulihkan keadaan dari bencana, muncul aksi protes dari ribuan warga di ibukota negara itu yang meminta kabinet pemerintah dibubarkan.

Dalam aksi yang digelar pekan lalu itu, mereka menilai bahwa pemerintah Lebanon gagal menangani berbagai krisis yang terjadi di negara itu, jauh sebelum ledakan.

Ledakan bagi mereka menjadi titik kulminasi dari semua kegagalan pemerintah mengurus negara berpenduduk 6,8 juta itu.

Sekelompok warga anti pemerintah tersebut menyerukan slogan “rakyat menginginkan rezim jatuh” sementara polisi mengelilingi mereka. Mereka marah karena kelumpuhan politik, korupsi dan buruknya infrastruktur di negara itu.

Baca Juga: Yohanes Bayu Samudro Dikukuhkan Jadi Dirjen Bimas Katolik yang Baru

Gereja Lebanon Serukan Pembubaran Kabinet

Dalam kotbahnya di Hari Minggu (9/8), Kepala Gereja Maronit Beirut, Batrik Bechara Boutros al-Rahi, dikutip dari Reuters, mendesak pembubaran kabinet setelah Menteri Informasi Manal Abdel Samad resmi mengundurkan diri pada hari yang sama.

Batrik Bechara menilai pasca ledakan dahsyat 4 Agustus menunjukkan ketidakmampuan Pemerintah Lebanon menjalankan pemerintahannya.

‚ÄúPengunduran diri seorang anggota parlemen atau menteri tidak cukup, seluruh pemerintah harus mengundurkan diri jika tidak dapat membantu negara pulih,” katanya.

Dalam sebuah pernyataan, Menteri Penerangan Manal Abdel Samad memutuskan untuk mengundurkan diri pada Minggu (9/8).

Manal beralasan ledakan dahsyat yang terjadi merupakan bentuk kegagalan pemerintah dan meminta untuk melakukan reformasi.

Asap tebal dan hitam mengepul dari sumber ledakan Lebanon. Foto/Reuters.
Asap tebal dan hitam mengepul dari sumber ledakan Lebanon. Foto/Reuters.

Baca Juga: [Fakta Terbaru] Ledakan Lebanon Setara Seperlima Bom Atom Hiroshima

Sehari sebelumnya, Sabtu (8/8) sekitar 10 ribu orang berkumpul di Martyrs ‘Square, yang kemudian melakukan aksi protes terhadap pemerintah.

Lapangan ini menjadi zona pertempuran pada malam hari antara polisi dan pengunjuk rasa yang mencoba mendobrak penghalang di sepanjang jalan menuju parlemen.

Para pengunjuk rasa melawan lusinan tabung gas air mata yang ditembakkan ke arah mereka dan melemparkan batu dan petasan ke polisi anti huru hara, beberapa di antaranya dibawa ke ambulans. Seorang polisi tewas.

Palang Merah mengatakan telah merawat 117 orang karena cedera di tempat kejadian pada Sabtu, sementara 55 orang lainnya dibawa ke rumah sakit.

“Orang-orang harus tidur di jalanan dan berdemonstrasi menentang pemerintah sampai pemerintah jatuh,” kata Maya Habli, salah seorang pengacara.

Perdana Menteri Lebanon Hassan Diab mengatakan satu-satunya jalan keluar adalah menggelar pemilihan parlemen dini.

Dilaporkan, ledakan Lebanon menewaskan 158 orang dan melukai lebih dari 6.000 orang, menghancurkan beberapa bagian kota dan memperparah krisis politik dan ekonomi selama berbulan-bulan. Sebanyak 21 orang masih dilaporkan hilang.

Perdana menteri dan kepresidenan mengatakan 2.750 ton amonium nitrat yang sangat eksplosif, yang digunakan untuk membuat pupuk dan bom, telah disimpan selama enam tahun tanpa tindakan pengamanan di gudang pelabuhan.

Pemerintah pun mengatakan akan meminta pertanggungjawaban pihak-pihak terkait mengenai ledakan yang meluluhlantahkan kota dan penduduk Beirut itu.*