Diduga Terlalu Agresif, Perempuan Ini Meninggal Usai Berhubungan Intim

Diduga Terlalu Agresif, Perempuan Ini Meninggal Usai Berhubungan Intim

JAKARTA, dawainusa.com – Seorang perempuan berinisial SP meninggal dunia setelah melakukan hubungan intim yang disertai kekerasan dengan suaminya berinisial AW di Ruko Aladin, Batam Centre, Kamis (4/10).

Sebelum meninggal dunia, perempuan yang diketahui berusia 29 tahun tersebut sempat dirawat di Rumah Sakit Awal Bros (RSAB) Batam. Di Rumah Sakit inilah nyawa SP tak tertolongkan.

Terkait kasus tersebut, pihak Satreskrim Polresta Barelang telah berhasil menangkap AW pada Jumat (5/10) siang. Dari keterangan polisi yang diperoleh dari AW, pada sebelum melakukan hubungan intim, ia sempat membawa SP putar-putar kota Batam.

Baca juga: Cerita Perempuan Tuban yang Meninggal Usai Berhubungan Intim

Ia mengaku bahwa dirinya sempat membawa SP hingga ke Barelang dan Nongsa. Hal itu dilakukannya karena saat itu ia sedang mengalami ilusi akibat pengaruh narkoba yang dipakainya. Bahkan ia mengaku bahwa dirinya mengonsumsi narkoba jenis sabu sejak Selasa dan berakhir pada Jumat malam menjelang dini hari.

“Ia saya memang bawa dia putar-putar ke beberapa tempat. Termasuk Nongsa dan Barelang. Perasaan saya mau ketemu sama orang. Tetapi sampai di sana saya sadar kalau saya lagi bawa istri,” ujar pada penyidik, Sabtu (6/10) siang.

Setelah berhubungan intim, polisi menjelaskan bahwa AW sempat berencana ingin membuang SP. AW sendiri mengatakan bahwa rencana itu ada karena dirinya tidak sedang dalam keadaan sadar.

“Kalau saya niat buang istri saya, pasti saya nggak minta tolong sama polisi untuk antarkan kami ke RSAB kemarin itu,” ujar AW.

SP, Sang Perempuan yang Punya Fantasi Seks yang Liar dan Agresif?

Selain mengungkapkan demikian, kepada pihak kepolisian, AW juga memberikan keterangan bahwa SP sebenarnya ialah seorang perempuan yang memiliki fantasi seks yang sangat liar dan agresif.

Dalam keterangan yang disampaikannya kepada penyidik, meskipun SP sudah menikah dengannya, istrinya tersebut sering tetap nekad untuk meminta pria lain agar berhubungan intim dengan dirinya. AW mengklaim bahwa, SP melakukan semua hal ini untuk memenuhi kebutuhan akan kepuasan seks pribadinya.

Selama menjadi suami istri, demikian AW, segala permintaan SP selalu dipenuhi oleh dirinya, termasuk ketika ia meminta untuk melakukan hubungan intim dengan pria lain itu. Hal itu diizinkan AW karena ia sangat mencintai SP.

Baca juga: Ini yang Akan Terjadi Pada Tubuh Ketika Kamu Berhubungan Intim

“Dia minta jajajan, cariin brondong. Saya pesankan. Saya bayar Rp700 ribu. Setelah itu ya sudah, kemudian kami seperti biasa,” terang AW.

Karena terlalu agresifnya keinginan SP dalam berhubungan intim, demikian AW mengklaim, ia bahkan sering dimintai untuk mencarikan seorang perempuan untuk melakukan hubungan intim bertiga dengan dirinya.

Semua itu, terang AW, dipenuhinya walaupun ia tidak merasakan nikmatnya bercinta. Ia juga mengklaim bahwa SP sering melakukan tindakan kekerasan terhadap dirinya ketika sedang berhubungan intim.

“Saya diajak bertiga. Saya mau tetapi saya dingin. Gak terlalu nanggapin, karena saya gak suka sama cewek ini. Itu karena permintaan istri saya saja,” kata dia.

Penyidikan Terus Berjalan

Meski AW memberikan keterangan demikian, Kapolresta Barelang, Kombes Hengki mengatakan bahwa penyidikan terhadap kasus ini akan terus dilakukan. Bahkan mereka juga melihat bahwa AW sedang memiliki gangguan.

Karena itu mereka akan mendatangkan psikiater untuk memeriksa kondisi psikologis tersangka. “Suami korban sudah ditetapkan menjadi tersangka penganiayaan hingga meninggal dunia terhadap istri sirinya sendiri,” ujar Hengki, Senin (8/10).

Baca juga: Berawal dari Rayuan Berhubungan Intim, Wanita ini Tewas di Hutan Blora

Adapun kasus ini terungkap ketika AW berhenti di sebuah pos lantas Simpang Kepri Mall. Saat itu, ia meminta bantuan petugas untuk mengantarkan SP menuju rumah sakit.

Namun karena curiga dengan kondisi korban, AW langsung diamankan dan dilakukan pemeriksaan. “Awalnya kita anggota menduga adanya tindak kekerasan. Setelah diselidiki memang benar dan pelakunya adalah AW,” jelas Hengki.

Atas perbuatannya itu, AW akan dijerat Pasal 351 KUHP ayat (2) jo Pasal 338 KUHP tentang penganiayaan dan menyebabkan meninggal dunia, atau pembunuhan dengan ancaman hukuman 20 tahun penjara.*