Dawainusa.com — Presiden Filipina Rodrigo Duterte mengancam akan membunuh semua pasien terinfeksi virus corona (Covid-19) lantaran petugas medis mengkhawatirkan sistem fasilitas kesehatan di negara tersebut.

Presiden berwajah otoriter itu menangkap kelelahan para petugas media selama penanganan Covid-19. Namun ia mengecam gerutuan para dokter terkait fasilitas kesehatan yang membuat kasus di negara itu terus melonjak.

Pada Selasa (4/8) sore, otoritas kesehatan setempat melaporkan ada 112.593 kasus setelah mengalami penambahan sebanyak 6.352 kasus baru, melansir situs Worldometers. Negara kepulauan itu persis berada di bawah Indonesia dengan 115.056 kasus.

“Saya telah mendengar Anda. Jangan kehilangan harapan. Kami sadar Anda lelah,” kata Duterte dalam pidatonya yang disiarkan televisi lokal, Senin (3/8).

“Anda benar-benar tidak mengenal saya. Anda ingin revolusi? Kalau begitu katakan. Silakan, coba saja. Kami akan menghancurkan segalanya. Kami akan membunuh semua orang yang terinfeksi Covid,” tambah Duterte dengan nada marah.

Kemarahan Duterte tidak beralasan karena para dokter yang mengeluhkan penanganan pasien Covid-19 tidak menyatakan akan melakukan revolusi untuk menggulingkannya.

Sebelumnya, memang ada 80 kelompok yang mewakili 80.000 dokter dan perawat menyerukan untuk pengawasan yang lebih ketat di Manila dan provinsi di sekitarnya karena adanya ribuan kasus baru Corona tiap harinya.

Duterte barangkali menangkap opini yang berkembang mengenai seruan para dokter tersebut sebagai tindakan revolusi terhadap pemerintahannya.

 Filipina Kembali Lockdown

Akibat kasus yang terus meningkat, otoritas Filipina kembali memerintahkan untuk menerapkan lockdown yang dimulai pada 4-18 Agustus 2020.

Sebelumnya, lockdown di Manila telah dilonggarkan pada 1 Juni lalu setelah lockdown selama dua bulan ketika virus masuk ke negara itu.

Juru bicara kepresidenan Filipina Harry Roque menuturkan bahwa lockdown lebih ketat atau yang disebut ‘Modified Enhanced Community Quarantine’ (MECQ) akan diterapkan di ibu kota Manila dan provinsi sekitarnya, seperti Laguna, Caviet, Rizal dan Bulacan.

Roque menyatakan bahwa lockdown lebih ketat. Transportasi umum di area Manila dan sekitarnya akan dihentikan sementara dan hanya perjalanan penting yang diperbolehkan.

Sejumlah aktivitas bisnis juga akan ditutup sementara selama lockdown lebih ketat diberlakukan di ibu kota Filipina tersebut dan sekitarnya.

Meski telah di-lockdown, Duterte menolak keras menerapkan lockdownketat di Manila. Hal ini karena masalah ekonomi yang tengah dialami masyarakat di negara itu.

Di sisi lain, Duterte menyetujui mempekerjakan tambahan 10.000 profesional medis baru dan insentif bagi petugas kesehatan yang merawat pasien Covid-19.*