Dawainusa.com – Nama Bu Tejo, yang menjadi salah satu tokoh pemeran dalam Film Tilik belakangan ini mencuri perhatian warganet dan viral di media sosial.

Bahkan sosok Bu Tejo sempat trending di Twitter. Kepiawaiannya beradu akting sukses mengaduk-aduk emosi penonton.

Di Twitter, cuitan tentang Bu Tejo pun mencapai 22 ribu cuitan. Karakter wanita itu dalam film Tilik sukses mengundang perbincangan warganet.

Lantas seperti apa fakta tentang Film Tilik yang sukses mengundang perhatian publik itu? Berikut ulasannya dirangkum Dawainusa.com dari berbagai sumber pada Kamis (20/8/2020).

Baca jugaMutia Ayu Rilis Single Berjudul Itu Saja Peringati Setahun Menikah dengan Glenn Fredly

Fakta Tentang Film Tilik 

Untuk diketahui, Film “Tilik” yang viral di media sosial belakangan ini disutradarai oleh Wahyu Agung Prasetyo.

Film ini mengisahkan warga desa yang bergunjing tentang status lajang tokoh Dian dalam perjalanan naik truk untuk menjenguk (tilik dalam bahasa Jawa) Bu Lurah di rumah sakit.

Produser film “Tilik”, Elena Rosmeisara mengungkapkan, produksi film ini bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan DIY.

“Jadi, Disbud DIY ada program Danais (Dana Keistimewaan) untuk perfilman Jogja dan kami submit,” kata Elena seperti dikutip dari Kompas.com, Rabu (19/8/2020).

“Program ini memang konsisten ada. Jadi, kami submit naskah, proposal dari naskah Tilik, kemudian melalui pitching, dan lolos. Lalu, kami produksi,” sambungnya.

Film “Tilik” akhirnya diproduksi tahun 2018 dan harus melewati proses yang cukup panjang.

“Proses pra-nya saja untuk akhirnya menjadi naskah utuh membutuhkan waktu. Karena bekerja sama dengan Disbud DIY, ada supervisi untuk menjaga naskah tidak keluar dari koridor kebudayaan,” ungkapnya.

Menurut Elena, proses supervisi naskah ini membutuhkan waktu sekirar 2-4 bulan. Kemudian syuting 4 hari, dan proses editing sekitar 2-3 bulan.

“Jadi, kalau ditotal, ada sekitar 8-9 bulan untuk akhirnya film jadi, dari proses submit naskah dan proposal ke Disbud hingga film akhirnya jadi,” jelasnya.

Film Tilik
Foto Tangkap Layar YouTube Humas Jogja

Baca jugaJago Jadi Foto Model, Deretan Foto Nenek Ini Viral di Medsos dan Tuai Pujian Netizen

Ide cerita film “Tilik” bermula dari penulis cerita Bagus Sumartono. Ia melihat fenomena tilik atau menjenguk ke rumah sakit di Yogyakarta di tahun 2016 silam.

“Jadi, di sana dia melihat ada truk yang membawa orang banyak untuk menjenguk orang sakit di rumah sakit itu. Dia merasa fenomena itu unik dan sangat seksi untuk diangkat ke medium film,” tutur Elena.

Namun, sampai kepadanya, menurut Elena, ide ini terlalu mahal untuk direalisasikan pada 2016.

“Akhirnya, 2 tahun berlalu, di 2018, ada Danais ini dan kami merasa siap. Kami submit, dibuat naskahnya, kita observasi ke desa di Jogja dimana fenomena itu ada dan jadilah film Tilik,” jelasnya.

Sementara itu, Elena mengatakan, film “Tilik” menjadi ajang belajar bagi banyak orang yang terlibat di dalamnya.

“Di film Tilik ini, dengan alat yang proper saat itu, dengan kru yang profesional. Semua orang profesional. Semua benar-benar bekerja sesuai tugas masing-masing.

Jadi, kesulitannya lebih ke bagaimana penyesuaian kami menemukan produksi yang tepat,” tutur Elena.

Lebih lanjut, Elena menyebut syuting yang tidak menetap di satu tempat sempat menimbulkan kesulitan saat koordinasi.

“Pertama kalinya kami melakukan syuting travelling, tidak ada yang menetap. Tapi, dengan penyesuaian di hari pertama, hari-hari selanjutnya pun berjalan lancar,” ujarnya.

“Semua kru juga memberi insight karena beberapa sudah ada yang lebih dulu berkecimpung di dunia film,” jelasnya.

Beberapa topik tentang film “Tilik” bermunculan di Twitter, tak terkecuali Bu Tejo.

Elena mengungkapkan, karakter Bu Tejo memang sengaja dibuat kuat, serta menjadi salah satu sentra dalam cerita.

“Memang kami merasa Bu Tejo harus menjadi inisiator, menjadi komandan di kelompok ibu-ibu. Memang dibuat sekuat itu, senyinyir itu,” jelas Elena.

Menurutnya, karakter Bu Tejo ini diciptakan sebagai refleksi dari masyarakat Indonesia saat ini.

Namun, Elena mengaku bahwa ada beberapa orang yang sudah disasar dengan kualitas dan karakter aktingnya, salah satunya adalah pemain Bu Tejo ini, yaitu Siti Fauziah.

“Pemeran Bu Tejo ini termasuk orang yang sudah kita gadang-gadang dari awal pembacaan naskah hingga akhirnya turut bermain di Tilik,” kata Elena.

Adapun dalam proses syuting ini, para pemain diarahkan untuk tidak menghapalkan naskah, tetapi memahami intinya dan diaplikasikan pada diri sendiri

“Kebetulan, kami melihat talent-talent, sudah ada karakternya di diri mereka masing-masing. Jadi, tidak begitu suli tuntuk men-direct mereka, karena improvisasinya pun tetap on point,” jelas Elena.

Untuk diketahui, “Tilik” telah diproduksi pada tahun 2018 oleh Ravacana Films dan ditayangkan di Youtube Ravacana Films, Senin (17/8/2020) lalu.

Film tersebut mendapatkan respon cukup positif dengan jumlah pemutaran setidaknya lebih dari 280 ribu kali hingga artikel ini ditulis.

Menanggapi ramainya respons dari masyarakat terhadap film “Tilik”, Elena mengaku tidak menyangka.

“Karena kami memang hanya melakukan publikasi sederhana, upload di media sosial kita, minta tolong teman-teman yang banyak pengikutnya, tetapi juga tidak sebanyak itu,” ungkap Elena.

“Yang kami percaya, ternyata membuat fillm dengan hati ikhlas, dengan usaha yang sangat keras, lalu disertai dengan publikasi yang kami usahakan, ternyata bisa sejauh itu,” sambung Elena.

“Tilik” sendiri merupakan Pemenang untuk Kategori Film Pendek Terpilih pada Piala Maya 2018.

Selain itu, juga menjadi Official Selection Jogja-Netpac Asian Film Festival (JAFF) 2018 dan Oficial Selection World Cinema Amsterdam 2019.