Doa Lintas Iman: Seorang Mahasiswi Muslim Peluk Suster Lili Sambil Menangis

Doa Lintas Iman: Seorang Mahasiswi Muslim Peluk Suster Lili Sambil Menangis

Sebagai manusia, setiap orang harus menyadari bahwa perbedaan tidak bisa dimungkiri. Karena itu, setiap manusia harus saling menghormati dan mengasihi satu sama lain, bukan justru saling menyakiti. (Foto: Suster Lili dan Olivia - Kompas.com)

YOGYAKARTA, dawainusa.com Di anak tangga depan Auditorium Driyarkara Universitas Sanata Dharma (USD), Yogyakarta, Suster Lili dan Olivia Prisandara berdiri berdampingan dengan berbagai Mahasiswa dari berbagai agama. Jari tangan keduanya tampak menyatu, menggengam sebuah lilin yang sedang menyala.

Mereka berkumpul untuk memanjatkan doa mohon perdamaian dan kerukunan Indonesia. Doa dipimpin Secara bergantian oleh Mahasiswa yang datang dari latar agama, suku dan budaya yang berbeda-beda.

Di keheningan malam dan diterangi cahaya lilin, suasana tampak khusuk. Dalam lantunan doa, Olivia Prisandara tak kuasa menahan air matanya. Olivia menyandarkan kepalanya ke Suster Lili yang tepat berdiri di samping kanannya. Tangannya memeluk suster yang belum dikenalnya itu.

Baca juga: Amien Rais: Ada Kekuatan Siluman di Balik Penyerangan Gereja Santa Lidwina

Suster Lili tampak mencoba menenangkan. Tangannya mengelus pundak kiri Olivia. Sementara jari keduanya masih tetap bersama-sama mengengam lilin yang menyala hingga lantunan doa untuk kedamaian Indonesia selesai dipanjatkan.

Seusai acara, Suster Lili tampak menjulurkan tangannya dan mengusap air mata yang masih tersisa di pipi Olivia. Keduanya lantas kembali duduk, berkenalan, dan berbincang-bincang santai.

Sebelum Berpisah, Olivia Abadikan Foto bersama Suster Lili

Sebelum saling berpisah, Olivia dan Suster Lili tak lupa mengabadikan momen perjumpaan yang mengarukan itu dengan berfoto bersama.

“Saya pusing, sedih, kenapa sih ribut terus. Selalu terulang di Indonesia ini, cukuplah, jangan sampai ada lagi. Kasihan orang-orang tidak bersalah dianggap salah dan menjadi korban,” ujar Olivia Prisandra (19) seusai doa lintas iman di halaman Auditorium Driyarkara USD, Selasa (13/2).

Baca juga: PMKRI Jogja: Penyerangan di Gereja Sta. Lidwina adalah Tindakan Teror yang Harus Dilawan

Mahasiswi Jurusan Pendidikan Sejarah USD ini menyampaikan, sebagai manusia, setiap orang harus menyadari bahwa perbedaan tidak bisa dimungkiri. Karena itu, setiap manusia harus saling menghormati dan mengasihi satu sama lain, bukan justru saling menyakiti.

“Kita ini manusia yang mempunyai hati, bukan hewan atau tumbuhan, kenapa harus menyakiti. Saya dan suster berbeda agama, tetapi kami ini sama manusia,” ucapnya.

Kemajemukan Indonesia, sambung dia, merupakan kekayaan dan bukan menjadi alasan saling bermusuhan. Perbedaan harus terus dijaga dengan saling menghormati dan bertoleransi satu sama lain.

“Kita multikultural, majemuk, ya, inilah Indonesia. Alangkah baiknya saling menghargai, saling toleransi. Rasa nasionalisme itu harus ditumbuhkan sebagai sesama anak Indonesia yang senasib sepenanggungan,” tandasnya.

Sebelumnya Tidak Saling Mengenal

Suster Lili (38) mengungkapkan, awalnya memang tidak kenal dengan perempuan yang berdiri di sebelahnya meski ternyata sama-sama mahasiswa USD Yogyakarta. Ia baru berkenalan setelah acara doa bersama lintas iman selesai.

“Tadi belum kenal, awalnya dia menghidupkan lampu handphone, lalu kami berbagi menggenggam lilin bersama-sama. Tiba-tiba dia menangis, merangkul, saya mencoba langsung menenangkan,” urainya.

Baca juga: Terungkap, Pelaku Teror di Gereja Sta. Lidwina Sempat Ingin ke Suriah

Kehadirannya di acara doa lintas iman tidak lain untuk bersama-sama memohon kepada Tuhan untuk perdamaian Indonesia. Selain itu, ia juga merasa prihatin dengan berbagai situasi intoleransi di Indonesia.

“Kita ini satu, kita saling bersaudara, kita sama-sama prihatin dengan situasi seperti kemarin,” ucapnya.

Suster Lili menyampaikan, selama ini ia memiliki banyak teman dari agama berbeda. Selama pertemanan, semua baik-baik saja dan tidak pernah memandang perbedaan.

“Teman-teman saya banyak yang beragama lain. Saya bersyukur dan senang, bersatu, dan bersaudara,” ujarnya.

Doa lintas iman di depan Auditorium Driyarkara ini digelar Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Sanata Dharma. Hadir dalam acara ini antara lain Jaringan Gusdurian, Mahasiswa Atmajaya, berbagai komunitas mahasiswa, dan masyarakat umum.

Para mahasiswa datang untuk berdoa bersama-sama demi kedamaian Indonesia. Mereka bergandengan tangan, bersatu tanpa memandang suku, agama, dan golongan. Mereka berdoa untuk kedamaian Indonesia dan menentang berbagai intoleransi di Indonesia.*