Drama Kebohongan dan Kemungkinan Mythomania pada Sarumpaet

Drama Kebohongan dan Kemungkinan Mythomania pada Sarumpaet

FOKUS, dawainusa.com – Belakangan ini, publik Indonesia dihebohkan dengan drama yang dilakukan oleh Ratna Sarumpaet yang menciptakan narasi palsu bahwa dirinya dianiaya oleh sejumlah orang tak dikenal di Bandung pada 21 September lalu.

Kabar palsu ini mulai muncul di hadapan publik ketika linimasa media sosial dibanjiri dengan foto yang menampilkan wajah Ratna Sarumpaet dengan latar ruangan kamar di sebuah rumah sakit. Dalam foto tersebut, ditampilkan wajah seorang Ratna Sarumpaet yang terlihat lebam dan sadis, seperti baru saja dipukul atau dikeroyok orang.

Netizen yang melihat foto itu pun langsung menaruh ibah atas nasib yang ditimpah oleh seorang yang biasa dikenal sebagai aktivis kemanusiaan itu. Banyak orang yang melayangkan sikap atasnya, mulai dari rasa simpati, empati hingga kritikan dan kecaman kepada pelaku yang dituding telah menganiaya Ratna Sarumpaet.

Baca juga: Polisi Didesak Usut Aktor di Balik Kebohongan Ratna

Drama penganiayaan Ratna Sarumpaet ini semakin dipercayai publik sebagai kebenaran ketika Wakil Ketua Tim Badan Pemenangan Nasional Prabowo-Sandiaga, Nanik S Deyang pada 2 Oktober lalu menjelaskan kronologi kejadian itu.

Dalam penjelasannya, ia mengatakan bahwa Ratna mengalami hal seperti yang terlihat di foto itu karena dipukul oleh tiga orang tak dikenal pada 21 September lalu di sekitar Bandara Husein Sastranegara, Bandung malam hari.

Saat itu, demikian penjelasan Nanik, Ratna Sarumpaet baru saja menghadiri acara konferensi dengan peserta beberapa negara asing di sebuah Hotel. Ia saat itu naik taksi bersama peserta dari Sri Lanka dan Malaysia. Namun tiba-tiba, taksi yang ditumpangi mereka itu dihentikan di sebuah tempat yang agak jauh dari keramaian.

“Nah saat dua temannya yang dari luar negeri turun dan berjalan menuju Bandara, Mbak Ratna ditarik tiga orang ke tempat gelap, dan dihajar habis oleh tiga orang, dan diinjak perutnya,” kata Nanik.

Sarumpaet

Wajah Lebam Ratna Sarumpaet akibat Sedot Lemak – ist

Diakui sebagai Sebuah Kebohongan

Kejadian bohong yang dinarasikan sedemikian rupa itu tidak hanya menghebohkan publik Indonesia pada umumnya. Bahkan berita itu sempat membuat sejumlah elit dan politisi di Indonesia terjebak dalam cerita palsu tersebut.

Sebut saja di antaranya ialah Calon Presiden RI Prabowo Subianto, Calon Wakil Presiden RI Sandiaga Uno, Ketua Dewan Pembina PAN Amien Rais, Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon dan Fahri Hamzah.

Entah karena sengaja atau tidak, sejumlah elit tersebut dengan mudah terjebak dan mengakui kejadian penganiayaan terhadap Ratna Sarumpaet itu sebagai sebuah kebenaran.

Sebagai respon atasnya, mereka kemudian dengan semangat melakukan konferensi pers untuk memberikan sikap atas kejadian tersebut. Dalam konferensi persnya, juru bicara saat itu, yakni Prabowo Subianto mengucapkan prihatin atas nasib yang dialami Ratna Sarumpaet itu.

Kejadian penganiayaan ini, demikian Prabowo, merupakan sebuah bentuk pelanggaran terhadap hak asasi seorang Ratna Sarumpaet, sekaligus menindas segala hak sipilnya sebagai warga negara yang seharusnya mendapat perlindungan secara konstitusional dari negara.

