Disekap, Seorang Mahasiswi di Makassar Disetubuhi Berkali-kali

Disekap, Seorang Mahasiswi di Makassar Disetubuhi Berkali-kali

Seorang mahasiswi di salah satu perguruan tingi swasta di Kota Makassar menjadi korban penyekapan sekaligus disetubuhi berkali-kali. (Ilustrasi - subnewsapdate)

MAKASSAR, dawainusa.com Peristiwa naas dialami WP, seorang mahasiswi di salah satu perguruan tingi swasta di Kota Makassar. Gadis berusia 20 tahun itu menjadi korban penyekapan sekaligus budak seks seorang pria bernama Muh. Zulfikar (21).


Penyekapan yang berujung pada pemerkosaan itu awalnya diketahui setelah tim reserse mobil (resmob) mendapatkan informasi dari ibu kandung korban, karena sudah tiga hari tidak pulang ke rumah.

Baca juga: Tiga Tuntutan Kelompok Separatis Papua Dinilai Tidak Masuk Akal

Berbekal informasi itu, tim Resmob Polsek Panakukang kemudian mencari korban. Ternyata, WP yang diketahui memiliki keterbelakangan mental itu, disekap di sebuah kamar indekos di Jalan Abu Bakar, Lambogo, Makassar.

“Tim langsung mendobrak pintu salah satu ruangan di kosan tempat korban disekap,” kata Kapolsek Panakukang Makassar, Komisaris Polisi (Kompol) Ananda Fauzi Harahap, dilansir Liputan6.com, Senin (20/11).

Usai menyelamatkan korban, tim resmob menunggu kedatangan pelaku. Berselang beberapa menit, pelaku datang hendak membawakan korban makanan. Tim pun langsung menyergap dan membawa pelaku bersama korban ke Mapolsek Panakukang, Makassar, untuk diinterogasi.

Dipaksa Berhubungan Badan

Ketika diiterogasi, pelaku yang berdomisili di Jalan Todopuli 3, Makassar itu mengaku pertama kali berkenalan lewat Facebook. Setelah bertemu, pelaku mengajak korban ke kamar kos dan menyekapnya sembari memperkosanya berulang-ulang.

“Pelaku mengaku sudah beberapa kali memaksa korban berhubungan badan. Awal kenalannya dengan korban lewat Facebook. Setelah itu, pelaku mengajak korban ke kamar kos dan menyekapnya sembari memperkosanya berulang-ulang,” kata Ananda.

Setelah pemeriksaan di Mapolsek Panakukang, penanganan lebih lanjut terhadap pelaku penyekapan yang menjadikan korban sebagai budak seks atau pemuas nafsu syahwat tersebut dialihkan ke Polrestabes Makassar. Sebab, di Polsek Panakukang tak ada Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA).

Pernah Terjadi di Medan

Kejadian serupa juga pernah terjadi di Medan setahun yang lalu. GD, seorang gadis yang baru berusia 17 tahun itu disekap dan diperkosa berkali-kali oleh VP (25).

GD merupakan mahasiswi salah satu akademi kesehatan di kota Medan. Dilansir merdeka.com, GD disekap, dibius, dan diperkosa selama berhari-hari oleh VP. Kejahatan tersebut akhirnya dilaporkan GD ke Polresta Medan.

Baca juga: PDIP Diminta Tidak Usung Marianus Sae di Pilgub NTT, Ini Alasannya

Kepada wartawan, GD mengatakan, aksi perkosaan yang menimpa dirinya berawal dari perkenalannya dengan pelaku melalui layanan pesan BlackBerry Messenger (BBM). Setelah perkenalan itu, si pelaku mengajak korban untuk bertemu.

Di sebuah taman, tempat keduanya bertemu, pelaku menawarinya minuman. Setelah meminum air yang diberikan oleh pelaku itulah, korban kemudian merasa pusing dan pingsan.

“Setelah tersadar, tiba-tiba saya sudah berada di satu rumah yang ada di Jalan Klambir V, Desa Tanjung Gusta pada Senin, 30 Mei 2016,” ujar korban.

Saat sadar, korban dalam keadaan tidak mengenakan busana. Ia pun tak bisa berbuat apa-apa karena merasa sangat lemah.

“Antara sadar dan enggak sadar saya dicabulinya. Saya berhasil kabur dari rumah itu,” kata GD.

Komnas Perempuan: Kekerasan Seksual Tempati Pringkat Pertama

Catatan Tahunan (CATAHU) 2017 Komnas Perempuan dalam Catata Tahunan (CATAHU) yang dilounching pada bulan Maret lalu menunjukkan, kekerasan seksual menempati peringkat pertama sebanyak 2.290 kasus.

Urutan kedua diikuti kekerasan fisik sebanyak 490 kasus dan kekerasan lain yaitu kekerasan psikis sebanyak 83 kasus. Sementara buruh migran sebanyak 90 kasus dan trafiking 139 kasus.

Dalam catatanya tersebut, Komnas Perempuan juga menunjukkan bahwa, jenis kekerasan yang paling banyak pada kekerasan seksual di ranah komunitas adalah perkosaan (1.036 kasus) dan pencabulan (838 kasus).* (AT)