Drama Ratna Sarumpaet dan Propaganda ala Rusia

Drama Ratna Sarumpaet dan Propaganda ala Rusia

JAKARTA, dawainusa.com Drama Ratna Sarumpaeat cukup menyedot perhatian publik. Tak sedikit elit tanah air yang terkeco dan harus meminta maaf ke publik. Sejumlah kegaduhan beberapa hari ini setidaknya menjadi efek nyata kebohongan yang dilakukan Sarumpaet.

Sejumlah analisis pun mulai berkembang, khusunya dari poros petahana. Analisis tersebut mengarah pada dugaan di balik kebohongan Ratna yaitu adanya teknik propaganda ala Rusia yang dikenal sebagai firehose of the falsehood.

Dugaan ini disampaikan Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Maruf Amin, Arsul Sani. Arsul menjelaskan, teknik propaganda ala Rusia tersebut memiliki ciri khas, yakni melakukan kebohongan-kebohongan nyata untuk membangun ketakutan publik.

Baca juga: Sejumlah Fakta di Balik Penangkapan Ratna Sarumpaet

Ia menyebut kebohongan dengan teknik propaganda tersebut juga dilakukan berulang kali. Adapun tujuan dari firehose of the falsehood yaitu untuk mendapat keuntungan politik sekaligus menjatuhkan posisi politik lawannya.

Atas dugaan tersebut, Arul mendesak kepolisian untuk menyelidiki kasus tersebut secara lebih luas, tidak hanya sebatas pada unsur-unsur pasal pidana yang dipersangkakan.

“Lebih jauh dari itu diharapkan menyelidiki kasus ini dalam spektrum yang lebih luas, yakni ada tidaknya penerapan teknik propaganda ala Rusia yang dikenal sebagai firehose of the falsehood,” ujar Arsul dalam pesan singkat, Jumat (5/10).

Dugaan penerapan teknik propaganda tersebut, demikian Arsul, diperkuat dengan kejadian-kejadian sebelumnya. Ia mencontohkan soal kejadian terbakarnya mobil pribadi Neno Warisman. Ia melihat kasus tersebut memiliki tujuan yang sama dengan kasus Ratna.

“Sebelumnya dikembangkan pemberitaan tentang pembakaran mobil Neno Warisman yang diselidiki ternyata bukan dibakar oleh orang lain, tapi terjadi korsleting pada mobilnya,” ujarnya.

Tak hanya menimbulkan ketakutan publik, politisi PPP ini menyebut pola propaganda tersebut juga disertai dengan teknik playing victim. Teknik tersebut, meunurutnya mampu membuat publik berpandangan bahwa pelaku adalah korban yang teraniaya oleh satu pihak yang biasanya diasosiasikan dengan kelompok penguasa.

Kebohongan yang Diciptakan

Selain Arsul, Anggota TKN Jokowi-Ma’ruf Budiman Sudjatmiko juga angkat bicara. Budiman menilai, kasus Ratna Sarumpaet merupakan sebuah isu yang terencana yang bukan hanya sekedar kabar bohong.

“Jadi, apa yang terjadi dalam kasus Ratna Sarumpaet adalah bukan sebuah kesalahan, bukan sebuah kekeliruan, tapi suatu kehebohan yang diciptakan, karena memang orang mau dikacaukan dengan kabar palsu,” katanya saat konferensi pers di Cemara, Jumat (5/10) siang.

Baca juga: Sindiran Keras Mahfud MD ke Fahri Hamzah Soal Drama Sarumpaet

Budiman mengatakan, kasus kabar bohong yang disebarkan oleh Ratna, yang dinilai tak bisa dicek kebenarannya, memang digunakan untuk mengeksploitasi sisi emosional masyarakat Indonesia.

“Dan itu sudah dipetakan bahwa ada bagian otak kita yang namanya amygdala, yang mana merasa sangat jijik dan rasa takut pada yang berbeda, itu dieksploitasi sehingga kemudian manusia tidak diberi kesempatan untuk berpikir jernih dan waras. Informasi yang datang begitu saja langsung dianggap ancaman terhadap diri kita,” katanya.

Budiman menuding bahwa isu kabar bohong oleh Ratna Sarumpaet, terlepas dari benar atau tidaknya kabar itu, adalah isu terencana karena yang ingin disasar ialah anggapan bahwa Presiden Joko Widodo akan mengancam hidup masyarakat Indonesia.

“Orang kritis saja bisa dipukul, apalagi kita. Isu bahwa wanita berumur 70 tahun dipukul itu dieksploitasi oleh bahkan Pak Prabowo sendiri, dan tim lainnya. Untuk menciptakan ketakutan bahwa siapapun bisa terjadi seperti bu Ratna. Kira-kira begitu,” katanya.

Berpotensi Memecah Belah

Pendapat lain dikemukakan Anggota Dewan Penasihat TKN Grace Natalie. Ia bersyukur polisi telah menangkap Ratna dan menetapkannya sebagai tersangka kasus hoaks.

Menurut Grace, hoaks dari Ratna beberapa hari lalu bisa berbahaya jika tidak segera terbongkar. Ia menyebut kabar bohong dari Ratna berpotensi memecah belah masyarakat.

Baca juga: Soal Kebohongan Ratna, Ini Komentar Lima Selebritis Tanah Air

“Bayangkan kalau rakyat benar-benar menyangka bahwa Bu Ratna memang dianiaya secara sadis. Tidakkah itu akan menimbulkan kemarahan dan bahkan pembalasan berbentuk serangan fisik?” kata Grace.

Terakhir, pendapat dikemukakan Wakil Ketua TKN Abdul Kadir Karding. Menurutnya, Ratna memiliki motif memberi cap kepada Jokowi sebagai pemimpin yang zalim. Motif itu menjadi dasar dibuat dan disebarkannya hoaks pemukulan Ratna.

“Oleh karena itu seluruh dugaan penyebaran hoaks menurut saya polisi harus memproses secara hukum dan harus dicari betul. Karena itu sangat merugikan,” tutur Karding.

Saat ini, Ratna menyandang status tersangka karena diduga melanggar Pasal 14 dan Pasal 15 UU No 1 tahun 1946 tentang tindak pidana membuat kegaduhan di masyarakat dengan menyebarkan hoaks dan Pasal 28 ayat (2) UU ITE.*