Diputus Pacar, Mahasiswa di Surabaya Tega Cabuli Empat Anak SD

Diputus Pacar, Mahasiswa di Surabaya Tega Cabuli Empat Anak SD

SURABAYA, dawainusa.com Gara-gara diputus pacarnya, seorang Mahasiswa di Surabaya, BM (22) tega mencabuli empat orang anak yang masih duduk di Sekolah Dasar (SD). Perbuatan bejat pelaku terbongkar saat orang tua korban melopor ke polisi.

Sesaat setelah menerima laporan korban, polisi bergerak cepat menangkap dan mengamankan pelaku. Dari pelaku polisi mengungkapkan motif di balik perbuatan bejat yang mengorbankan empat anak yang masih polos itu.

“Katanya karena dia baru putus dari pacarnya. Alasaan lainnya terinspirasi setelah bergabung di grup homoseksual di Facebook,” kata Kanit PPA Polrestabes Surabaya AKP Ruth Yeni seperti dilansir Ngopibareng.id, Rabu (5/8).

Baca juga: Kronologi Seorang Kiai yang Mencabuli Santriwatinya Sendiri

Sementara terkait modus pelaku, Yeni mengatakan pelaku membujuk anak agar mau dibawa ke tempat sepi. Selanjutnya korban disuruh membuka celana dengan alasan untuk mengerjakan tugas kuliah. Setelah itu, korban mencabuli para korban.

Pihak kepolisian sejauh ini kata Yeni masih melakukan pengembangan terkait kasus tersebut, sebab bisa saja korban lebih dari empat anak.

“Nanti akan kami dalami. Dari hasil chatting di handphone tersangka yang kami amankan, ada beberapa chatting dengan sejumlah anak lain,” katanya.

Penjelasan Psikologis Terkait Faktor Maraknya Kasus Pencabulan Terhadap Anak

Kasus pencabulan terhadap anak yang dilakukan oleh orang dewasa marak terjadi. Upaya membongkar motif di balik tindakan tidak manusiawi ini pun gencar dilakukan oleh sejumlah kalangan.

Terkait ini, Psikolog Maria Nofaola menegaskan, tak bisa menggeneralisir penyebab terjadinya kasus pencabulan yang dilakukan oleh orang dewasa terhadap anak di bawah umur.

Baca juga: Berawal dari Facebook, Bidan Ini Disetubuhi Hingga 5 Kali di Kebun Sawit

Namun meski begitu Maria menjelaskan faktor dominan yang mempengaruhi aksi pencabulan ini terus terjadi. Salah satunya kata Maria adalah keadaan kejiwaan pelaku.

“Memang harus dicek terlebih dahulu apakah terdapat gangguan kejiwaan tertentu, apakah ada penurunan kognisi yang berakibat dia tidak bisa berpikir jernih,” kata Maria seperti dilansir Tribunnews.

Selain itu, beberapa latar belakang yang perlu dilihat dari pelaku pencabulan juga adalah apakah ia memiliki pasangan hidup atau tidak, kemudian apakah yang bersangkutan ternyata merupakan seorang yang memiliki nafsu seks tinggi.

“Ada banyak kemungkinan kenapa itu bisa terjadi, bisa saja karena pengaruh dia sering mengkonsumsi atau menonton film-film porno,” ujarnya.

Maria mengatakan, yang pasti hal tersebut bisa saja terjadi karena dia memiliki masalah dengan kontrol diri, dorongan seksual, atau dengan imajinasi seksualnya.

“Sehingga dia tidak mampu mengontrol dirinya untuk berhenti atau berpikir logis bahwa dia melakukan hal tersebut terhadap seorang anak di bawah umur,” lanjutnya.

Namun, lanjut Maria, berbeda dengan seseorang yang mengalami gangguan kejiwaan yang terdiri atas berbagai jenis, salah satunya adalah gangguan psikotik yang biasanya terjadi karena adanya halusinasi, yang berarti ia memiliki masalah dengan kondisinya.

“Akan tetapi, jika dia mengalami reterdasi mental maka hal tersebut berkaitan dengan intelektual yang bersangkutan, kecerdasannya di bawah rata-rata, di bawah normal,” jelasnya.

Dalam kondisi yang demikian, artinya yang bersangkutan tidak bisa membedakan hal baik atau buruk, dengan kata lain dia juga tidak memiliki pertimbangan yang matang.*