Empat Daerah di NTT Bakal Jadi Pusat Produksi Garam Nasional

Empat Daerah di NTT Bakal Jadi Pusat Produksi Garam Nasional

Empat daerah strategis di NTT dipetakan menjadi pusat produksi garam dalam rangka mendukung swasembada garam secara nasional. (Foto: Petani Garam - Tempo.co).

KUPANG, dawainusa.com Kepala Dinas Perindustrian Nusa Tenggara Timur (NTT), Obaldus Toda mengungkapkan, ada empat daerah strategis di NTT yang dipetakan akan menjadi pusat produksi garam. Ia menjelaskan, pemetaan itu dilakukan dalam rangka mendukung swasembada garam secara nasional.

“Keempat wilayah strategis tersebut meliputi Kabupaten Kupang dan Malaka di Pulau Timor serta Kabupaten Ende dan Nagekeo di Pulau Flores,” jelas Toda di Kupang, Rabu (31/1).

Menurut Toda, keempat daerah tersebut sangat strategis baik secara nasional maupun secara regional untuk mendukung pengembangan produksi garam. Apalagi, kata dia, tingkat cakupan masing-masing daerah itu mencapai ratusan hektare.

Baca juga: Di Flores Timur, 300 Hektare Lahan Disediakan Untuk Tambak Garam

Ia mengungkapkan, sejauh ini, sudah ada dua daerah pusat garam di NTT yang sudah berproduksi untuk memenuhi kebutuhan industri garam serta demi menjawab kebutuhan konsumsi lokal.

Dua daerah tersebut, yakni di Bipolo Kabupaten Kupang yang di kelola oleh PT Garam dan di Mbay Kabupaten Nagekeo yang dikelola oleh pihak swasta.

Adapun produksi garam di Bipolo sendiri, jelas Toda, potensi lahan mencapai 4 ribu hektare. Sementara, di daerah Mbay, lahan yang sudah dipakai untuk produksi sudah sekitar 50 hektare dari total potensi mencapai ratusan hektare.

“Wilayah-wilayah potensial ini yang dipersiapkan dan dikembangkan untuk mendukung upaya pemerintah dalam program swasembada garam secara nasional,” tutur Toda.

NTT Didorong Jadi Pilar Produksi Garam Nasional

Menurut Toda, provinsi NTT telah menjadi daerah yang dianggarkan pemerintah sebagai pusat produksi garam. Pasalnya, daerah ini memiliki potensi lahan untuk produksi garam mencapai 60 ribu hektare. Sementara untuk kebutuhan swasembada garam industri dan konsumsi secara nasional hanya dibutuhkan sekitar 20 ribu hektare.

“Potensi garam kita terus didorong menjadi pilar produksi garam nasional karena sudah didukung kondisi cuaca yang baik, wilayah pantai dan laut yang luas dan bersih,” kata Toda.

Kondisi ini, ungkapnya, menjadikan NTT lebih istimewa dibandingkan dengan daerah lainnya yang keadaan alamnya masih kurang mendukung ditambah faktor meningkatnya aktivitas industri yang berdampak pada keadaan laut.

“Sementara wilayah sentra produksi seperti di Jawa dan sekitarnya semakin mengalami kejenuhan, di sisi lain kualitas laut mereka juga seiring waktu menurun akibat aktivitas industri lainnya,” lanjutnya.

Baca juga: Kaya Akan Potensi Alam, NTT Akan Bangun Kampung Cokelat

Ia juga menambahkan, semua daerah strategis yang ada di NTT tersebut mesti terus diperhatikan dan dikembangkan demi mendukung kebutuhan garam di tingkat Nasional.

Selain demi produksi nasional, pemerintah juga akan terus mendorong produksi garam konsumsi di kabupaten lainnya di NTT dengan memakai teknologi geomebram. Kisaran lahan untuk produksi garam di setiap kabupaten di daerah ini berkisar antara 5-10 hektare.

“Budidaya garam untuk kebutuhan lokal ini terus kami dorong, selain itu juga bersinergi dengan swasta maupaun BUMN sehingga ke depannya NTT bisa menjadi pilar swasembada garam nasional,” kata Toda.

Memaksimalkan Potensi

Potensi garam di NTT ini memang telah lama dibicarakan oleh pemerintah provinsi. Gubernur NTT, Frans Lebu Raya, dalam setiap pidatonya seringkali menegaskan, baik para nelayan maupun petani seharusnya mampu memaksimalkan berbagai potensi yang ada.

Ia mengatakan, para petani dan nelayan mestinya bisa mengembangkan laut yang begitu luas untuk membuka tambak garam.

“Panas berlebihan di bukan sebagai kutukan melainkan potensi yang yang harus dikembangkan untuk potensi garam,” kata Lebu Raya.

Baca juga: Dukung Regulasi Daerah Kepulauan, NTT Sepakati Deklarasi Batam

Ia percaya, jika NTT dapat memaksimalkan berbagai potensi yang ada, daerah ini akan menjadi salah satu provinsi yang mampu dijadikan sebagai penyedia garam di Indonesia.

Bahkan menurut dia, sejumlah daerah seperti, Nagekeo, Ende, Manggarai serta Sumba juga memiliki potensi untuk pengembangan garam. “Saya Rasa NTT bisa menjadi provinsi pemasok garam terbesar jika kita mau bekerja keras,” pungkasnya.*