Dawainusa.com – Seorang ibu yang digugat anak kandungnya soal harta warisan menuntut balik sang anak untuk membayar air susu ibu (ASI).

Ibu yang diketahui bernama Praya Tiningsih (52) atau Ningsih itu merupakan warga asal Lingkungan Kekere, Kelurahan Semayan, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Melansir TribunNews pada Jumat (14/8/2020), Ningsih dituntut oleh anak kandungnya bernama Rully Wijayanto terkait harta warisan.

Baca jugaViral Kisah Anak Kecil Berani Naik Pesawat Sendiri demi Jenguk Ayahnya yang Sakit

Kisah Ningsih Digugat Anak Kandung soal Warisan

Perselisihan antara ibu dan anak kandung itu berawal dari keinginan Rully untuk membangun ruang tamu dan dapur di rumah warisan suami Ningsih atau ayah dari Rully itu sendiri.

Di tengah-tengah proses persidangan, Tiningsih belakangan diketahui menolak konsep perdamaian perihal gugatan warisan yang ditawarkan anaknya Rully Wijayanto.

Penolakan itu terjadi dalam sidang keempat di Pengadilan Agama (PA) Praya, Lombok Tengah, Kamis (13/8/2020) lalu.

Usai persidangan, Ningsih mengatakan, menolak tawaran Rully yang tetap kekeh meminta agar warisan almarhum suaminya dibagi.

Ningsih menilai sikap anaknya, Rully sangat keterlaluan. Menurut Ningsih, anaknya tetap ngotot ingin ada pembagian warisan meski wasiat dari sang suami mengatakan tidak demikian.

“Dia (Rully) tetap ngotot agar tanah itu tetap dibagi, padahal wasiat bapaknya tidak boleh untuk dibagi.”

“Jadi dia tidak ingin berdamai, saya pun tidak ingin berdamai, biar deh lanjut perkaranya,” kata Ningsih.

Melihat kelakuan anaknya itu, Ningsih sampai mengancam akan menuntut air susu yang sudah diberikan selama Rully dirawat.

“Pokoknya saya tidak maafkan dia (Rully), pokoknya dia harus bayar air susu saya, saya sudah capek jadi ibu, saya sudah bosan,” kata Ningsih.

Sementara itu, sang anak Rully tetap dengan pendiriannya, menginginkan agar warisan itu tetap dibagi.

“Nanti kalau sudah putusan kita akan tahu hak-hak kita, hak adik saya, hak mama saya, dan ini juga untuk jaga-jaga kalau nanti ada yang mengeklaim harta warisan almarhum bapak,” kata Rully.

Ibu kandung
Praya Tiningsih (52) Foto/TribunNews

Baca jugaViral Seorang Dosen Tolak Sogokan Mahasiswa yang Ingin Lulus, Begini Ceritanya

Rully menyebutkan bahwa rumah yang sudah berdiri di atas tanah seluas 4,2 are itu tidak akan dirusak atau pun dijual, dan akan tetap menjadi rumah bersama.

“Walaupun sudah dibagi, rumah itu tidak akan dirusak, tidak akan disekat, atau tidak akan dijual.”

“Tetap rumah itu berdiri seperti semula, hanya saja kita tahu hak-hak kita,” kata Rully.

Sebelumnya diberitakan, harta warisan yang ingin digugat oleh Rully yakni tanah seluas 4,2 are bersama uang deposit sepeninggal almarhum ayahnya atau suami Ningsih.

Terkait persoalan tersebut, Ningsih mengaku terkejut saat mendapatkan surat dari Pengadilan Agama atas gugatan anak sulungnya, Rully Wijayanto.

Awalnya, Ningsih mengira ia mendapatkan surat dari Pegadaian. Namun, tak disangka ia justru mendapatkan gugatan dari anak sulungnya sendiri.

“Datang surat dari panggilan Agama pas kita duduk-duduk. Saya kira panggilan dari BPKB atau Pegadaian, ternyata surat dari Pengadilan Agama Praya yang berisi gugatan,” kata Ningsih ditemui di rumahnya, Sabtu (8/8/2020), dikutip dari Kompas.com.

Rully mengugat ibunya lantaran kekecewaannya terhadap sang ibu karena ibunya tidak mengizinkan untuk membuat ruang tamu dan dapur.

“Kita kan sudah berkeluarga, jadi saya ingin menambahkan untuk membuat ruangan tamu sama dapur, tapi oleh ibu tidak mengizinkan,” kata Rully saat ditemui di rumah pamannya, Senin (9/8/2020).

Sementara itu, Ningsih menjelaskan bahwa almarhum suaminya berpesan bahwa rumah tersebut tidak boleh dijual, dibagi, dan akan menjadi rumah bersama.

“Bapaknya berpesan waktu itu, semenjak sakit stroke 2016 lalu, kalau rumah ini tidak boleh dijual, tidak boleh dibagi. Siapa yang tinggal silakan tinggal sudah ada kamarnya masing-masing, ini menjadi rumah bersama,” kata Ning sambil mengusap air matanya.

Untuk diketahui, harta warisan yang digugat oleh Rully, yakni tanah seluas 4,2 are.

Di atas tanah tersebut telah berdiri bangunan rumah, tempat ia dibesarkan oleh ayah dan ibunya.

Meski demikian, Rully mengetahui pesan almarhum ayahnya soal rumah tersebut tidak boleh dibagi, dijual dan menjadi rumah bersama.

“Bapak memang pernah berwasiat kalau rumah itu tidak boleh dibagi atau dijual. Tapi kalau memang harus dibagi katanya beliau (almarhum bapaknya) diminta untuk dibagikan secara hukum Islam,” kata Rully.

Rully menyebutkan bahwa gugatan tersebut bukan hanya untuk dirinya, melainkan juga untuk ahli waris lainnya seperti adik-adiknya dan termasuk ibunya.

“Saya ingin menggugat agar kita tau hak Bagian kita secara Islam. Saya menggugat bukan untuk diri saya sendiri, tapi untuk mama juga, dan adik-adik,” kata Rully.*