Diduga Halangi Penyidikan Novanto, Fredrich Jadi Tersangka KPK

Diduga Halangi Penyidikan Novanto, Fredrich Jadi Tersangka KPK

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan Fredrich Yunadi sebagai tersangka dalam kasus dugaan menghalang-halangi upaya penyidikan terhadap kasus korupsi yang menimpa Setya Novanto. (Foto: Fredrich Yunadi - Kompas.com)

JAKARTA, dawainusa.com Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan Fredrich Yunadi sebagai tersangka dalam kasus dugaan menghalang-halangi upaya penyidikan dalam kasus korupsi yang menimpa mantan kliennya, Setya Novanto.

Selain Yunadi, penetapan tersangka tersebut juga disematkan pada dokter Rumah Sakit Medika Permata hijau, Bimanesh Sutarjo, dalam kasus yang sama.

Berdasarkan keterangan Wakil Ketua KPK, Basaria Panjaitan, mereka ditetapkan sebagai tersangka karena diduga telah melakukan pemalsuan data medis Novanto sehingga bisa menjalani rawat inap di Rumah Sakit Medika Permata Hijau.

“Untuk menghindari panggilan dan pemeriksaan penyidik KPK,” kata Basaria di kantornya, Rabu (10/01) kemarin.

Baca juga: Pengacara: KPK Blokir Rekening Novanto dan Keluarga Sejak 2016 

Sebelumnya, Novanto memang pernah menjalani rawat inap di Rumah Sakit Medika usai mengalami kecelakaan karena mobil yang ditumpanginya menabrak tiang listrik di Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, pada pertengahan November lalu.

Saat itu, Novanto sedang diburuh KPK untuk melakukan penyidikan karena diduga terlibat dalam kasus korupsi e-KTP yang ditaksir merugikan anggaran negara sebesar Rp 2,3 Triliun.

Terkait hal ini, Basaria mengaku, ada banyak kejanggalan dalam peristiwa tersebut. Ia mengatakan, salah satunya ialah pasca terjadinya kecelakaan, bukannya dilarikan ke IGD, Novanto justru langsung dibawa ke ruang inap Very Important Person (VIP).

Dari indikasi tersebut, penyidik KPK menduga, kecelakaan yang menimpa Novanto merupakan sesuatu yang direncanakan.

Ia dianggap telah menyusun suatu skenario atas kecelakaan itu dengan terlebih dahulu mendatangi pihak rumah sakit untuk kerjasama guna menyiapkan kamar bagi Novanto.

Selain itu, pihak KPK juga mengatakan, pihaknya mendapat informasi bahwa sebelum kecelakaan terjadi, pihak rumah sakit telah mendapatkan telepon dari seseorang yang diduga pengacara Novanto.

Ia mengabarkan, Novanto akan dirawat sekitar pkl. 21.00 WIB serta meminta perawatan VIP. Padahal, saat itu, Novanto belum mengalami kecelakaan.

Lebih lanjut, ketika Novanto sudah dirawat di rumah sakit tersebut, pihak penyidik KPK mendatangi tempat itu untuk melakukan pengecekan.

Akan tetapi, mereka tidak mendapatkan informasi apapun karena pihak rumah sakit tidak memberikan izin. Dokter Bimanesh yang merawat Novanto pun tidak berada di tempat.

Akibat perbuatan tersebut, pihak KPK menjelaskan, Fredrich dan Bimanesh dijerat dengan Pasal 21 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Adapun surat pemberitahuan penyidikan telah dikirim pada Selasa lalu. Dalam agendanya, Frederich dijadwalkan akan diperiksa Jumat esok.

Selain kedua tersangka ini, Basari juga menjelaskan, sudah ada 35 saksi dan ahli yang diperiksa dalam penyelidikan.

Pihak KPK juga telah berusaha melacak dan mencekal sejumlah oknum yang terlibat dalam kasus tersebut, diantaranya mantan wartawan MetroTV, Hilman Mattauch, ajudan Novanto, Reza Pahlevi serta mantan pengacara Novanto, Achmad Rudyansyah.

Terjadi Kriminalisasi Terhadap Fredrich Yunadi

Surat pemanggilan penyidikan memang telah diterima Fredrich Yunadi. Terkait hal ini, kuasa hukumnya, Sapriyanto Refa telah membenarkan hal bahwa pihaknya telah menerima surat itu.

Refa juga mengaku keberatan atas status tersangka yang disematkan pada kliennya itu. Pasalnya, ia menilai, apa yang dilakukan oleh Fredrich itu merupakan salah satu cara untuk membela kliennya.

Karenanya, Refa menuding KPK telah melanggar Pasal 16 Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat. “Advokat tidak dapat dituntut, baik pidana maupun perdata sejak menerima kuasa,” tutur Refa.

Baca juga: Setya Novanto Minta Perlindungan KPK, Pengamat: Itu Hal Manusiawi

Adapun sebelumnya, Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi) telah membentuk tim khusus untuk melakukan pembelaan terhadap tersangka Frederich. Mereka menduga, ada kriminalisasi atas penetapan status tersangka itu.

“Karena diduga adanya kriminalisasi terhadap profesi advokat sebagaimana diatur dalam Pasal 16 Undang-Undang Advokat jo putusan MK RI No 26/PUU-XI/2013 bahwa advokat tidak dapat dituntut baik secara pidana maupun perdata sejak advokat menerima kuasa,” jelas Ketua Tim Hukum DPN Peradi, Supriyanto Refa.

Tidak Ada Kriminalisasi

Sementara, Basari menjelaskan, penetapan mantan pengacara Novanto, Fredrich Yunadi sebagai tersangka sama sekali bukan merupakan bentuk kriminalisasi terhadap advokat. Hal itu disampaikannya ketika melakukan konferensi pers di gedung KPK, Jakarta, Rabu (10/01).

“Saya rasa tidak ada kriminalisasi, ini jelas ada pasalnya. Ini bukan kriminalisasi,” katanya.

Baca juga: Soal Eksepsi Novanto, Ini Komentar KPK dan Keberatan JPU

Basaria menjelaskan, sebelumnya, pasal yang menjerat Fredrich Yunadi dalam kasus ini juga pernah diterapkan pada tersangka lain, yakni anggota DPR RI dari Fraksi Partai Golkar, Markus Nari.

“Ini jelas ada pasalnya, pasalnya sudah ada pernah kami terapkan sebelumnya. Kalau dua alat bukti itu sudah ada kemudian unsur deliknya sudah terpenuhi silakan lanjut, pola pikirnya begitu. Saya ulang kembali tidak ada kriminalisasi,” ungkapnya.*(YAH).