Edi Endi Soal Pernyataan Gubernur NTT Sebut Labuan Bajo Kota Terkotor

Edi Endi Soal Pernyataan Gubernur NTT Sebut Labuan Bajo Kota Terkotor

LABUAN BAJO, dawainusa.com Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Nasdem Manggarai Barat (Mabar), Edi Endi turut mengomentari pernyataan Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Viktor Bugtilu Laiskodat yang menyebut Labuan Bajo dan kota Kupang sebagai dua kota terkotor di NTT.

Menurut Edi, untuk Labuan Bajo, apa yang disampaikan oleh Gubernur Viktor sudah tepat dengan kondisi terkini kota pariwisata itu. Karenanya, ia mengharapkan agar ada evaluasi dan refleksi dari pihak terkait untuk pembenahan, sehingga Labuan Bajo menjadi kota yang bersih dan tidak menjadi daerah tumpukan sampah.

“Menurut saya apa yang disampaikan gubernur itu tepat adanya. Harus ada evaluasi dan refleksi. Apa yang disampaikan oleh gubernur itu harus dilihat sebagai motivasi untuk pembenahan,” kata Edi kepada Dawainusa, Jumat (23/11).

Baca juga: Dua Kota yang Paling Kotor di NTT Menurut Viktor Laiskodat

Lebih lanjut Edi mengatakan, apa yang disampaikan oleh gubernur merupakan bentuk perhatian dan tanggung jawabnya sebagai pemimpin di NTT. Apalagi Labuan Bajo merupakan salah satu kota pariwisata yang telah mendunia dan dikenal banyak orang.

“Labuan Bajo sebagai Kota pariwisata selayaknya diperhatikan oleh semua orang apalagi pak gubernur NTT,” katanya.

Sebelumnya, gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat menyebut, Labuan Bajo dan kota kupang sebagai dua kota terkotor di NTT. Hal itu disampaikan viktor saat menggelar dialog bersama civitas akademi dan pimpinan Perguruan Tinggi sedaratan Timor, Alor dan Rote Ndao di Hotel Aston Kupang, Rabu, (21/11).

Menurut Viktor, jika dibandingkan dengan kota-kota lain di NTT, kedua kota ini paling kotor dan sampah berserakan di mana-mana.

“Khusus Kota Kupang, sampah berserakan di hampir seluruh ruas jalan utama, terutama sampah plastik. Sedangkan Labuan Bajo itu, sampai lautnya bau akibat banyaknya sampah,” kata Viktor.

Kurangnya Kesadaran Masyarakat

Gubernur Viktor pada kesempatan itu juga mengatakan, kondisi di dua daerah tersebut di atas disebabkan oleh kurangnya kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan sehingga membuang sampah secara sembarangan.

Ia kemudian mengajak seluruh perguruan tinggi yang ada di NTT untuk bersama seluruh masyarakat berpartisipasi penuh dalam menjaga dan melindungi alam NTT dengan tidak membuang sampah di tempat yang salah.

“Dengan kondisi kota yang kotor, akan sulit bagi daerah untuk menjual sektor pariwisata, sehingga kita semua harus bersama-sama mengatasinya,” kata dia.

Baca juga: Di Balik Rencana Gubernur NTT Tutup Akses Masuk ke Taman Nasional Komodo

Soal masalah penangganan sampah, jauh sebelumnya, mantan Ketua fraksi DPR RI Nasdem itu dengan tegas menyampaikan dirinya akan memberi sanksi bagi masyarakat NTT terutama masyarakat kota Kupang yang membuang sampah sembarangan. Terobosan itu katanya dikonsultasikan dengan Wali Kota Kupang, Jefri Riwu Kore.

“Saya sudah perintahkan kepada pak wali kota untuk sampah tidak boleh ada, yang buang sampah sembarangan. Di pantai – pantai pantai tidak boleh ada sampah,” ucapnya.

Adapun sanksi yang dimaksudkan Viktor adalah setiap masyarakat kota kupang yang kedapatan membuang sampah tidak pada tempatnya akan dikenai sanksi dengan denda Rp 50.000. “Warga Kota Kupang yang membuang sampah sembarangan didenda Rp 50.000,” katanya.

Untuk itu kata Viktor, setiap 50 meter dari seluruh jalan, harus punya bak sampah. “Kita kenakan denda uang, supaya bersih dan tertib,” ungkap Viktor.*

COMMENTS