Diduga Hina Kapolsek di Medsos, ASN di NTT Ditetapkan Tersangka
Ilustrasi - ist

Dawainusa.com – Aparat Polda Nusa Tenggara Timur (NTT) menetapkan SJ alias KA (54), seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) yang bekerja di Politeknik Negeri Kupang, NTT, sebagai tersangka.

Kabid Humas Polda NTT Kombes Johannes Bangun, mengatakan, KA ditetapkan tersangka, setelah diduga menghina mantan Kapolsek Maulafa Kompol Margaritha Sulabesi (52) di media sosial Facebook.

Baca juga: Efek Pandemi, Undana Terapkan Pembayaran UKT dengan Cicilan bagi Mahasiswa

KA yang juga adalah warga Kelurahan Oeba, Kecamatan Kota Lama, Kota Kupang, ini dipolisikan oleh Kompol Margaritha Sulabesi, berdasarkan laporan polisi nomor LP/B/237/Res.1.24/VII/2019/SPKT tanggal 11 Juli 2019.

Johannes menyebut, berkas perkara kasus penghinaan dan pencemaran nama baik melalui Facebook dinyatakan lengkap atau P21 oleh kejaksaan.

“Berkasnya sudah P21 sehingga kita limpahkan ke kejaksaan. Hari ini kami serahkan tersangka ke Kejaksaan,” kata Johannes seperti dilansir Kompas.com, Selasa (7/7/2020).

Dalam perkara ini, kata Johannes, KA disangkakan melanggar Pasal 45 ayat (3) junto Pasal 27 ayat (3) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 dengan ancaman pidana penjara 4 tahun dan denda Rp 750 juta.

Bermula dari Postingan KA

Johannes mengatakan, kasus ini bermula dari postingan KA di Facebook yang menyebut kinerja Kapolsek Maulafa Polres Kupang Kota yang dinilai tidak mampu menyelesaikan sejumlah kasus.

Kasus yang dimaksud berupa, pencurian berankas di Balai pengembangan Sumber Daya Manusia provinsi NTT dan kasus penganiayan yang melibatkan Naning Jari.

Dalam unggahan itu, ia menyebut Polsek Maulafa tak mampu menyelesaikan kasus pencurian brankas di balai BPSDM NTT senilai Rp 300 juta lebih.

Padahal, menurut dia, kasus itu sudah mempunyai indikasi petunjuk yang jelas, yang diduga melibatkan orang dalam.

Ia juga mengunggah dua kasus penganiayaan dengan penyelesaian yang berbeda, kemudian membandingkannya.

“Postingan dibagikan ke akun Facebook sehingga dibaca oleh umum yang mana menurut ahli telah menyerang harkat dan martabat Kapolsek Maulafa yang saat itu dijabat Margaritha R Sulabesi,” ungkap Johannes.

Kasus itu sempat dimediasi oleh pihak Polda NTT. Saat itu, KA beralasan, semua unggahannya itu merupakan bentuk kritikan kepada Kapolsek Maulafa.

Kritikan itu, berarti ia mempunyai kepedulian pada Polsek Maulafa. Kapolsek kemudian meminta KA membuktikan semua tuduhan itu di hadapan tim mediasi.

Sebab, semua unggahan KA tidak benar adanya. Dia memiliki semua bukti atas kasus yang dituduhkan kepadanya.

Dalam mediasi di Polda NTT, KA meminta maaf dan berjanji akan menghapus semua unggahannya, serta mengklarifikasi ke publik melalui akun Facebook-nya sehingga publik bisa mengetahui bahwa dirinya telah keliru dan bersalah mengunggah itu.

Sementara itu, Kompol Margaritha Sulabessi, menolak permintaan maaf KA atas kasus penghinaan dan pencemaran nama baik yang sudah dilaporkan. Ia menyerahkan semuanya ke ranah hukum.*