dawainusa.com Beberapa waktu lalu, Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Viktor Bungtilu Lasikodat menyentil Bupati Lembata dan Bupati Rote Ndao, soal pengumuman hasil rapid test ke publik.

Dalam rapat kerja telekonferensi dengan para bupati dan wali kota se-NTT itu, Viktor bahkan tak segan menyebut ‘pemimpin bodoh’ bagi bupati yang mengumumkan hasil rapid test.

Baca juga: Umumkan Hasil Rapid Test, Gubernur NTT Sebut Bupatinya Bodoh

“Pemimpinnya bikin takut dengan mengumumkan hasil positif itu pemimpin bodoh. Jadi pemimpin harus menjaga suasana masyarakatnya agar jangan takut secara berlebihan,” kata Viktor, Kamis (16/4/2020) sore.

Menanggapi hal itu, Bupati Lembata Eliazer Yentji Sunur enggan berkomentar banyak. Ia memilih untuk tidak menanggapi secara berlebihan apa yang disampaikan Gubernur NTT.

“Biar sudah, jangan ditanggapi. Pak Gubernur itu teman saya. Nanti kalau dalam sidang teleconfrence lagi, saya akan bilang, tolong Pak Gubernur, orang bodoh mau bicara, kan begitu,” ujar Sunur, seperti dikutip dari Media Indonesia, Sabtu (18/4).

Meski demikian, Sunur mangaku dirinya tahu apa yang dibutuhkan masyarakat Lembata. Bersama gugus tugas Kabupaten Lembata, dirinya telah bekerja semaksimal mungkin untuk melindungi rakyat dari pandemi Covid-19.

Fungsi Kordinatif Ditingkatkan

Di tengah persebaran Covid-19 yang semakin tinggi, demikian Sunur, koordinasi antara pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten perlu ditingkatkan.

Salah satu koordinasi penting dan mendesak adalah dalam soal pengiriamn sampel tes ke laboratorium di Surabaya, Jawa Timur, agar bisa cepat diketahui hasilnya.

Baca juga: Sempat Sandar di Maumere, Intip Hasil Swab 151 ABK KM Lambelu

Ia juga mengaku, Kabupaten Lembata mengalami kesulitan soal tenaga medis untuk mengantar sampel swab. Apalagi kalau mereka juga harus dikarantina.

“Saya baru dengar kalau sampel swab diantar juga oleh petugas medis ke Surabaya. Ini kalau petugas medis kita yang sudah sedikit ini mengantar sampel swab, belum dikarantina lagi, Lembata akan kesulitan tenaga medis,” katanya.

Bupati Diarang Umumkan Hasil Rapid Test

Sebelumnya, Gubernur NTT Viktor Laiskodat meminta para bupati dan wali kota di wilayahnya, agar tidak lagi mengumumkan hasil rapid test ke masyarakat.

Viktor mengatakan, hasil rapid test yang diumumkan oleh sejumlah bupati, telah menciptakan ketakutan baru di tengah masyarakat.

Baca juga: Tempat Makan Malam 7 Mahasiswa Timor Leste Positif Corona Dicari

“Selain masalah Covid-19, DBD dan kemiskinan, ada juga masalah yang serius yakni ketakutan psikologi publik. Hari ini publik dalam ketakutan yang luar biasa karena itu saya minta kepada para bupati dan wali kota di NTT agar juru bicaranya hanya satu saja,” kata Viktor.

Menurutnya, masih ada proses pemeriksaan lanjutan setelah rapid test, yakni swab test untuk mengetahui apakah seseorang positif Covid-19 atau tidak.

“Kalau hasil rapid test itu, tidak usah diumumkan karena masih ada lagi proses selanjutnya yakni tes swab, yakni sampelnya pasien kita kirim ke Jakarta,” tegasnya.

Viktor pun optimis, akhir bulan April 2020 ini, pihaknya sudah punya laboratorium sendiri, untuk lakukan swab tes.

“Kita doakan, dua minggu dari sekarang kita bisa melakukan tes swab sendiri karena kita akan menyiapkan sarana prasarannya,” tutup Viktor.*