Dua Alasan Sinta Wahid Masuk Daftar 11 Perempuan Berpengaruh Dunia

Dua Alasan Sinta Wahid Masuk Daftar 11 Perempuan Berpengaruh Dunia

Sinta Nuriyah Wahid, istri mantan Presiden keempat (alm) KH Abdurrahman Wahid masuk ke dalam daftar 11 perempuan berpengaruh di dunia versi New York Times. (Sinta Wahid diantara biarawan-biarawati Katolik - ist)

JAKARTA, dawainusa.com Sinta Nuriyah Wahid, istri mantan Presiden keempat (alm) KH Abdurrahman Wahid masuk ke dalam daftar 11 perempuan berpengaruh di dunia versi New York Times.

Dua alasan yang menjadikan Sinta masuk dalam lingkaran tersebut, yakni dirinya dianggap konsisten menyerukan Islam yang toleran sekaligus seorang feminis dalam ajaran tersebut. Semangat ini pula yang ditunjukkan Gus Dur saat masih menjabat sebagai presiden.

Sosok Gus Dur tak asing dengan gagasan toleransi antarumat beragama. Bagi Indonesia dan dunia, sosok Presiden keempat RI itu nomor wahid bila berbicara soal toleransi.

Baca juga: Megawati: Kok Cari Pemimpin Susah, Akhirnya Ketemu Deh Bupati Ngada

Merawat toleransi bagi Gus Dur merupakan proses penting untuk menciptakan keharmonisan hubungan antarumat beragama. Toleransi itu tidak hanya untuk menciptakan, tetapi juga merawat. Gus Dur sadar betul bahwa keharmonisan harus dijaga karena akan sulit memulihkan bila sudah retak.

Oleh karena itu, setiap bangsa, termasuk Indonesia, setidaknya perlu memiliki kemampuan pemulihan hubungan.

“Kegagalan dalam hal ini (memulihkan hubungan) dapat mengakibatkan ujung traumatik yang mengerikan: terpecah-belahnya kita sebagai bangsa,” tulis Gus Dur dalam judul ‘Islam dan Hubungan Antarumat Beragama’ dalam harian Kompas, Senin 14 Desember 1992.

Semangat yang dihidupi Gus Dur rupanya telah menular ke sang istri. Hingga saat ini, Sinta pun masih diperhitungkan di kalangan kelompok minoritas.

Mengutip Times, Sinta sempat didatangi satu kelompok transgender yang ingin membuka kembali pesantren karena ditutup organisasi Islam garis keras.

Organisasi menutup pesantren itu di tengah memburuknya perlakuan terhadap kaum LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual and Transgender).

“Semua orang punya hak untuk menyembah Tuhan, tak hanya segelintir orang. Itu adalah ajaran Islam,” kata Sinta dikutip dari Times pada April lalu.

Sinta juga bersikap ketika sebagian warga ramai-ramai ‘membenci’ Ahok dalam kasus dugaan penistaan agama oleh bekas gubernur DKI Jakarta itu terkait dengan pengutipan Al Maidah.

Di tengah situasi panas tersebut, Sinta justru menyatakan Ahok berani mengambil posisi di antara kelompok dominan.

Tak hanya itu, selama 16 tahun terakhir ia bersafari tiap Ramadan tiba. Sinta mengadakan buka puasa bersama di berbagai kota di Indonesia untuk menumbuhkan rasa toleransi.

Perjuangan untuk Perempuan

Yayasan Puan Amal Hayati, menjadi corong perjuangan Sinta. Bersama yayasan itu pula Sinta memperjuangkan hak-hak perempuan yang nyatanya masih tersisihkan di negeri ini.

Lembaga sosial yang berdiri pada 3 Juli 2000 ini memiliki tujuan untuk mewujudkan masyarakat yang terbebas dari kekerasan berdasarkan prinsip-prinsip moral, agama, dan kemanusiaan, khususnya bagi kaum perempuan serta menjadikan pesantren sebagai basis gerakan penghapusan kekerasan terhadap perempuan.

Melalui yayasan tersebut, Sinta berharap perempuan Indonesia tidak hanya berperan untuk keluarga di rumah, namun lebih bisa berperan aktif kepada masyarakat luas dengan peran dan keahlian masing-masing.

Baca juga: Jangan Pakai Dana APBD untuk Sambut Yesus

Di balik kegigihan Sinta berjuang untuk perempuan, pluralisme, dan toleransi, nama almarhum KH Abdurrahman Wahid selalu menjadi sorotan. Ya, Sinta sangat beruntung memiliki seorang suami yang memiliki pemikiran sejalan dengannya dan selalu mendukung aktivitasnya.

Nyatanya, Ketua Umum PBNU periode 1984-1999 itu memang guru bagi Sinta, teman hidup sekaligus sahabat dalam perjuangannya.

Pernah dalam sebuah talkshow ia menyatakan bahwa dirinya menolak poligami. Hal tersebut diungkapkan, setelah dirinya mendengar soal seorang pria yang dikabarkan bisa adil terhadap 12 istrinya.

“Siapa yang bisa adil pada banyak istri? Tidak ada!” tegasnya.

Selain Sinta, terdapat perempuan lain yang punya kisah perjuangan yang berbeda, namun memiliki pengaruhnya masing-masing kepada sekitar.

Para perempuan itu antara lain adalah Manal al-Sharif seorang aktivis hak perempuan di Arab Saudi; Emma Morano, orang tertua di dunia yang hidup selama 117 tahun; Margot Wallstrom, Menteri Luar Negeri Swedia; Henda Ayari, aktivis sekaligus penggiat kampanye #MeToo, dan Asli Erdogan, seorang novelis.* (AT)