Baca juga: Drama Ratna Sarumpaet dan Propaganda ala Rusia

“Apa yang dialami Ibu Ratna ini tindakan yang di luar kepatutan, tindakan jelas melanggar HAM dan tindakan pengecut karena dilakukan terhadap ibu-ibu yang usianya sudah 70 tahun,” ungkap Prabowo di Kertanegara IV, Jakarta Selatan, Selasa (2/10).

Di tengah perhatian dan publik mulai percaya atas kabar penganiayaan itu, tiba-tiba Ratna Sarumpaet sendiri muncul ke publik dan melakukan jumpa pers pada 2 Oktober lalu. Dalam jumpa pers itu, ia secara terang-terangan memberikan klarifikasi bahwa kabar soal penganiayaan terhadap dirinya itu sebenarnya ialah sebuah kebohongan.

Ratna mengaku bahwa informasi soal penganiayaan dan pengeroyokan terhadap dirinya oleh sejumlah orang tak dikenal di Bandung itu ialah kejadian palsu. Atas hal tersebut, ia bahkan dengan berani menjuluki dirinya sebagai seorang pencipta hoaks terbaik di Indonesia karena telah berhasil menipu sekian banyak orang.

“Kali ini saya pencipta hoaks terbaik ternyata, menghebohkan semuanya” kata Ratna Sarumpaet dalam jumpa pers di kediamannya, Jl. Kampung Melayu Kecil V/24, Bukitduri Jakarta Selatan, Rabu (3/10).

Klarifikasi Ratna Sarumpaet ini mengejutkan banyak orang. Tidak sedikit orang mempertanyakan motif di balik drama kebohongan yang sedang diperankan oleh Ratna tersebut. Apalagi, Prabowo Subianto cs sudah terlibat di dalam kebohongan itu.

Atas kejadian itu, publik kemudian memberikan suatu sikap kritis atasnya. Kenapa sebenarnya Ratna Sarumpaet melakukan kebohongan itu dan dengan penuh jujur kemudian mengakuinya di hadapan publik? Apa sebenarnya motif yang melatari seorang Ratna Sarumpaet melakukan hal demikian.

Kemungkinan Mythomania pada Ratna Sarumpaet

Tentu untuk menjawab pertanyaan tersebut, akan ada banyak kemungkinan yang bisa disampaikan. Tetapi, sangat menarik bahwa dalam klarifikasinya, Ratna Sarumpaet sempat mengucapkan dalil yang mengejutkan sehingga ia nekad untuk berbohong.

Dalam keterangan yang disampaikannya, ia sempat menerangkan bahwa pembohongan yang dilakukannya itu sebenarnya sengaja ia ciptakan. Akan tetapi, sebenarnya, ia merancang kebohongan itu bukan untuk kepentingan publik.

Ratna menjelaskan, cerita bahwa mukanya menjadi lebam sehingga terlihat sadis itu sebenarnya ialah akibat dari operasi plastik atau sedot lemak di wajahnya yang dijalaninya di Rumah Sakit Bina Estetika, Menteng, Jakarta Pusat. Setelah menjalani operasi itu, ia tidak memiliki cara untuk menjelaskan kepada pihak keluarga soal kondisi wajahnya tersebut.

Dengan terpaksa ia menceritakan suatu yang bohong kepada keluarganya bahwa hal itu dialaminya karena dikeroyok dan dipukuli oleh sejumlah orang yang tidak diketahui identitasnya. “Saat saya pulang saya butuh alasan untuk anak saya kenapa wajah saya lebam, saya jawab dipukul orang,” kata Ratna.

Baca juga: Bayar Oplas, Ratna Sarumpaet Diduga Pakai Dana Bantuan Korban Toba

Alasan kebohongan yang dilakukan oleh Ratna terhadap keluarganya itu tentu menarik untuk dilihat lebih jauh. Publik bisa bertanya, kenapa ia harus melakukan pembohongan kepada keluarganya sendiri soal wajahnya itu? Bukankah apa yang dilakukannya, yakni soal operasi plastik itu justru tidak ada masalahnya apabila ia menceritakan yang sesungguhnya kepada pihak keluarga?

