Filosofi Tanah Menurut Orang Papua

Filosofi Tanah Menurut Orang Papua

Tanah sebagai ibu yang memberikan kehidupan menjadi begitu sakral karena peranannya yang begitu kuat dan penting dalam kehidupan orang Papua. (Foto: Vicky Bauntal - ist)

SENANDUNG, dawainusa.com – Tanah menjadi persoalan yang sangat serius bagi masyarakat Papua. Tanah adalah bagian yang sangat penting dan tidak terpisahkan dari kehidupan manusia Papua.

Dalam kepemilikan atau hak ulayat dari tanah tersebut, menjadi hal sakral dan tidak bisa terlepas dari genggaman setiap pemiliknya. Namun, dewasa ini sudah banyak orang Papua yang kehilangan tanah adatnya, dan hal itu juga menunjukkan identitas mereka yang mulai terpinggirkan.

Baca juga: Harus Ada Rekaman Pernyataan Mendikbud, Supaya Tidak Ada Dusta di Antara Kita

Banyak masyarakat Papua hidup di atas tanahnya sendiri namun menderita, menangis dan sengsara karena tidak memiliki apa-apa. Hal tersebut disebabkan oleh pola hidup yang berubah yakni penyalahgunaan kepentingan atas tanah dan kurangnya pernghormatan terhadapnya.

Bagi orang Papua, tanah adalah seorang ibu. Paham ini didasarkan atas fungsi dan peranan tanah (ibu) dalam kehidupan mereka. Seorang ibu akan mengandung kehidupan dan kemudian melahirkannya.

Tanah dalam Perspektif Orang Papua

Rata-rata semua suku di Papua melihat tanah sebagai sumber kehidupan yang memiliki peranan sangat penting dalam kehidupan mereka. Tanah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupan orang Papua.

Pentingnya tanah tersebut mempengaruhi sistem kepemilikan yakni berdasarkan hak ulayat yang sudah dibagi-bagikan menurut suku, klen dan marga. Hal ini menunjukkan bahwa semua tanah di Papua sudah dimiliki oleh orang Papua melalui hak ulayat masing-masing suku, klen dan marga yang ada.

Baca juga: Stop Kekerasan Terhadap Perempuan di Papua

Bagi orang Papua, tanah adalah seorang ibu. Paham ini didasarkan atas fungsi dan peranan tanah (ibu) dalam kehidupan mereka. Seorang ibu akan mengandung kehidupan dan kemudian melahirkannya.

Tanah sebagai ibu yang memberikan kehidupan menjadi begitu sakral karena peranannya yang begitu kuat dan penting dalam kehidupan orang Papua.

Dari ibu tersebut ada dan dapat terwujud sebuah kehidupan yang baru. Seorang ibu bertugas dan bertanggung jawab untuk memelihara, menjaga dan memberikan makan terhadap kehidupan yang dikandung dan dilahirkannya itu.

Karena itu, peranan seorang ibu menjadi peranan yang sentral dalam terbentuknya awal mula kehidupan baru serta dalam kehidupan yang akan datang. Dari pemahaman itu, orang Papua juga melihat tanah sebagai ibu bumi. Ibu yang mengandung dan kemudian melahirkan kehidupan bagi orang Papua.

Kehidupan yang dimaksudkan adalah kehidupan manusia itu sendiri dan juga kehidupan yang dapat memberikan kehidupan bagi manusia. Ibu bumi akan mengandung makanan dan kemudian melahirkannya untuk memberikan kehidupan kepada orang Papua.

Seperti hutan, hewan dan semua yang ada di atas tanah adalah hasil produksi ibu bumi. Sehingga orang Papua tidak melarat dan tidak kelaparan karena semuanya sudah disediakan oleh ibu bumi.

Pandangan orang Papua tentang tanah sebagai ibu bumi memunculkan satu pemahaman akan sakralitas tanah-tanah tersebut. Tanah sebagai ibu yang memberikan kehidupan menjadi begitu sakral karena peranannya yang begitu kuat dan penting dalam kehidupan orang Papua.

Kesakralan ini kemudian menimbulkan reaksi umum dari orang Papua yakni kepatuhan terhadap ibu melalui proses menjaga dan melestarikan tanah tersebut. Sikap kepatuhan orang Papua terhadap ibu bumi merupakan suatu sikap balas budi yang wajib dilaksanakan.

Tanah adalah identitas diri orang Papua. Sebagai ibu bumi yang memberikan kehidupan bagi orang Papua, tentu hal ini menjadi satu faktor yang mempengaruhi hubungan antara orang Papua dengan ibunya.

