Gelombang Tinggi, Penyeberangan Laut di Wilayah Kupang Ditutup Sementara

Gelombang Tinggi, Penyeberangan Laut di Wilayah Kupang Ditutup Sementara

KUPANG, dawainusa.com – General Manager PT. ASDP Indonesia Ferry Cabang Kupang Burhan Zahim menjelaskan, pihaknya telah mengambil langkah penutupan sementara penyeberangan laut untuk wilayah Kupang, Nusa Tenggara Timur.

Kebijakan ini diambil mengingat cuaca buruk yang terjadi selama seminggu terakhir.

“Semua lintasan kami ditutup sejak 24 Januari 2019 hingga kondisi cuaca mereda,” kata Burhan di Kupang, Sabtu (26/1/ 2019)

Feryy menjelaskan, sebagai provinsi kepulauan, NTT menempatkan jalur laut sebagai sentral bagi lalu lintas masyarakat antar-kabupaten dan pulau. Namun demikian, dengan adanya kondisi cuaca yang buruk, langkah penutupan sementara diambil. Adapun jumlah rute yang ditutup yakni sekitar belasan lintasan pelayaran.

Lintasan yang ditutup sementara, jelas Burhan, merupakan lintasan yang menghubungkan antara wilayah kabupaten di seluruh provinsi NTT. Adapun pengeculian terhadap penutupan ini yakni pada lintasan Kupang-Semau. Rute ini masih melayani penumpang karena jaraknya relatif dekat.

Baca jugaASN NTT Diwajibkan Pakai Sabun Daun Kelor Mulai 2019

Peluang Buka Kembali Pelayaran

Lebih lanjut Burhan menjelaskan, kebijakan penutupan terhadap beberapa lintasan pelayaran di wilayah Kupang sifatnya sementara. Alasannya karena pertimbangan cuaca yang memburuk selama sepekan terakhir. Adapun rencana membuka kembali pelayaran tersebut dilakukan setelah koordinasi dengan pihak Badan Meterologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG).

“Lintasan akan kami buka kembali setelah kami mendapat rekomendasi dari Badan Meterologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) setempat,” jelas Burhan.

Diketahui, Badan Meterologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), merupakan lembaga resmi pemerintah yang akan memberikan informasi terkait dengan perkembangan cuaca secara keseluruhan. Hasil pengamatan dari lembaga ini akan memberikan pertimbangan bagi ASDP untuk membuka kembali pelayaran.

Baca juga10 Obyek Wisata Menarik yang Ada di Ngada, Flores

Untuk Itu, jelas Burhan, pihaknya tidak tidak akan mengambil langkah apapun sebelum ada kejelasan soal kondisi cuaca dari pihak BMKG. Mengingat besarnya resiko yang akan diterima. Selain itu, pihaknya ingin memastikan pelayaran yang nyaman bagi seluruh masyarakat terutama di NTT.

Selain beresiko terhadap pelayaran laut, gelombang tinggi ini sangat beresiko untuk nelayan yang hendak berlayar mencari ikan. Karena itu, Burhan menghimbau kepada masyarakat nelayan untuk berhenti sementara melaut.

Sama seperti himbauan kepada seluruh aktivitas pelayaran, himbauan kepada nelayan ini sifatnya sementara. Pihaknya akan memberikan informasi secara resmi kepada masyarakat terkait perkembangan cuaca ke depan. Dengan demikian, masyarakat akan mendapatkan kepastian soal kembali melaut.

Prediksi BMKG: Potensi Tinggi Gelombang

Sementara itu, Kepala Seksi Observasi dan Informasi BMKG Stasiun El Tari Kupang, Ota Welly Jenni Thalo menjelaskan, adanya potensi gelombang tinggi untuk beberapa hari ke depan di perairan laut NTT. Adapun tinggi gelombang tersebut berkisar 4 -7 meter. Gelombang tinggi ini hampir terjadi di seluruh perairan di NTT.

Baca juga10 Tempat Menarik di Kota Kupang yang Wajib Dikunjungi

Untuk itu, pihaknya menghimbau kepada seluruh masyarakat untuk memperhatikan keadaan cuaca sebelum melakukan pelayaran. Hal ini penting untuk meminimalisir potensi kecelakaan yang akan terjadi. Ia pun meminta kepada masyarakat untuk memilih transportasi alternatif selain laut.

“BMKG memprediksi dan memberikan peringatan dini untuk waspada terhadap potensi gelombang tinggi di sejumlah perairan NTT mulai Rabu (23/1) pukul 20.00 WITA hingga Kamis (24/1) pukul 20.00 WITA,” ungkap Thalo.

Ia menambahkan, potensi tingginya gelombang sangat variatif untuk setiap perairan laut. Gelombang setinggi tujuh meter berpotensi terjadi di perairan laut Sawu, perairan laut Selatan Pulau Sumba, Samudera Hindia Selatan NTT, perairan Selatan Kupang, laut Timor Selatan NTT dan Pulau Rote.

Sementara itu, gelombang setinggi enam meter terjadi di perairan Utara Flores dan Selat Sumba. Adapun potensi gelombang setinggi lima meter juga berpotensi terjadi di perairan Selat Sape. Sementara potensi gelombang setinggi dua sampai empat meter berpotensi juga terjadi di Selat Ombai, Selat Wetar, Selat Flores, Selat Lakakera, Selat Boling dan Selat Alor.*

COMMENTS