FTJ 2018, Memanggil Pulang Gen Z untuk Kembali ke Rumah Seni

FTJ 2018, Memanggil Pulang Gen Z untuk Kembali ke Rumah Seni

JAKARTA, dawainusa.com Generasi Z atau Gen Z, menjadi tema yang diangkat dalam Festival Teater Jakarta (FTJ) pada bulan ini. FTJ telah berlangsung sejak 19 November dan akan berkahir pada 29 November 2018.

Apa yang melatari pemilihan tema ini? Mengapa Gen Z yang diangkat dalam festival yang menghadirkan 15 kelompok teater se-Jakarta itu. Mempankah dimensi seni dicekok ke dalam otak Gen Z yang begitu akrab dengan dunia maya itu?

Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi penting, mengingat posisi teater dalam logika Gen Z yang cendrung klasik dan berbau ‘jadul’ dan tak jarang menurunkan minat mereka untuk bersetubuh dengannya.

Baca juga: 15 Group Teater Akan Meriahkan Festival Teater Jakarta 2018

Dalam teori generasi (Gneration Theory) yang dikemukakan Grame Crondington & Sue Grant-Marshall, Penguin, (2004), generasi Z disebut juga dengan iGeneration, generasi net atau generasi internet.

Mereka memiliki kesamaan dengan generasi Y, tapi mereka mampu mengaplikasikan semua kegiatan dalam satu waktu seperti nge-tweet menggunakan ponsel, browsing dengan PC, dan mendengarkan musik menggunakan headset.

Apapun yang dilakukan kebanyakan berhubungan dengan dunia maya. Sejak kecil mereka sudah mengenal teknologi dan akrab dengan gadget canggih yang secara tidak langsung berpengaruh terhadap kepribadian mereka.

Logika teknologi internet yang sudah mengendap dalam otak Gen Z menjadi tantangan tersendiri bagi peradabn seni khusunya teater untuk memanggil pulang sekaligus merangsang mereka untuk mencintai teater.

Hal inilah yang setidaknya mensponsori pemikiran di balik tema besar Festival Teater Jakarta (FTJ) kali ini. Stering Commite (SC) Festival Teater Jakarta Adinda Lutvhianti ketika memandu konferensi pers di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki, coba menyentil kembali soal tema Gen Z ini.

Menurutnya, tema tersebut hendak mengartikan generasi Z sebagai suatu bungkusan industri masa kini untuk menjelaskan kondisi hidup masyarakat yang terpaut dengan pertumbuhan dan perkembangan teknologi digital.

Di sisi lain, kata Adinda, tujuan utama FTJ 2018 adalah untuk meregenarasi aktivisme teater di Jakarta. Dengannya, kehadiran Gen Z mampu menjadi corong estetis untuk mendistribusikan pengetahuan maupun pencapaian estetika kepada publik.

“Tujuan utama dari FTJ 2018 ini adalah untuk meregenerasi aktivisme teater di Jakarta. Selain itu juga untuk mendistribusikan pengetahuan maupun pencapaian estetika kepada publik. Dengan demikian, terciptalah suatu publik yang memiliki kepedulian dan minat terhadap dunia teater,” ungkapnya.

Diskusi Biografi Penciptaan Cut out dan Cuy dalam rangka membuka Festival Teater Jakarta 2018 - dawainusa

Diskusi Biografi Penciptaan Cut out dan Cuy di pembukaan Festival Teater Jakarta 2018 – dawainusa

Mendekatkan Seni dengan Gen Z

Usaha untuk mendekatkan seni khususnya teater dengan Gen Z juga mendapat perhatian serius dari Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Pada titik inilah, kehadiran Festival Teater Jakarta menjadi kesempatan untuk memanggil pulang Gen Z kembali ke rumah seni.

Ketua DKJ Irwan Karseno mengakui bahwa ada perubahan yang cukup baik dalam hal minat anak muda khsusunya generasi Z terhadap seni, termasuk teater. Perubahan tersebut menurut Irwan, muncul karena beberapa hal seperti, kebosanan anak muda oleh dinamika politik nasional belakangan ini, mengencangnya peredaran hoaks yang sering memantik kegaduhan publik.

Baca juga: Pilpres dan Strategi Khusus Demokrat Menangkan Prabowo-Sandi

“Kenapa mereka lari pada kesenian. Pertama mereka bosan dengan hoaks, mereka juga bosan dengan industri, bosan dengan politik. Ini sebetulnya peluang kesenian, harus menghadirkan isu-isu yang menarik terus,” katanya.

FTJ kali ini, demikian Irwan, coba menghadirkan isu-isu menarik seperti isu sosial dan kebudayaan dengan kolaborasi digital dan seni teater. “Hal yang diangkat dalam FTJ kali ini yakni isu-isu sosial dan kebudyaan yang nantinya akan dikolaborasi dengan digital dan seni teater,” ungkap Irwan.

Selain itu, Irwan juga menyentil soal aktivitas teater yang ada di Jakarta selama ini. Menurutnya, perkembangan teater di Jakarta tidak pernah terlepas dari dukungan institusi lain yang mempunyai semangat yang sama dalam menghidupkan seni teater di Jakarta.

“DKJ bisa mengkonsolidasikan semua institusi-institusi untuk bekerja sama dalam mengembangkan dan mementaskan kesenian kedepannya,” ungkap Irwan.* (Andy Tandang)

COMMENTS