Identitas orang Papua juga tergantung dari relasinya dengan ibu bumi (tanah). Sebab sebagin besar kehidupan orang Papua diaktulisasikan di atas tanah sebagai wujud pembentukan identitas diri mereka.

Karena adanya aktulisasi diri di atas tanah mereka sendiri, maka sekarang kita dapat mengenal dan melihat identitas orang Papua menurut karakter masing-masing suku.

Persoalan Tanah dan Akibatnya

Dewasa ini, sudah banyak orang Papua yang mulai menjual tanahnya sendiri. Banyak tanah yang tidak lagi dirawat, dijaga dan dilestarikan sehingga menyebabkan akibat-akibat buruk bagi orang Papua.

Berdasarkan pemahaman bahwa tanah sebagai ibu bumi yang sakral, hal tersebut akan memberikan dampak negatif jika tanah itu tidak dijaga dan dilestarikan dengan baik.

Baca juga: Indonesia: Antara Darurat HAM Papua dan Krisis Rohingya

Sebab, menjual tanah berarti menjual ibunya sendiri dan akibatnya tanah itu tidak akan menghasilkan dan memberikan kehidupan lagi bagi orang Papua. Itulah akibat yang biasanya terjadi ketika tanah dijual kepada orang lain, dirusak dan tidak dijaga.

Menjual tanah berarti menjual ibunya sendiri dan akibatnya tanah itu tidak akan menghasilkan dan memberikan kehidupan lagi bagi orang Papua.

Akibat dari pola hidup orang Papua yang kian berubah, banyak di antara mereka yang hidupnya tidak menentu. Banyak orang yang hidupnya hanya menumpang di tanah orng lain dan hal itu menjadi satu masalah dalam hal kepemilikan tanah dan dalam hal hubungan sosial dengan orang/suku lain.

Hal ini memicu adanya perang antar suku, dengan motivasi yang berbeda, yakni suku yang satunya berperang untuk mempertahankan tanahnya dan suku yang satunya berperang untuk memperebutkan tanah yang baru.

Sebab, perang adalah jalan yang selalu ditempu oleh nenek moyang orang Papua dalam usaha memperebutkan tanah/hak ulayat masing-masing suku. Dengan demikian, perang akan mempengaruhi buruknya relasi sosial antara orang Papua sendiri.

Kesakralan tanah menjadi tumbal dari pembangunan infrastruktur. Banyak infrastruktur (contohnya jalan, perusahaan, dll) yang dibangun tanpa mempertimbangkan akibatnya bagi orang Papua.

Akibat-akibat yang biasanya muncul karena adanya pembangunan ialah kerusakan lingkungan hidup, hutan, punahnya binatang-binatang liar, dan rusaknya kearifan lokal yang ada dalam kehidupan orang Papua.

Kerusakan-kerusakan tersebut mengakibatkan banyak tanah yang tidak lagi menghasilkan makanan dengan baik, sehingga orang Papua ada yang mulai kelaparan dan terserang penyakit.

Sehingga tidak heran jika hal tersebut menyebabkan banyak orang Papua menuntut haknya jika tanahnya diambil untuk pembangunan. Sebab bagi mereka memiliki tanah sama halnya dengan memperjuangkan harga diri.

Dan orang Papua merasa harga dirinya sangat tinggi ketika mereka masih memiliki tanah yang kaya dan subur serta menghasilkan makanan untuk kehidupan bagi mereka.

Solusi Atas Persoalan-persoalan Tanah

Dari persoalan-persoalan tentang tanah dalam kehidupan orang Papua tersebut, kita tahu bahwa akan banyak akibat yang bermunculan di masa yang akan datang. Karena itu, orang Papua harus menjaga dan melestarikan tanahnya sendiri.

Sebab, dari tanah itu lahir kehidupan dan kehidupan itu akan memberikan kehidupan bagi orang Papua. Tanah tidak boleh dijual sebab menjual tanah sama dengan menjual seorang ibu dan hal tersebut merusak kesakralannya.

Dari pada tanah tersebut dijual, lebih baik dibuat sistem kontrak dengan jangka waktu tertentu, dengan catatan tanah harus tetap dirawat dan dijaga.

Dari pada tanah tersebut dijual, lebih baik dibuat sistem kontrak dengan jangka waktu tertentu, dengan catatan tanah harus tetap dirawat dan dijaga.

Jika berkaitan dengan pembangunan, maka pemerintah harus duduk dengan masyarakat adat yang memiliki hak ulayat untuk mencari jalan keluarnya. Sehingga tidak menyebabkan terjadinya kekacauan, perang dan buruknya relasi sosial di antara orang Papua sendiri.*

Penulis: Vicky Bauntal (Mahasiswa Pascasarjana STFT Fajar Timur, Abepura)