Atau ada ketakutan apa Ratna Sarumpaet terhadap keluarganya sehingga ia tidak berani mengungkapkan yang sebenarnya bahwa lebam di wajahnya itu ialah hanya efek dari sedot lemak yang dijalaninya? Bagaimana sebenarnya kondisi relasi Ratna dengan keluarganya sehingga ia tidak menceritakan yang sejujurnya kepada mereka soal itu?

Beberapa pertanyaan tersebut memang bersifat privat. Akan tetapi, duduk perkara yang mau digali dari pertanyaan itu ialah soal motif di balik narasi kebohongan dari Ratna Sarumpaet.

Dengan mencermati alasan yang diucapkan oleh Ratna Sarumpaet soal kebohongan yang diciptakannya itu, analisis psikologis mungkin bisa menjadi salah satu pisau untuk menggeledah motifnya secara lebih dalam. Dalam ilmu psikologis, dikenal sebuah penyakit yang disebut Mythomania.

Dilansir doktersehat, Mythomania adalah sebuah gangguan psikis yang diderita oleh seseorang dan  kemudian memengaruhi serta mendorong orang tersebut melakukan perbuatan atau tindakan berbohong kepada orang lain.

Tujuannya ialah untuk mendapat pengakuan dari lingkungan sekitarnya, pengakuan terhadap kenyataan yang ingin ia wujudkan demi melarikan dirinya dari kenyataan yang sebenarnya yang tidak mau ia terima, dengan tanpa rasa menderita ataupun perasaan bersalah.

Orang yang menderita gangguan ini cenderung tidak mempedulikan dampak dari kebohongan yang ia ciptakan bagi orang di sekitarnya. Yang terpenting bagi dia ialah tujuan proteksi dan pengakuan diri dari orang lain itu menjadi tercapai atau terpenuhi.

Penyebab adanya mythomania ini ialah adalah penderita mengalami berbagai macam kegagalan di dalam kehidupannya. Kegagalan-kegagalan yang dimaksudkan itu bisa berupa kegagalan dalam hal studi, masa kecil, percintaan, kondisi keluarga, kisah-kisah sentimental, bahkan kegagalan dalam hal pekerjaan.

Secara singkat, seorang yang mengalami gangguan seperti ini, sebenarnya sedang berusaha ingin melarikan diri dari semua masalah tentang dirinya sendiri. Jadi, semakin orang lain mempercayai kebohongannya, semakin ia terbantu untuk lepas dari segala persoalan nyata tentang dirinya yang sulit ia terima itu. Ia yang asli akan selalu bersembunyi di balik narasi kebohongan yang ia ciptakan.

Mythomaniac atau orang yang terkena mythomania ini sebenarnya adalah korban. Ia merupakan korban dari ketidakbahagiaan dalam hidupnya dan korban dari penderitaan yang terlalu terus menerus. Ia tidak mampu mengekspresikan keaslian dirinya sehingga selalu ingin bersembunyi di balik topeng.

Kebohongan yang dilakukan oleh Ratna Sarumpaet terhadap pihak keluarganya itu dan kemudian berpengaruh kepada publik bisa jadi merupakan tanda bahwa dirinya ialah seorang mythomaniac. Ia sengaja tidak menceritakan bahwa wajahnya menjadi lebam karena operasi sedot lemak karena di dalam dirinya ada semacam ketakutan terhadap keluarga.

Mungkin ia berpikir bahwa jika ia mengatakan yang sebenarnya kepada pihak keluarganya, ia akan mendapat kemarahan dari mereka. Atau lebih parah dari itu, ia mungkin berpikir bahwa dirinya akan dilempari ‘batu’ dari keluarganya ketika ia menyatakan bahwa ia telah menghabiskan uang untuk operasi kecantikan. Sehingga, satu-satunya cara untuk melarikan diri dari bahaya itu ialah dengan cara berbohong.

Ia menceritakan sesuatu yang tidak benar kepada keluarganya dengan tujuan untuk mendapat simpati, perhatian, dan pengakuan lebih dari keluarganya soal kondisi yang sedang dialaminya itu. Tentu semua ini merupakan spekulasi belaka. Kebenaran yang sesungguhnya soal kebohongan ini tetap ada di dalam diri Ratna Sarumpaet itu sendiri.*