Pesan Gubernur Frans Lebu Raya untuk Masyarakat Belu

Pesan Gubernur Frans Lebu Raya untuk Masyarakat Belu

Lebu Raya berpesan kepada masyarakat agar menjelang pesta pemilihan kepala daerah (Pilkada) serentak mendatang masyarakat turut serta menciptakan Pilkada yang aman dan damai. (Foto: Frans Lebu Raya - ist)

BELU, dawainusa.com Menjelang akhir masa jabatannya, Gubernur NTT, Frans Lebu Raya menyampaikan ucapan terima kasih kepada masyarakat Belu atas kepercayaan yang diberikan kepadanya sebagai gubernur selama dua periode Kepemimpinan.

Leu Raya menyampaikan hal itu saat mengunjungi warga Desa Wutu Keti, Kecamatan kaluk Mesak, Kabupaten Belu, Sabtu (3/2).

“Pada kesempatan ini saya mengucapkan terima kasih kepada Bapak Mama yang telah mendukung saya menjadi Gubernur selama dua periode ini,” ungkap Frans Lebu Raya.

Ia kemudian berpesan kepada masyarakat agar menjelang pesta pemilihan kepala daerah (Pilkada) serentak mendatang masyarakat turut serta menciptakan Pilkada yang aman dan damai.

“Tahun ini kita akan laksanakan Pilkada, mari kita jaga agar berjalan aman dan damai di daerah kita masing-masing,” ujar Lebu Raya mengingatkan.

Baca juga: Pilgub NTT, Viktor Laiskodat Sindir Rezim Frans Lebu Raya

Ketua DPD I PDIP NTT ini pun mengaku bahwa selama masa kepemimpinannya masih banyak hal yang belum sempat dilakukan untuk menyejahterakan masyarakat.

Untuk itu lanjut Gubernur dua periode tersebut, Gubernur yang nantinya terpilih diharapkan untuk melanjutkan program-program yang ada demi kemajuan NTT.

“Masih banyak hal yang belum sempat saya lakukan, namun gubernur yang akan datang bisa melanjutkan program-program yang ada dan gagasan-gagasan yang baru guna kemajuan perekonomian di Provinsi NTT,” katanya.

Mengurai Kemiskinan Di NTT Tidak Mudah

Sebelumnya, sebagaimana dilansir media ini, Gubernur Frans menyampaikan untuk mengurai benang kusut kemiskinan di NTT bukanlah perkara mudah. Hal itu disampaikan Frans Lebu Raya pada acara natal bersama di Kupang Desember 2017 lalu.

“Kalau bicara tentang kemiskinan, saya harus jujur mengatakan bahwa menurunkan angka kemiskinan bukan perkara mudah. Terlalu banyak variabel yang harus dipenuhi,” kata Gubernur Frans.

Baca juga: Kemiskinan di NTT, Lebu Raya: Saya Harus Jujur Itu Bukan Perkara Mudah

Menurutnya, ada sekitar 14 syarat yang harus dipenuhi warga agar tidak dikategorikan sebagai warga miskin. Dia mengangkat contoh soal rumah yang harus dimiliki warga. Rumah misalnya harus beratap seng, berlantai, berdinding batu, di plaster dan dilengkapi jamban.

Ukuran rumah pun katanya harus delapan meter persegi untuk setiap orang. Artinya, jika ada 4 orang dalam satu rumah, maka ukuran rumah harus seluas sekitar 40 meter persegi.

“Kalau syarat dari bangunan rumah ini tidak terpenuhi, maka kategorinya tetap termasuk kategori miskin katanya.

Menurut Frans banyak rumah yang selam ini dibangun developer untuk ditempati warga berpenghasilan rendah masih berukuran kecil, sekitar 21 meter persegi dan ditempati oleh satu keluarga.

“Ini baru syarat tempat tinggal bagi seorang warga, belu syarat lain yang harus dipenuhi,” pungkas Lebu raya yang akan mengakhiri masa jabatan sebagai Gubernur NTT periode kedua ini.

Atas dasar itu ia mengatakan, jika hari ini ada pemimpin atau calon pemimpin yang bicara bisa menurunkan angka kemiskinan di NTT dalam waktu singkat, itu bohong.

Pernah Dikrtik VBL

Terpisah, calon gubernur NTT Viktor Bungtilu Lasikodat menyebut, masalah kemiskinan di NTT yang tidak pernah menemukan titik terang tak lain merupakan bias dari masalah kepemimpinan yang tidak mendengarkan keluhan rakyat.

Viktor menyampaikan hal ini sebagai kritik terhadap kepemimpinan Frans Lebu Raya yang dinilainya tidak memiliki terobosan baru dan kurang peka mendengar rintihan rakyat.

Baca juga: Tolak Tambang di Sabu, Ini Petisi Warga untuk Lebu Raya

“Hal itu karena pemimpinnya tidak mendengarkan dengan baik keluhan masyarakat. Pemimpin hanya mementingkan keluarga dan sahabatnya. Pada hal pemimpin NTT orang tuanya rakyat NTT, mestinya memperhatikan seluruh rakyat NTT,” kata Viktor saat deklarasi paket Viktory-Joss di Sumba, Rabu (24/1).

Selain itu, Ketu Fraksi Nasdem DPR RI itu menilai terbelakangnya NTT dalam banyak hal disebabkan oleh tidak adanya riset yang baik setiap kebijakan dan program kerja.

“Pemimpin tidur dan bangun pagi, lalu memutuskan program kerja di antaranya NTT provinsi jagung Provinsi ternak, Provinsi cendana dan lain-lain. Semua itu tidak ada yang sukses. Terbukti NTT bukan sukses panen jagung, cendana hampir punah dan ternak semakin berkuarang,” katanya.

Karena itu, ia mengatakan seorang pemimpin yang baik harus memutus sesuatu berdasarkan riset yang baik dan benar. Dengan demikian program kerja yang dibuat benar-benar riil sesuai kebutuhan rakyat.

Ia lalu mengatakan niatnya untuk kembali ke NTTN DI tengah kariernya yang menanjak di Senayan merupakan bentuk kecintaannya terhadap masyarakat NTT.

“saya ingin mengorbankan diri bagi rakyat NTT agar daerah ini maju dan diperhitungkan di level nasional. Saya berjanji akan membangun air bersih siap minum di seluruh desa di NTT, penerangan listrik, jalan raya dan pariwisata,” tutupnya.* (RAG)