Dipicu Cemburu, Polisi Muda Ini Tewas di Tangan Kedua Seniornya

Dipicu Cemburu, Polisi Muda Ini Tewas di Tangan Kedua Seniornya

JAKARTA, dawainusa.com Seorang polisi muda Bripda Faturrahman Ismail yang bertugas di Sabhara, Polda Sulawesi Tenggara tewas di tangan kedua seniornya, yaitu Bripda Z dan Bripda F di barak Dalmas polda setempat.

Korban sempat dilarikan ke rumah sakit untuk mendapat pertolongan medis. Namun nahas nyawa korban tidak dapat tertolong lagi dan menghembuskan nafas terakhirnya pukul 01.40 Wita.

Kepala Bidang Humas Polda Sultra, AKBP Harry Golden Hardt mengatakan, tindakan penganiayaan dilakukan oleh kedua pelaku dengan cara menghantam dada dan perut korban menggunakan kepalan tangan.

“Kasus ini telah ditangani oleh Provost Polda Sultra untuk melakukan penyelidikan dan mencari tahu motif pelaku menganiaya korban,” ujar Harry.

Baca juga: Sejumlah Kritikan Tajam Roy Suryo Terhadap Poros Oposisi

Sejumlah Fakta Meninggalnya Bripda Faturrahman Ismail

Sementara itu, unit reserta kriminal umum polda Sulawesi Tenggara  telah melakukan upaya penyelidikan terhadap kasus tersebut.

Selain itu, reserse kriminal pun telah menangkap dua pelaku penganiayaan. Kedua pelaku sudah diamankan di Propam Polda Sulawesi Tenggara.

Dari hasil rekonstruksi perkara yang dilakukan, polisi menemukan beberapa fakta miris terkait tewasnya Faturrahman. Berikut fakta-faktanya:

Motif Cemburu 

Salah satu motif dibalik tewasnya Bripda Faturrahman Ismail di Polda Sulawesi Tenggara yakni karena cemburu. Hal ini disampaikan oleh Kabid Humas Polda Sulawesi Tenggara AKBP Harry.

Motif ini juga terungkap lewat pemeriksaan selama 12 jam yang dilakukan terhadap kedua pelaku. Adapun pelaku penganiayaan yakni bernama Bripda Sulfikar dan Bripda Fislan. Keduanya lebih senior dua tahun dibandingkan dengan korban

“Motif dari pelaku melakukan penganiayaan terhadap korban karena cemburu diketahui dua minggu yang lalu istri Bripda Z mengajak korban untuk makan siang,” ungkap Harry, Selasa (4/9).

“Mengetahui hal itu, timbullah rasa cemburu dan emosi Bripda Z. Hari Senin pukul 00.30 WITA pelaku mendatangi barak dan menginterogasi korban sehingga terjadilah penganiayaan itu,” tuturnya.

Luka di Jantung dan Perut

Diketahui, aksi penganiyaan oleh kedua orang polisi senior tersebut dilakukan pada saat berbaris. Korban pun dipukuli berulangi oleh dua orang pelaku tersebut secara bergantian.

Aksi tersebut pun tidak berani dihentikan oleh polisi yunior. Karena pemukulan tersebut dilakukan dua orang polisi yang statusnya lebih senior dari mereka.

Korban pun langsung  dibawa ke RS Bhayangkara Kendari untuk proses autopsi. Dari hasil autopsi, ternyata luka di jantung menjadi dugaan kuat korban mengalami sesak napas dan kejang-kejang.

“Korban mengalami luka memar pada dada sebelah kiri dan luka memar pada perut sebelah bawah,” ungkap tim Dokter RS Bhayangkara Kendari, Kompol Mauluddin, Senin (3/9/2018)

Sempat Pingsan

Korban sempat pingsan setelah mengalami penganiyaan tersebut. Namun, setelah dicek oleh rekan-rekan   polisinya, dia sudah tidak bernyawa lagi.

Sementara, kedua pelaku mengetahui sesak napas pada saat penganiyaan tersebut berlangsung. Namun, hal   ini tidak dihiraukan oleh kedua pelaku. Kedua terus melakukan aksi tersebut hingga korban meregang nyawa.

Menurut Kabid Humas Polda Sulawesi Tenggara Harry Goldenhart, kedua pelaku lebih senior dua tahun dari   korban. Kemungkin besar korban takut melawan karena merasa diri sebagai yunior.

“Kedua pelaku lebih senior 2 tahun, salah satu pelaku malah hanya berbeda satu tahun,” ungkap Goldenhart.

Pelaku Tak Langsung Dipecat

Pihak Propam dan Direktorat Reserse Kriminal Umum telah melakukan rekonstruksi kejadian penganiayaan tersebut. Kedua pelaku pun sudah ditahan di dalam sel  Rutan Polda Sultra

“Ada beberapa adegan, sudah ditangani oleh Propam,” jelas Goldenhart.

Goldenhart juga menjelaskan , kedua pelaku penganiyaan tersebut terancam  Pasal 351 subsider Pasal 354 KUHP terkait penganiayaan yang menyebabkan hilangnya nyawa seseorang.

“Terkait pemecatan atau sanksi berat lainnya, jelas mengikuti aturan. Tidak secepat itu,” jelasnya.

Kerabat Bupati Kolaka

Polda Sultra dan pihak Rumah Sakit Bhayangkara langsung mengantarkan jenazah korban tersebut ke rumah duka. Diketahui, rumah korban berada di Desa Ponggiha, Jalan Poros Trans Sulawesi Sulawesi Tenggara-Sulawesi Selatan, Kabupaten Kolaka Utara.

Ternyata korban merupakan kerabat dari Bupati Kolaka Utara H Nurahman Umar. Sang Bupati pun ikut mengantarkan almarhum ke tempat pemakaman.

Baru Terima Gaji 6 Bulan

Faturrahman Ismail (20) polisi yang tewas dianiaya oleh seniornya, ternyata baru 6 bulan menikmati masa tugasnya sebagai polisi. Ia sempat menjalani kuliah di Universitas Hasanuddin Makassar.

Menurut keterangan dari sepupu korban Haidir, ia sering mengirimkan sebagian gajinya kepada orang di kampung  halamannya. Ia tidak peduli gaji yang kecil. Hal itu ia lakukan selama 6 bulan sebelum kejadian tragis  tersebut.