DBD Mewabah, Begini Cara Pencegahan dan Pengobatannya

Ilustrasi DBD - ist

JAKARTA, dawainusaSecara nasional, penyebaran kasus DBD di Indonesia mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya. Merujuk pada laporan Kementerian Kesehatan, hingga 27 Januari 2020, terjadi 1.358 kasus DBD di Indonesia yang tersebar di sebelas provinsi.

Kemenkes juga mencatat, sebanyak 12 orang meninggal dunia. Angka kematian ini tercatat sejak Januari 2020. Dari 11 provinsi yang terdapat penderita DBD, kejadian terbanyak ada di Provinsi Nusa Tenggara Timur dengan 552 kasus.

Baca juga; Penderita DBD di Kabupaten Sikka Bertambah

Pada 2019 lalu, jumlah kasus DBD per 29 Januari 2019 mencapai 13.683 dengan jumlah meninggal dunia 133 jiwa. Jumlah tersebut terus bertambah ditandai dengan jumlah kasus DBD hingga 3 Februari 2019 yang mencapai 16.692 kasus dan 169 orang diantaranya dinyatakan meninggal dunia.

Indonesia dalam catatan Badan Kesehatan Dunia (WHO), dilaporkan sebagai negara ke-2 dengan kasus DBD terbesar diantara 30 negara wilayah endemis. Kondisi inilah yang mengharuskan pemerintah agar lebih fokus menangani masalah DBD di Indonesia.

Lantas, seperti apakah gejala dan penanganan DBD?

Nyamuk Aedes Aegypti atau nyamuk demam berdarah (DBD) mulai bermunculan saat musim hujan. Nyamuk ini memiliki ciri badan belang hitam putih. Korban yang terkena gigitan nyamuk DBD berdampak pada kesehatannya.

Korban DBD akan mengalami tiga fase, yaitu demam, kritis dan penyembuhan. Saat fase demam, pasien DBD akan mengalami demam secara tiba-tiba dengan suhu badan mencapai 40 derajat celsius selama 2 sampai 7 hari.

Beberapa pasien DBD bahkan mengalami nyeri dan infeksi tenggorokan, sakit di sekitar bola mata, anoreksia, mual dan muntah. Gejala-gejala inilah yang menyebabkan penurunan jumlah sel darah putih dan trombosit yang mengarahkan dokter pada diagnosis demam berdarah.

Lalu dalam fase kritis, pasien akan merasa sembuh dan bisa beraktivitas kembali. Karena fase kritis ini ditandai dengan penurunan suhu hingga 37 derajat celsiius ke suhu normal. Namun perlu diwaspadai, karena fase ini justru semakin mengurangi trombosit pasien DBD.

Sedangkan dalam fase penyembuhan, berarti pasien DBD sudah melewati masa fase kritis. Meskipun penderita masih mengalami demam, namun tak perlu dikhawatirkan. Karena trombosit akan perlahan naik dan normal kembali. Pasien akan mengalami pengembalian cairan tubuh secara perlahan pada 48-72 jam setelahnya.

Cara Mengobati DBD

Mengobati pasien DBD bisa dengan memakan beberapa buah-buahan, seperti jus jambu biji dan buah-buahan serta sayur-sayuran yang mengandung vitamin C. Pasien DBD juga memerlukan banyak cairan.

Disarankan untuk banyak minum air putih untuk memastikan kondisi pasien DBD tetap stabil. Jika kondisi belum stabil, korban bisa dilarikan ke rumah sakit. Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), rawat inap sangat diperlukan bagi orang yang terkena demam berdarah serius.

Pasien DBD akan melewati masa-masa kritis selama 24 hingga 48 jam lamanya. Masa-masa ini yang akan menentukan peluang pasien untuk bertahan hidup. Bila pada saat ini pasien tidak ditangani dengan tepat, akibatnya bisa fatal.

Cara Mencegah DBD

Agar tak terjangkit DBD, ada baiknya melakukan beberapa pencegahan, seperti membersihkan rumah. Pemilik rumah harus membersihkan beberapa tempat kesukaan nyamuk.

Tempat-tempat itu adalah tumpukkan baju, karena nyamuk menyukai aroma tubuh manusia. Kemudian genangan air, dan tempat-tempat berdebu. Nyamuk-nyamuk akan bertelur di tempat-tempat yang kotor dan lembab.

Baca juga; Virus Corona; Gejala, Penyebaran dan Penyembuhannya

Selain itu, pemilik rumah harus menambah sirkulasi udara. Misalnya, membuka jendela rumah saat pagi hari untuk melancarkan sirkulasi udara, dan juga mendapat cahaya yang maksimal. Pemilik rumah juga bisa memasang kelambu di jendela. Jadi, nyamuk akan sulit masuk rumah saat jendela terbuka.

Untuk mengusir nyamuk, bisa juga digunakan kapur barus yang dibakar. Kemudian diletakkan di dalam ruangan dan tutup jendela. Diamkan sekitar 15 menit. Nyamuk-nyamuk DBD atau demam berdarah akan hilang.*

Artikulli paraprakPenderita DBD di Kabupaten Sikka Bertambah
Artikulli tjetërCorona dan Flu Musiman; Mana yang Lebih Mematikan?