Soal Yerusalem Timur yang Didukung China dan Ditolak Israel

Soal Yerusalem Timur yang Didukung China dan Ditolak Israel

China mendukung pembentukan negara Palestina merdeka dengan kedaulatan penuh berbasis perbatasan 1967 dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya. (Foto: Presiden China Xi Jinping - ist)

BEIJING, dawainusa.com Rabu (13/12), Para pemimpin negara-negara muslim yang tergabung dalam Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) mendeklarasikan pengakuan Yerusalem Timur sebagai Ibu Kota Palestina.

Deklarasi tersebut merupakan bentuk sikap tegas dunia muslim yang menolak keputusan sepihak Presiden Amerika Serikat Donald Trump atas penetapan Yerusalem sebagai ibu kota Israel.

“Kami memastikan bahwa kami mengakui negara Palestina dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kota, dan kami menyerukan kepada seluruh dunia agar mengakui Yerusalem Timur sebagai ibu kota Palestina yang terjajah,” demikian bunyi Deklarasi Istanbul seperti yang dilansir kantor berita Turki, Anadolu, Rabu (13/12).

Baca juga: Alasan Ketua PBNU Tak Ikut Aksi Bela Palestina

Pengakuan Yerusalem Timur sebagai ibu kota palestina didukung China. Hal itu disampaikan juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Lu Kang, seperti dilansir Xinhua, Kamis (14/12).

“China mendukung pembentukan negara Palestina merdeka dengan kedaulatan penuh berbasis perbatasan 1967 dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya,” kata Lu seperti dilaporkan Xinhua.

Anggota tetap Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-bangsa (DK PBB) itu menyerukan dialog antara Israel-Palestina harus segera dilaksanakan, untuk memberikan kesempatan bagi tercapainya resolusi yang komprehensif dan adil soal isu Palestina.

“China memahami kekhawatiran negara-negara Islam soal status Yerusalem Karena itu China menyerukan sebuah penyelesaian yang sesuai dengan resolusi PBB dan konsensus internasional,” kata Lu Kang.

Ditolak Israel

Sementara itu, Israel melalui Perdana Menteri Benjamin Netanyahu secara tegas menolak deklarasi para pemimpin negara Islam tersebut yang menyebut Yerusalem Timur sebagai ibu kota Palestina.

“Kebenaran akan menang pada akhirnya dan banyak negara pasti akan mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel dan juga memindahkan kedutaan mereka,” kata Netanyahu dilansir dari Al Jazeera, Kamis (14/12).

Baca juga: Gejolak Papua Diduga Libatkan Akademisi Australia dan Para Uskup

Netanyahu menambahkan, tidak hanya sebagai ibu kota Israel, Yerusalem tetap akan menjunjung tinggi kebebasan beribadah untuk semua agama. Dia menyebut hanya Israel yang berani membuat janji tersebut di Timur Tengah.

“Warga Palestina akan dapat menerima kenyataan dan melangkah maju pada perdamaian, bukan ekstremis, dan mengakui fakta tambahan mengenai Yerusalem,” tambah Netanyahu.

China, Punya Kedekatan dengan Israel dan Palestina

China adalah mitra dagang terbesar ketiga Israel setelah Amerika Serikat dan Uni Eropa. Meski hubungan diplomatik kedua negara baru dibangun sejak 1992, Israel dan China telah bekerja sama di bidang militer sejak 1979.

Israel adalah negara pertama di Timur Tengah yang diakui China sebagai pemerintahan yang sah. Namun, China tidak menjalin hubungan diplomatik yang normal dengan Israel sampai 1992. Sejak itu, Israel dan China mengembangkan hubungan dalam bidang komersial, militer dan strategi.

Baca juga: Adeeb Joudeh, Pria Muslim Pemegang Kunci Makam Yesus

Israel mendirikan sebuah kedutaan besar di Beijing dan berencana untuk membuka sebuah konsulat yang baru di Chengdu, ketiganya di China Daratan. Selain itu, China adalah salah satu dari beberapa negara di dunia yang memiliki hubungan yang baik dengan Israel, Iran, Palestina, dan dunia Muslim.

Sementara itu, sejarah dukungan China terhadap Palestina telah berakar sejak era tahun 1950-an dan 1960-an. Partai Komunis China (PRC) pimpinan Mao Zedong mendukung Yasser Arafat, serta Organisasi Pembebasan Palestina (PLO), juga dengan faksi Fatah.

Setelah PRC diakui sebagai anggota PBB pada 1971, dukungan terhadap Palestina terus berlanjut hingga sekarang. China mengakui Palestina sebagai sebuah negara pada 1988, dan menjalin hubungan diplomatik penuh pada akhir 1989.* (AT)