Gelombang Populisme Islam dan Peluang AHY Sebagai Cawapres

Gelombang Populisme Islam dan Peluang AHY Sebagai Cawapres

Direktur Eksekutif Voxpol Center Research dan Consulting, Pangi Syarwi Chaniago menilai, gelombang populisme Islam telah merambah ke dalam dinamika politik nasional. (Foto: Prabowo & AHY - ist)

JAKARTA, dawainusa.com – Direktur Eksekutif Voxpol Center Research dan Consulting, Pangi Syarwi Chaniago menilai, gelombang populisme Islam telah merambah ke dalam dinamika politik nasional dan telah mengkristal menjadi sebuah kekuatan politik baru yang telah menemukan momentumnya dalam pilkada DKI Jakarta pada tahun 2017 lalu.

Chaniago mengatakan, gelombang Populisme Islam tersebut juga memiliki pengaruh besar dalam menentukan kemenangan Pilpres tahun depan. Lantas, ia menyarankan agar Capres Prabowo Subianto bisa membaca tren tersebut dengan memilih cawapres yang berlatar belakang religius.

Dia menyebut, kombinasi nasionalis relijius akan mampu melawan petahana Joko Widodo yang saat ini juga tengah mempertimbangkan Ma’ruf Amin dan Mahfud MD dari kalangan agama. Menueutnya, sentimen publik sebagai bentuk Populisme Islam harus direspon dengan mengakomodasi rekomendasi dari Ijtima Ulama sebagai representasi dari gerakan tersebut.

Baca juga: Pidato Jokowi dan Narasi Kekerasan yang Diucapkan Jelang Pilpres

“Prabowo harus mempertimbangkan kombinasi ideal (equilibrium) yakni Nasionalis-Religius untuk dapat menjangkau episentrum pemilih yang lebih luas. Sehingga gerakan ini semakin solid dan mengarahkan dukungannya kepada kandidat yang mewakili kepentingan gerakan ini,” kata Pangi di Jakarta, Senin (6/8).

Diketahui, ijtima Ulama GNPF dan tokoh nasional merekomendasikan dua nama sebagai Cawapres Prabowo yang dinilai mewakili tokoh religius. Keduanya adalah Ketua Majelis Syuro PKS, Salim Segaf Aljufrie dan Pendakwah kondang Ustaz Abdul Somad.

Menurut Chaniago, kedua sosok ini memiliki basis massa dan dukungan yang kuat di akar rumput. Namun menurut dia, pengalaman Salim Segaf Aljufri di pemerintahan tak bisa diragukan lagi. Selain pernah menjadi mantan menteri Sosial era SBY, Salim juga pernah menjadi duta besar RI untuk Arab Saudi dan Oman.

Tidak hanya itu, kata Pangi, Salim juga merupakan keturunan Ulama besar Palu, Sayyid Idrus bin Salim Al-Jufri atau lebih dikenal dengan nama ‘Guru Tua’ pendiri yayasan Al-Khairaat.

Salim juga masih punya garis hubungan sangat dekat dengan Habaib dan juga dekat dengan kiai NU, dan tokoh Muhammadiyah, cenderung lebih moderat dan mampu berkomunikasi dengan semua kelompok dan kekuatan Islam manapun.

“Oleh karena itu, penerimaan (akseptabel) terhadap sosok ini cukup luas sehingga upaya menyatukan kekuatan Islam wyang menjadi agenda politik di kalangan umat Islam akan menemukan momentum yang tepat dan kian nyata,” jelas Pangi yang juga Pengamat politik dari UIN Jakarta itu.

Bagaimana dengan sosok AHY?

Pangi menilai, AHY masih sulit untuk mengambil suara ulama. Representasi Ulama faktor determinan menentukan yang tidak bisa dipandang remeh dalam kemenangan, di saat menguatnya sentimen popolisme Islam.

Maka, lanjut dia, Prabowo-AHY kombinasi yang kurang menjual dan kurang tepat, karena sama-sama militer, sama-sama nasionalis. Dia menambahkan, ceruk segmen Prabowo-AHY juga sama irisannya.

“Kita bisa bayangkan dan mudah memprediksi (forecast) simulasi pertarungan peta lama misalnya Prabowo-AHY berhadapan dengan Jokowi-Mahfud MD. Sebaliknya akan keras benturan pertarungan dan sulit diprediksi apabila Prabowo-Salim Segaf head to head dengan Jokowi-Ma’ruf Amin,” kata Pangi.

Baca juga: Yang Bakal Dilakukan PKS Jika Salim Segaf Ditolak Prabowo

Prabowo juga harus memperhatikan upaya serius dari poros Jokowi merangkul kalangan Islam dengan pendekatan intensif kapada para Ulama, Santri, Cendikiawan Muslim dan Ormas Islam.

Menurut Pangi, Jokowi ingin mengambil posisi tidak berseberangan dengan kekuatan Islam, sehingga perlahan tapi pasti Jokowi sudah berhasil memperluas basis dukungannya yang tidak hanya dari kalangan ceruk segmentasi nasionalis.

Jika ini tidak dibaca dengan cermat oleh kubu Prabowo, menurut Pangi, maka peluang Jokowi untuk kembali memenangkan pilpres semakin terbuka lebar.

“Oleh karena itu, dari beberapa pertimbangan di atas maka kombinasi Nasionalis-Religius sepertinya akan menghiasi persaingan dan kompetisi dalam Pilpres 2019 mendatang. Pasangan Prabowo-Salim Segaf Al-Jufri akan menjadi lawan tanding yang sebanding, cukup keras dan sengit ujung kompetisinya. Artinya cukup merepotkan dan menyulitkan ruang gerak Jokowi dan pasangannya,” jelas dia.

Di sisi lain, Pangi juga melihat, Jokowi akan mengambil wakilnya dari kalangan yang dekat dengan umat Islam. Dia melihat, Jokowi punya banyak jagoan dari sisi ini, mislanya Maruf Amin yang merupakan ketua MUI dan juga dekat dengan kalangan NU, ada juga nama seperti Mahfud MD dan TGB yang juga punya basis yang cukup kuat dan diperhitungkan di kalangan Islam.

Diketahui Prabowo Subianto dan partai pendukungnya tengah sibuk menyiapkan format koalisi dan strategi menghadapi  Pilpres 2019. Prabowo juga tengah memilih sejumlah nama yang direkomendasikan layak menjadi calon wakil presidennya.

Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon sebelumnya mengakui, setidaknya ada tiga nama yang dipertimbangkan Prabowo untuk jadi cawapres. Mereka adalah Salim Segaf Aljufrie, Ustaz Abdul Somad dan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).*