Dawainusa.com Proses penyaluran bantuan sosial tunai ( BST) dari Kementerian Sosial RI (Kemensos) sedang berjalan saat ini.

Kemensos terus mendorong pemerintah daerah untuk memenuhi kebutuhan data penerima BST. Harapannya, BST bisa turut berperan meringankan beban warga yang terdampak Covid-19.

Baca juga: Berbekal Nasi Tahu Saat Tes, Putra Papua ini Akhirnya Lolos jadi TNI

Kemensos juga telah memberikan keleluasaan kepada pemerintah daerah untuk mendata warga calon penerima BST selama pandemi Covid-19.

Sayangnya, sejumlah persoalan pun muncul di daerah, seperti pendataan calon penerima BST yang tidak tepat sasar. Di Nusa Tenggara Timur (NTT), misalnya.

Melansir Kompas.com, Senin (25/5/2020), ada seorang ASN dan dua anaknya di Kelurahan Lewoleba Barat, Kecamatan Nubatukan, Kabupaten Lembata, NTT masuk dalam daftar penerima bantuan sosial tunai dari Kemensos RI.

Anehnya, kedua anak ASN yang bertugas di Kantor Lurah Lewoleba Barat itu terdaftar sebagai kepala keluarga. Padahal, dua anak tersebut belum berkeluarga, bahkan masih di bawah umur.

Protes dari Ketua RT

Pendataan calon penerima BST yang dinilai tidak tepat sasar itu menuai protes keras dari ketua RT 30 di Kelurahan Lewoleba, Yeni Maria Fatima.

Yeni mengaku sangat kaget dan kecewa dengan data penerima BST Kemensos yang dikeluarkan pihak kelurahan.

Menurut Yeni, ia tidak pernah mememasukkan nama oknum ASN dan 2 anaknya yang masih di bawah umur tersebut.

“Saya tahu, bantuan sosial itu bukan untuk ASN. Apalagi anak di bawah umur yang masih satu keluarga dengan orang tuanya yang ASN,” ujar Yeni.

“Sangat Kecewa, di lingkungan saya masih banyak yang layak dibantu,” lanjut Yeni.

Yeni mengatakan, dirinya sudah mengusulkan 27 kepala keluarga untuk menerima BST Kemensos itu.

Tetapi, yang diakomodir hanya delapan kepala keluarga. Tiga orang di antaranya satu ASN dan dua anaknya yang masih di bawah umur. Yang satunya di NIK kelahiran 2003. Saat ini dia usia 17 tahun. Satunya lagi lahir tahun 2005 dan sekarang berusia 15 tahun.

“Saya harus omong ini karena nanti warga tuding kami RT yang kasih masuk nama ke kelurahan. Padahal kenyataanya tidak begitu,” ungkap Yeni.

Baca juga: Video Viral 3 Suster Katolik Nyanyikan Lagu Idul Fitri Tuai Pujian Ganjar

Lurah Lewoleba Mengaku Kecolongan

Sementara itu, Lurah Lewoleba Barat, Yohanes Layir, menyebut baru tahu jika ada anak di bawah umur terdaftar sebagai penerima BST Kemensos RI.

Yohanes mengaku marah saat tahu ada dua anak di bawah umur dan stafnya yang berstatus ASN terdaftar dalam BST Kemensos RI.

Yohanes mengatakan, di tahap pertama ini, di Kelurahan Lewoleba Barat, dari 4.000 lebih kepala keluarga, hanya ada 102 yang mendapat BST.

“Saya kecolongan dengan data ASN dan 2 anak di bawah umur yang terdaftar dalam penerima BST itu. Saya sudah prediksi data ini akan bermasalah karena waktunya begitu singkat Dinsos meminta segera memasukkan nama penerima BST untuk diusulkan ke Kemensos,” ungkap Yohanes dilansir Kompas.com, Senin pagi.

Yohanes pun berjanji membatalkan pencairan BST tahap dua itu guna melihat kembali nama penerima yang diprotes RT dan warga.

“Mereka yang tidak terakomodir pada tahap dua ini, akan terakomodir di tahap berikutnya,” ujar Yohanes.*