Frogs in a Well; Etnografi Perempuan Pirzadah India

Frogs in a Well; Etnografi Perempuan Pirzadah India

Penulis dalam buku ini coba memahami sudut pandang orang-orang Pirzada mengenai burkah dan hubungannya dengan kehidupan mereka. (Foto: Marsianus Wawo Daso/ist)

ARTIKEL, dawainusa.com Belum terlalu lama, publik dihebohkan dengan berita atau informasi dari siswi SMK Attholibiyah di Tegal yang mengenakan cadar dalam proses belajar dan mengajar. Pejabat Dinas Pendidikan kemudian menegur sekolah tersebut dan sekolah pun membatalkan kewajiban bercadar namun hanya terbatas di ruangan kelas sedangkan di pondok pesantren mereka harus tetap bercadar.

Menurut Muhammad Al Athas (pendiri sekaligus pengasuh pondok pesantren), penggunaan cadar berawal dari keprihatinan dengan kondisi generasi muda zaman sekrang termasuk anak santri yang mudah terjerumus dalam pergaulan bebas. Hal ini berarti penggunaan cadar dimaksudkan untuk membatasi ruang pergaulan mereka. Dalam tulisan ini, saya tidak sedang membawa pembaca dalam konteks benar dan salah tetapi mencoba mengungkap sisi lain sebagaimana yang diuraikan penulis, Patricia Jeffrey.

(Baca juga: Hadapi Tantangan Global dengan ‘Rumah Budaya Satu-Satu’)

Buku karya Patricia Jeffery ini secara gamblang menggambarkan kehidupan perempuan muslim yang memakai purdah atau burkah (kain penutup kepala dan wajah) di desa Saint Hazart Nizamuddin Auliya, sekitar 4 mil dari Old Delhi, India. Menurut Jeffery, pirzada women diistilahkan sebagai“a frog in a well” sebagaimana judul dalam buku ini.

Frogs in a well menggambarkan kehidupan perempuan pirzadah yang seharusnya dapat mendapatkan banyak wawasan dan pengalaman di luar dunia namun terjebak di dalam dunianya sendiri sehingga mereka hanya mampu melihat secara terbatas. Keterbatasan ini terjadi karena pengasingan atau pembatasan diri yang diberlakukan kepada mereka. Singkatnya dalam tulisan Jeffery, purdah memiliki arti pemisah secara sosial mengenai dunia laki-laki dan dunia perempuan.

Penulis dalam buku ini mencoba memahami sudut pandang orang-orang Pirzada mengenai burkah dan hubungannya dengan kehidupan dengan tujuan untuk mendapatkan pandangannya mengenai dunianya yang dialami mereka. Dengan arti lain adalah etnografi mempelajari masyarakat dan belajar dari masyarakat.

Jeffery mengawali karya etnografinya ini dengan teori yang diungkapkan oleh Jack Goody and Ester yakni economic factor is important in women seclusion. Artinya, faktor ekonomi menentukan keadaan atau kondisi yang dialami perempuan dalam stratifikasi atau kelas-kelas sosial. Posisi perempuan sangat bergantung pada kondisi masyarakatnya dan statusnya di keluarga.

(Baca juga: Mengenal Upacara ‘Rambu Solo’ dalam Suku Toraja)

Isu utama yang diangkat penulis adalah seclusion yang berdampak pada peran ekonomi, politik, sosial budaya dan perkawinan. Ketika Jeffery datang untuk meneliti India ini, dia membawa kaca mata ideologi Barat dalam memandang perempuan Purdah, bahwa perempuan dalam Purdah ini dibatasi dan diasingkan dari ruang publik karena dominasi laki-laki. Peran housewife dalam model kapitalis yang tidak dapat dengan mudah ditranspalasi dalam perempuan pirzada.

Perempuan pirzada mengambil peran dominan sebagai houseworker. Mereka menggunakan purdah sebagai negosiasi agar ia dapat tampil di ranah publik seperti berbelanja, menonton bioskop atau mengunjungi saudara jauh di kota. Jeffery memberikan suara keluhan dari perempuan pirzada dan menjelaskan praktik perlawanan mereka, menunjukkan bagaimana sistem ini tidak sepenuhnya diterima oleh perempuan.

Purdah disajikan sebagai negosiasi hak istimewa sebuah ungkapan yang bermaksud untuk menyoroti ambiguitas dari praktik tersebut. Jadi kenyataannya, penggunaan purdah tidak membatasi ruang gerak kaum perempuan di ruang publik tetapi menjadi menjadi media atau alat negosiasi.

Buku ini merupakan hasil usaha partisipasi observasi yang luar biasa dari seorang etnografer profesional. Bahkan sesekali dalam penelitiannya dia juga harus menggunakan burqa untuk dapat merasakan bagaimana perempuan pirzada menggunakan burqa. Bahkan dalam tulisannya Jeffery juga pernah melakukan perjalanan keluar desa dengan menggunakan burqa, Jeffey ingin merasakan apa yang dirasakan oleh perempuan pirzada ketika harus menggunakan burqa saat berpergian keluar rumah.

Penulis mencoba menemukan empati dirinya terhadap kehidupan perempuan pirzada. Ketika antropolog dapat menemukan empati yang dia rasakan, maka pintu data akan terbuka secara lebar. Pada tahap ini seorang antropolog harus bersikap sedikit untuk menjauh atau melepaskan diri, hal ini berguna untuk antropolog menghindarkan posisi going native yang menyebabkan bias terhadap etnografinya.

Penulis berhasil menemukan dan menggambarkan fenomena budaya serta melakukan abstraksi, interpretasi dan analisis secara menyeluruh di dalam berbagai aspek kehidupan. Itulah sebabnya karya etnografi ini mampu mengungkap seluruh tingkah laku sosial budaya melalui deskripsi yang holistik.

Meminjam istilah Clifford Geertz bahwa penting sekali peneliti melakukan thick description di mana semua apa yang dilihat, didengar, dirasakan dituliskan dengan mengedepankan kaidah analisis dan kerangka berpikir guna menghasilkan jawaban dari pertanyaan penelitian.*

Oleh: Marsianus Wawo Daso (Alumnus Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero yang sekarang sedang menempuh pendidikan masteral di bidang Antropologi Universitas Indonesia)