Dokter Ini Meninggal Setelah Rawat 40 Pasien Sepanjang Malam

Dokter Ini Meninggal Setelah Rawat 40 Pasien Sepanjang Malam

Seorang dokter di Rumah Sakit Universitas Qinghai, China menghembuskan nafas terakhir setelah merawat 40 pasien sepanjang malam di Unit Gawat Darurat (UGD) di Rumah Sakit tempat ia mengabdi. (Foto: Ilustrasi - Ist).

BEIJING, dawainusa.com Guo Qingyuan, seorang dokter di Rumah Sakit Universitas Qinghai, China menghembuskan nafas terakhir, Kamis (25/1) Waktu setempat.

Pria berusia 43 tahun itu meninggal setelah merawat 40 pasien sepanjang malam di Unit Gawat Darurat (UGD) di Rumah Sakit tempat ia mengabdi. Ia diduga meninggal karena kelelahan.

Dilansir Xining Evening News, Jumat (26/1), setelah merawat pasiennya, ia mengalami rasa sakit di dada, jantung berdebar, dan sulit bernafas.

Baca juga: Karena Depresi, Aktor Korea Jeon Tae Soo Meninggal Dunia

Karena itu, dirinya mendaftarkan diri untuk dirawat. Namun, nasib berkata lain, setelah dirawat selamat 4 jam, ia menghembuskan nafas terakhir.

Kepergiannya meninggalkan luka dan duka bagi buah hatinya dan juga pendamping hidupnya. Kepergiannya terlalu cepat, di usia yang masih terlalu muda, yakni 43 tiga tahun. Anak-anaknya masih kecil dan masih sangat membutuhkan sentuhan kasih sayangnya.

Diiformaskan, dokter Guo Gingyuan meninggalkan seorang putra berusia dua bulan dan seorang putri berusia 10 tahun dari pernikahannya dengan seorang yang juga berprofesi sama. Diinformasikan juga, istrinya bekerja di Rumah Sakit yang sama dengan ayah dua anak tersebut.

Guo Meningal,  Warganet  Sedih

Kematian Guo mengundang reaksi warganet. Banyak yang mengungkapkan rasa sedih mendalam dan mengucapkan belansungkawa terhadap keluarga yang ditinggalkan terutama kepada istri dan dua orang anaknya.

“Keluarganya pasti amat kehilangan, istri dan kedua anaknya. Dokter UGD memiliki tugas berat dan mereka harus bekerja tanpa henti,” ujar seorang netizen.

Baca juga: Mengharukan, Sepucuk Surat Jonghyun Sebelum Meninggal Bunuh Diri

Sementara, warganet lain juga mengungkapkan apresiasi terhadap semua yang berprofesi sebagai dokter. Para dokter sering mengorbankan kesehatan bahkan nyawa diri sendiri demi pasien-pasien mereka. Mereka terlalu fokus pada kesehatan orang lain sampai kesehatan diri sendiri seringkali diabaikan.

“Banyak orang tak memahami pekerjaan para dokter. Namun, saya tahu, setelah melahirkan, mereka bahkan sering tak punya waktu untuk makan dan istirahat karena tahu pasien berikutnya akan datang. Salut untuk semua pekerja medis,” ujar netizen lainnya.

Warganet berkicau, kejadian yang menimpa Guo menjadi pelajaran untuk tenaga medis di negeri komunis tersebut. Mereka menghimbau agar para dokter selain merawat kesehatan para pasien juga tidak sampai melupakan kesehatan pribadi.

Dokter Guo Bukan Yang Pertama

Dokter yang meninggal karena kelelahan di negeri tirai bambu itu bukan yang pertama kali terjadi. Sebelumnya pernah terjadi yang menimpa seorang dokter spesialis penyakit pernapasan, Zhao Bianxiang. Ia ditemukan tergeletak tak sadarkan diri di RS Distrik Yuci, kota Jinzhong, Provinsi Shanxi, China, 29 Desember 2017 lalu.

Setelah dirawat selama beberapa jam, dokter yang masih bujang itu pun meninggal, pada tanggal 30 Desember 2017. Kesedihan pun menghinggapi hati keluarga dan rekan-rekannya. Ia meninggal setelah bekerja tanpa henti selama 18 jam sebelum terkena stroke dan meninggal. Ia mengalami pendarahan pada otaknya.

Kesaksian rekannya, Zhao dikenal sebagai pekerja keras. Ia selalu mengutamakan kerja daripada kesehatan pribadi. Kerja keras Zhao dikenang oleh rekan-rekannya.

Baca juga: Mengenang Dolores, Pelantun Zombie yang Meninggal Tiba-Tiba

Seorang kolega Zhao juga menuturkan, pada musim dingin para dokter biasanya kewalahan menangani pasien. Umumnya, pasien anak- anak dan penderita gangguan pernafasan.

“Di musim dingin, sebagian besar pasien adalah anak-anak dan penderita gangguan pernapasan. Mereka biasanya kewalahan menangani semua itu,” ujar seorang kolega Zhao.

Zhao meninggalkan kedua orang tuanya yang sudah berusia 80-an tahun. Hari-harinya selain bekerja di Rumah Sakit juga merawat kedua orang tuanya. Kepergiannya membuat pilu ayahanda dan ibundanya. Mereka harus rela kehilangan seorang anak yang setia merawat mereka.*