Diberhentikan Gubernur NTT sebagai Kadis, Bruno Kupok Angkat Bicara

Diberhentikan Gubernur NTT sebagai Kadis, Bruno Kupok Angkat Bicara

KUPANG, dawainusa.com – Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Viktor Bungtilu Laiskodat memberhentikan Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Nakertrans), Bruno Kupok dari jabatnya sebagai kepala dinas.

Pemberhentian itu disampaikan lansung oleh Viktor Laiskodat dalam sambutannya ketika menerima ratusan tenaga honorer, di aula Sasando Kantor Gubernur, Senin (22/10).

“Saya minta pak Sekda tadi untuk berhentikan Kadis Nakertrans itu. Saya tidak boleh lihat lagi orang itu besok. Jika besok masih menjabat sebagai kepala dinas, saya tendang kepalanya,” ujar Viktor saat itu.

Baca juga: Sengketa Batas Manggarai Timur vs Ngada Diselesaikan di Meja Kemendagri

Sementara itu, Bruno Kupok yang dikonformasi Dawainusa via telepon enggan berkomentar banyak terkait informasi tersebut. Dia mengatakan, silahkan Sekretaris Daerah (Sekda) yang menangani hal itu.

“Beta (saya) sonde bisa berkomentar yang begitu, karena saya pikir Pa sekda saja yang omong. Kalau beta no coment,” kata Kupok, Selasa malam, (23/10).

Diberhentikan Gubernur NTT sebagai Kadis, Bruno Kupok Angkat Bicara

Bruno Kupok – ist

Hargai Keputusan Gubernur

Meski begitu, Bruno Kupok menghargai keputusan gunernur NTT. “Kebijakan gubernur apapun itu kita harus hormat dan hargai. Bagi beta apapun keputusannya saya terima,” kata Bruno

Ketika ditanya apakah sebelumnya telah ada pemberitahuan bahwa dirinya akan diberhentikan dari jabatan kadis, Bruno kembali mengatakan untuk menghubungi sekda NTT.

Baca juga: Ditolak Ormas Lokal, Fahri Hamzah Akhirnya Batal ke Kupang

“Saya mohon maaf Pa sekda aja yang jawab, itukan keputusan mereka,” tutup Bruno.

Sebelumnya, Viktor menyampaikan alasannya kenapa dia memberhentikan Bruno Kupok. Menurut Viktor, pengiriman tenaga kerja ke luar negeri menjadi alasan mengapa Bruno diberhentikan.

“Saya sudah sampaikan ke Pak Sekda agar (di- red) diberhentikan. Masa kita lagi tahan orang keluar negeri kok. Bagaimana kita mau pekerjakan orang yang sudah usia lanjut, sedangkan yang masih muda-muda kita kirim keluar daerah,” kata Viktor.* (Juan Pesau)