Gejolak Tembagapura, Seorang Karyawan PT. Freeport Terkena Peluru

Gejolak Tembagapura, Seorang Karyawan PT. Freeport Terkena Peluru

Salah seorang karyawan PT. Freeport Indonesia, Totok Sadewo, terkena peluru yang ditembakkan oleh kelompok bersenjata di Tembagaura. (Foto Ilustrasi - metronews)

MIMIKA, dawainusa.com Salah seorang karyawan PT. Freeport Indonesia, Totok Sadewo, terkena peluru yang ditembakkan oleh kelompok bersenjata di mile 69, kawasan tambang di Tembagapura, Kabupaten Mimika, Papua, Selasa (14/11).

“Benar, korban terluka dan sudah ditangani tim medis” kata Kepala Bidang Humas Polda Papua Kombes Ahmad Musthofa Kamal seperti di lansir dari Antara.

(Baca juga: Pleidoi Ditolak, Miryam S. Haryani Divonis 5 Tahun Penjara)

Menurutnya, korban terkena peluru di bagian kaki dan saat ini mendapat perawatan intensif di RS Tembagapura. Selain mengenai korban, lanjut Kamal, aksi penembakan kelompok bersenjata juga mengenai badan mobil.

Kelompok ini juga kata Kamal, diketahui memblokir akses jalan menuju dua kampung, sehingga mengakibatkan warga di dua kampung tersebut disebut polisi terisolir di bawah ancaman kelompok bersenjata itu.

Sementara itu, Kepala Kepolisian Resor Mimika Ajun Komisaris Besar Viktor Dean Mackbon memastikan operasional perusahaan tambang PT. Freeport Indonesia masih berjalan normal meskipun ada gangguan dari kelompok bersenjata.

“Cuma yang terjadi permasalahan di beberapa kampung sekitar Tembagapura terutama Banti dan Kimbeli. Masyarkat di sana masih terisolasi karena di antara kampung-kampung itu dengan Tembagapura dikuasai oleh kelompok bersenjata,” pungkas Viktor.

Viktor memastikan sekitar 1.000 warga sipil di dua kampung itu masih beraktivitas seperti biasa, hanya saja ruang gerak mereka dibatasi untuk bisa bepergian secara bebas ke Tembagapura.

Polisi Gunakan Langkah Persuasif Bebaskan Sandera

Wakapolri Komisaris Jenderal Syafruddin telah mengadakan upaya persuasif untuk membebaskan warga desa Distrik Tembagapura, Papua yang disandera.

“Tentu sudah kami saksikan di Papua sudah ada terjadi penyanderaan besar terhadap masyarakat yang sedang bekerja di daerah Tembagapura. Ini sudah jelas, langkah-langkah persuasif sudah dilakukan TNI dan Polri untuk mengatasi masalah ini,” ujarnya di Mapolda Metro Jaya, Senin (13/11).

(Baca juga: Partisipasi Kaum Muda Melawan Praktik Money Politic)

Syafruddin mengatakan, langkah persuasif yang dilakukan tidak ada korban jiwa dalam upaya pembebasan sandera.  menurutnya, perempuan dan anak-anak menjadi tujuan utama dalam upaya pembebasan sandera. Namun, ia enggan menjelaskan secara rinci langkah persuasif tersebut.

“TNI dan polri mengutamakan keselamatan jiwa dan raga dari warga yang disandera,” tambahnya.

Terkait tindakan kelompok kriminal bersenjata, Syafruddin mengatakan, akan memberikan tindakan tegas terhadap mereka. Tindakan tegas itu juga berhubungan dengan perampasan alat-alat perusahaan pemerintah sampai aparat keamanan yang dilakukan oleh kelompok kriminal bersenjata tersebut.

Sejauh ini Kepolisi Daerah Papua telah menetapkan 21 anggota kelompok kriminal bersenjata masuk dalam daftar pencarian orang.

Berdasarkan DPO yang tercatat mereka adalah Ayuk Waker, Obeth Waker, Ferry Elas, Konius Waker, Yopi Elas, dan Jack Kemong. Kemudian, Nau Waker, Sabinus Waker, Joni Botak, Abu Bakar alias Kuburan Kogoya, Tandi Kogoya, Ewu Magai, Guspi Waker, dan Yumando Waker alias Ando Waker. Lalu ada nama Yohanis Magai, Yosep Kemong, Elan Waker, Lis Tabuni, Anggau Waker dan Gandi Waker.

Pemda Papua Bantah Keras Soal Penyanderaan

Sementara itu, Pemerintah Provinsi Papua membantah keras pernyataan Kapolda Papua yang menyebutkan adanya penyanderaan warga oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di kampung Banti dan Kimbely dekat areal pertambangan PT. Freeport Indonesia, Distrik Tembagapura, Kabupaten Mimika.

(Baca juga: Secangkir Kopi Bersama Denny Siregar)

Asisten Bidang Pemerintahan, Hukum, Politik dan Keamanan Sekda Papua, Doren Wakerkwa kepada pers di Jayapura, Senin (13/11) menjelaskan, situasi yang terjadi di kedua kampung tersebut adalah bahwa kelompok ini telah melakukan pemalangan akses jalan menuju Tembagapura.

Dimana warga tidak diperbolehkan beraktivitas diluar dari kedua kampung tersebut. Kedua kampung ini diketahui merupakan basis dari kelompok pro kemerdekaan Papua ini.

“Penyanderaan itu tidak ada. Hanya jalur atau akses jalan keluar masuk masyarakat dari kedua kampung ini hanya satu saja. Dan akses jalan inilah yang diklaim dijaga oleh KKB,” bantah Doren yang mengaku telah melakukan pertemuan dengan pemerintah Mimika juga TNI Polri dan disepakati untuk membentuk tim negosiasi, dilansir wartaplus.com, Selasa (14/11)* (Bob)