Dikte Pemilik Modal dan Nasib Petani Kopi

Dikte Pemilik Modal dan Nasib Petani Kopi

Rupanya, kisah tentang kesejahteraan petani kopi di Colol khususnya dan Manggarai Timur umumnya, masih berbanding terbalik dengan kualitas kopi yang mereka hasilkan. (Foto: Petani kopi Colol saat kembali dari kebun kopi - Dawainusa)

RUTENG, dawainusa.com Kualitas Kopi Manggarai khususnya kopi Colol di Kabupaten Manggarai Timur, NTT telah diakui dunia internasional. Bahkan, kopi Colol sudah sangat terkenal di Eropa dan Amerika Serikat.

Pada 2015 lalu, kopi dari wilayah ini dengan jenis arabika dan robusta pernah menyabet penghargaan sebagai kopi terbaik Indonesia versi Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia dengan menggeser Kopi Jember yang sebelumnya meraih penghargaan yang sama.

Dua kopi yang dikirim oleh John Sehdis ini, berhasil menyisihkan 137 kopi yang ada di seluruh Indonesia yang mengikuti ajang ini.

Pamor kopi Colol yang baik itu tentu berdampak pada permintaan pasar yang sangat tinggi khususnya untuk jenis arabika dan robusta. Lantas, apakah permintaan pasar berbanding paralel dengan kesejahteraan petani kopi sejauh ini?

Baca juga: Mewujudkan Manggarai Sebagai Surga Kopi Dunia

Harga Kopi dan Dikte Pemilik Modal

Rupanya, kisah tentang kesejahteraan petani kopi di Colol khususnya dan Manggarai Timur umumnya, masih berbanding terbalik dengan kualitas kopi yang mereka hasilkan.

Kepala Desa Wejang Mali, Kecamatan Pocoranaka Timur, Kabupaten Manggarai Timur, Paulus Jemui kepada Dawainusa mengaku, masalah kesejahteraan petani kopi di desanya masih menjadi persoalan serius yang membutuhkan perhatian.

Baca juga: Kemeriahan Festival Kopacol dan Harapan Dibaliknya

Kades dua periode itu mengatakan, selama ini harga kopi masih mengikuti kemauan pemilik modal. Harga yang ditetapkan oleh pemilik modal hingga saat ini, belum cukup memuaskan dan berdampak pada kesejahteraan para petani.

“Masih banyak petani kopi belum merasakan keesejahteraan dari jerih payahnya menjadi petani kopi, harga kopi selama ini masih diatur pemilik modal. Harga mereka yang atur,” kata Jemui disela-sela Festival Kopacol, Sabtu (30/06).

Sistem Ijon Masih Menjadi Momok

Masalah lain yang mencekik petani kopi kita selama ini adalah masih langgengnya sistem dagang ijon yang dimainkan pemilik modal. Sistem perdagangan seperti itu sangat berdampak pada kesejahteraan petani.

Bobby Lebang, salah satu pendiri Taman Baca Colol kepada Dawainusa menjelaskan, selama ini banyak petani kopi di daerah Colol yang menjual kopinya dengan harga tidak layak.

Baca juga: Bupati Deno: Mari Beri Tempat Terhormat untuk Petani Kopi

Tidak hanya itu, dia mengaku sistem warga di daerah itu juga sudah gerah dengan sistem ijon yang selama ini menjado momok bagi kesejahteraan petani disana.

“Selama ini petani di sini sering menjual kopinya dengan harga yang tidak layak karena pengetahuan yang masih terbatas, makanya kita terus sharing pengetahuan terkait harga kopi di pasar dan jenis kopi seperti apa yang pasar mau,” jelasnya.

“Ijon ini adalah salah satu momok, mereka disini sudah gerah dengan sistem ijon ini, tapi sulit untuk keluar dari masalah ini, kita berharap ke depan petani kita pelan-pelan keluar dari sistem dagang seperti ini dengan terus merubah pola pikir mereka,” tambahnya.

Meski demikian, persoalan ijon tidak terlepas dari siklus ekonomi dan tuntutan kebutuhan hidup yang harus dipenuhi petani.

Mateus, salah seorang petani kopi yang ditemui Dawainusa di sela festival Kopacol mengaku, ijon selama ini menjadi pilihan satu-satunya bagi dia ketika banyak kebutuhan mendesak.

“Kalau kebutuhan semakin banyak, seperti kebutuhan pendidikan, urusan adat dan kebutuhan sehari-hari, kami terpaksa ijon apalagi dalam keadaan tidak ada uang,” ujarnya.

Senada denga Boby, pendiri Taman Baca Colol yang lain bernama Zulfikar, kepada Dawainusa menjelaskan, sistem ijon yang sering di praktekan petani kopi di Colol selama ini harus dihentikan.

Menurut dia, salah satu jalan menghentikan ijon adalah dengan sharing pengetahuan bagi para petani kopi. Adapun salah satu persoalan serius yang sering dialami petani kopi selama ini adalah terkait pengolahan hasil kopi yang berkualitas atau yang diharapkan pasar.

“Hal penting yang kita harus lakukan sekarang salah satunya mengedukasi petani kita, dengan terus menambah pengetahuan mereka tentang kualitas kopi maka dampak terhadap kesejahteraan mereka pasti ada. Kita juga harus pastikan sistem ijon itu harus putus,” kata Zulfikar.* (Elvys Yunani)