Dialog Bersama OMK Wolowaru, Ivan Nestorman: Jangan Malu Mencintai Budaya Sendiri

Dialog Bersama OMK Wolowaru, Ivan Nestorman: Jangan Malu Mencintai Budaya Sendiri

Dalam kesempatan dialog dengan orang muda tersebut, penyanyi yang khas dengan aliran musik neo-tradisi ini mengajak orang muda untuk tidak malu mencintai budaya sendiri. (Foto: Ivan Nestroman saat menjadi salahsatu narasumber di Detusoko - dawainusa/Guche Montero)

ENDE, dawainusa.com Musisi ternama tanah air kelahiran Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), Ivan “Mogi” Nestorman berkesempatan berdialog dengan Orang Muda Katolik (OMK) Paroki Hati Amat Kudus Wolowaru, Ende, Minggu (4/3). Dalam kesempatan dialog dengan orang muda tersebut, penyanyi yang khas dengan aliran musik neo-tradisi ini mengajak orang muda untuk tidak malu mencintai budaya sendiri.

“Budaya adalah jati diri dan identitas kita. Sebagai orang Flores, kita harus bangga dengan kekayaan budaya lokal kita. Jangan malu mencintai budaya kita sendiri. Itu yang harus tertanam dalam diri anak muda. Seperti musik yang memiliki ciri khas dan motifnya sendiri, demikian pula budaya lokal kita, ada corak motif yang menjadi kekhasan dan kebanggaan kita. Jangan sampai kita lupa dengan warna budaya kita sendiri dan mengikuti tren yang sebenarnya bukan identitas dan jati diri kita,” kata Ivan.

Penyanyi yang sudah go internasional ke beberapa Negara ini menekankan pentingnya mempertahankan nilai dan kearifan budaya lokal di tengah tuntutan modern yang sering membuat generasi lupa diri bahkan melupakan budaya sendiri termasuk musik-musik lokal yang mengandung kekuatan pesan dan nilai di balik syair.

Baca juga: Cegah Aliran Sesat, Kajari Ende Perkuat Tim Pakem

“Ada di antara kalian yang masih mencintai musik gawi sebagai musik khas Ende-Lio? Saya yakin banyak di antara kalian yang lebih menyukai musik hip-hop, rapp, reggae, dangdut atau sekarang yang lagi tren dengan musik Dj. Banyak sekali musik daerah yang sudah dilupakan. Padahal, itu menunjukkan jati diri dan kekhasan kita yang perlahan-lahan hilang dan ditinggalkan oleh generasi,” katanya.

“Setelah 25 tahun berkarier di dunia musik, saya selalu menemukan inspirasi dari nilai dan kekayaan budaya yang ada di Flores, NTT. Saya rindu jika suatu saat ada kontes lokal di Ende seperti “Lio Idol” guna membangkitkan kembali kecintaan generasi terhadap musik dan budaya lokal Ende-Lio,” lanjut Ivan yang mengaku terkesima dengan penampilan anak-anak muda Detusoko saat membawakan lagu gawi.

Sebagai wujud motivasi untuk mencintai budaya lokal termasuk lagu-lagu daerah, Ivan pada kesempatan itu mengajak anak-anak muda untuk bersama-sama menyanyikan lagu daerah Ende-Lio “Ie Bele Wea” yang pernah dirilisnya dengan sentuhan musik bercorak tradisi khas Ende-Lio. Pada kesempatan itu, Ivan juga menyanyikan Lagu khas Manggarai “Mata Leso Ge” dan Lagu “Mogi” yang dinyanyikan secara bersama-sama.

Musisi yang juga peduli dengan persoalan kemanusiaan terutama perdagangan manusia (human trafficking) di NTT lewat lagu-lagu yang diciptakannya, mengharapkan agar generasi muda kembali mencintai budaya daerah baik tenun ikat, musik, pangan lokal, maupun kearifan lokal lainnya dengan tidak terjebak dalam arus modern yang berkembang dari waktu ke waktu.

“Sebagai generasi muda, kita harus bangga dengan kekayaan budaya kita. Mari mencintai budaya lokal kita mulai dari hal-hal kecil. Budaya merupakan akar dan sumber jati diri kita. Siapa yang melupakan budaya, ia kehilangan identitas dirinya,” tandas Ivan.

Detusoko Jadi Contoh Pengembangan Potensi Lokal

Sementara penggagas Remaja Mandiri Community (RMC) Detusoko, Nando Watu yang berkesempatan memberikan motivasi bagi orang muda Wolowaru memaparkan berbagai project kegiatan yang dijalankan oleh RMC Detusoko sebagai wadah kreativitas dan kecintaan kawula muda terhadap potensi lokal yang dimiliki.

“Detusoko hanya menjadi salah satu contoh bagaimana mengembangkan potensi lokal yang dimiliki baik potensi pertanian, persawahan, pangan lokal, keindahan alam maupun aktivitas masyarakat yang dapat dijadikan jualan bagi para wisatawan domestik maupun asing saat berkunjung ke danau Kelimutu sebagai salah satu destinasi wisata. Sebagai salah satu contoh, RMC Detusoko sudah menghasilkan produk “Koro Degalai”, Kopi Detusoko, lemmon sauce hingga aneka anyaman dari bahan lokal,” kata Nando.

Baca juga: Beredar Isu Harga Sembako Naik, Ini Tanggapan Wakil Bupati Ende

Pada kesempatan itu, Nando mengajak orang muda untuk tidak malu menjadi petani-pengusan dengan memanfaatkan segala potensi lokal yang ada. “Anak muda jangan menjadi penonton saat arus wisata terus meningkat dari tahun ke tahun. Prisnipnya, kita harus mulai dari hal-hal kecil dan berkomitmen untuk membuatnya menjadi besar serta membawa dampak terutama dampak ekonomis dan sosial,” ajak Nando.

Ia juga mengajak kawula muda untuk mulai belajar menenun, menganyam, menanam, menjahit, juga belajar bagaimana mengembangkan keterampilan tanpa harus mengejar gelar Sarjana atau menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). “Dalam konsep ecotourism berbasis agrikultur dan kawula muda, mari kita saling bekerjasama menjadikan potensi lokal sebagai kekayaan dan jati diri kita,” ungkapnya.

Pada akhir dialog, Ivan kembali mengajak anak-muda untuk menari gawi bersama sebagai salah satu musik khas Ende-Lio. Turut hadir pada kesempatan itu Pater Laurens Woda selaku Pastor Rekan dan Pastor Moderator OMK Wolowaru, manager Ivan Nestorman, Ibu Sita, Ketua Dewan Pastoral Paroki (DPP) Wolowaru, Geraldus Lando, Ketua OMK Wolowaru, Oliva, para guru dan Pembina dari beberapa sekolah serta perwakilan komunitas literasi Ila One Nua (ION) Detupau.* (GM)