Dawainusa.comMedia sosial kembali diramaikan dengan tagar #NadiemManaMahasiswaMerana. Sebelumnya tagar #MendikbudDicariMahasiswa sempat viral dan menjadi sorotan publik.

Tagar yang kini menjadi trending topic di Twitter itu merupakan aksi lanjutan mereka yang mengungkapkan kecewa terhadap sikap Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) terkait kondisi mahasiswa dan perkuliahan selama pandemi Covid-19.

Dalam tagar tersebut, mahasiswa mengungkapkan protesnya sebab lembaga pendidikan dinilai tidak berpihak kepada mahasiswa. Mereka mengaku kesulitan menjalani perkuliahan di tengah pandemi Covid-19.

Aksi protes virtual itu juga banyak diramaikan dengan sejumlah meme. @mahasiswaYUJIEM mengatakan bahwa adanya design poster dari sukarelawan untuk mendukung aksi ini.

Poster meme tersebut dapat digunakan mahasiswa atau warganet dalam menyampaikan protesnya. Twit ini memperoleh 884 retweets serta 1.400 likes.

Analisis Pakar Media Sosial

Sementara itu, pakar media sosial Ismail Fahmi membeberkan sebuah hasil analisis terhadap kedua tagar protes mahasiswa pada Kemendikbud itu, Selasa (2/6).

Ismail Fahmi mendapati kedua tagar itu dimotori klaster pengguna media sosial yang berbeda dari mereka yang biasanya menggerakkan tagar bertema politi. Singkatnya, penggagasnya bukan buzzer, tetapi mahasiswa betulan.

“Kalau dizoom, tampaknya ada @BEM_Unsoed dan BEUMUNJ_OFFICIAL. Tampaknya ini kluster mahasiswa. Bukan kluster yang selama ini sering muncul dalam isu-isu politik (buzzer pro-kontra pemerintah),” tulis Ismail Fahmi dalam cuitannya.

Menurut Ismail Fahmi, setidaknya ada 10 orang yang mengagas tagar tersebut untuk aksi protes daring. Dengan rata-rata engagements 3.214 hingga 866, akun @desiarmydi menempati posisi teratas dengan jumlah retweets serta interaksi terbanyak.

Sementara itu, untuk tuntutan yang diajukan dalam aksi media tersebut seputar, biaya uang kuliah tunggal (UKT) mahal, minimnya subsidi kuliah online, meme seputar aksi tersebut, hingga ungkapan rasa kecewa mahasiswa terhadap Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim.

“Apa yang mereka tuntut? Top lima narasi, UKT mahal padahal kuliah daring, minta kebijakan karena ortu diphk, ajakan aksi media di Twitter, dulu berharap kepada Nadiem sekarang kecewa, dan subsidi hanya kuota,” ungkap Ismail Fahmi.

Dalam aksi tersebut mahasiswa juga membagikan sebuah gambar template untuk digunakan saat protes berlangsung, gambar ini sebelumnya telah disiapkan oleh BEM.

“Top hashtags, hanya ada dua hashtags besar yang diangkat: #MendikbudDicariMahasiswa dan #NadiemManaMahasiswaMerana. Dua hashtags ini trending di Twitter cukup lama. Ternyata kekuatan mahasiswa kalau bersatu bisa “lantang” suaranya di media sosial,” cuit Ismail Fahmi.

Berdasarkan hasil analisisnya, diketahui bahwa pesebaran twit ini banyak digunakan oleh masyarakat berusia 19 hingga 29 tahun. Mahasiswa berharap adanya perubahan kebijakan dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan mengenai pembayaran UKT.

Di akhir cuitannya Ismail Fahmi mengatakan, pandemi virus korona ini telah membuat perubahan terhadap aksi mahasiswa. Dari awalnya berkumpul menjadi virtual lewat media sosial.

Cuitan Ismail Fahmi ini memperoleh 404 retweets serta 716 likes. Warganet memberikan berbagai reaksi terhadap analisis dari pakar media sosial tersebut.

Warganet memberikan apresiasi terhadap data analisis tersebut. Beberapa waktu lalu media sosial dihebohkan dengan #MendikbudDicariMahasiswa, pemicu tagar tersebut ialah ungkapan kekecewaan mahasiswa dengan sikap dari Kemendibud yang dinilai tidak merespon baik itikad dari Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI).

Dalam tuntutannya mahasiswa merilis sebuah surat terbuka mengenai audiensi kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim.*