Datang Secara Adat Bajawa, Ajakan Marianus Sae Ditolak Kristo Blasin

Datang Secara Adat Bajawa, Ajakan Marianus Sae Ditolak Kristo Blasin

Marianus Sae sebagai calon Gubernur yang diusung PKB dan didukung PDIP itu tentu kalang kabut. Sejumlah tokoh partai PDIP yang bisa diandalkan untuk memenangkan pertarungan di 2018 memilih jalan lain. (Marianus Sae dan Kristo Balsin - ist)

FOKUS, dawainusa.com Keputusan DPP PDIP beberapa waktu lalu dinilai menciptakan keretakkan di internal partai. Soliditas partai moncong putih itu semakin terkikis dan rupanya sulit untuk dipertahankan. Buktinya, hingga saat ini banyak kader partai yang memilih hengkang.

Bila peta politiknya demikian, Marianus Sae sebagai calon Gubernur yang diusung PKB dan didukung PDIP itu tentu harus bekerja lebih keras. Sejumlah tokoh partai PDIP yang bisa diandalkan untuk memenangkan pertarungan di 2018 memilih jalan lain. Ray hengkang, Kristo Blasin enggan berkomentar, dan banyak kader lain yang memilih mundur.

Beredar kabar, beberapa waktu lalu, Marianus Sae mengunjungi rumah salah satu kader PDIP Kristo Blasin. Tujuan kedatangan Marianus adalah mengajak Kristo menjadi tim pemenangnya dalam Pilgub NTT 2018. Namun, ajakan Marianus yang saat itu datang secara adat Bajawa didampingi beberapa tua adat dari Bajawa, ditolak Kristo.

Baca juga: Kecewa Atas Keputusan PDIP, Kader di TTU Serahkan Atribut Partai

Penolakan ini bukan tanpa alasan. Menurut keterangan Ketua Barisan Relawan Kristo, Andreas Goru kepada salah satu medial lokal setempat, Kamis (22/12), hingga saat ini, Kristo belum bersikap soal dukungan politiknya pada pilkada NTT mendatang, karena masih menunggu penetapan para calon oleh KPUD NTT.

“Ya, tadi Pak Marianus datang ke rumah Kristo Blasin. Dia ajak Kristo untuk bersama-sama dalam tim pemenangnya. Namun, ajakan Marianus ditolak oleh Kristo Blasin. Kristo mengatakan dia bersama timnya belum bersikap mendukung siapapun,” kata Andreas.

Pada Maret lalau, dukungan terhadap Kristo Blasin sempat mencuat ke permukaan. Bagi sebagian kalangan, sosok Kristo sangat layak memimpin NTT lima tahun ke depan. Selain jujur dan bersih, Kristo juga dinilai memiliki kemampuan karena sudah berpengalaman di DPRD NTT.

“Saatnya kita pilih orang jujur dan bersih seperti Kristo ini,” ungkap salah satu tokoh masyarakat saaat itu.

Saat yang sama, Andre Goru mengajak semua relawan secara bersama-sama membacakan pernyataan politik mendukung Kristo Blasin. Dalam pernyataan sikap itu, relawan mengajak semua elemen masyarakat NTT untuk bersatu, berjuang bersama membangun NTT baru dengan mendukung sosok Kristo Blasin menjadi gubernur NTT.

Saat itu, Kristo mengatakan, dirinya sejak dulu bukanlah sosok politikus yang menarik. Dia pun tak berpikir untuk mencalonkan diri. Namun, pada akhir 2016 lalu, para relawan terus mendesaknya untuk maju.

“Setelah berpikir-pikir saya katakan siap dari PDIP. Walaupun masih banyak keterbatasan. Tapi justru keterbatasan ini menarik banyak simpati. Banyak reaksi spontan dan antusiasme yang besar dari relawan,” kata Kristo yang didampingi istri dan anaknya.

Namun, harapan Kristo pupus, lantaran DPP PDIP tidak mengusung dirinya dalam perhelatan Pilkada mendatang.  Tentu banyak yang kecewa, apalagi para pendukungnya, tetapi tak bisa merubah keputusan PDIP.

Ditolak Kristo, Ray Hengkang, Perkuat Soliditas PDIP?

Sementara itu, beberapa waktu lalu, Ketua DPP PDI Perjuangan, Andreas Hugo Pareira menyoroti sikap sejumlah kader PDIP yang hengkang dari partai, termasuk Ray Fernandes. Hugo menilai, sikap yang diambil oleh Bupati TTU itu justru menunjukkan rendahnya martabat dan kualitas diri dan nilai kejuangannya.

“Saya berdiskusi dengan kader partai di Flores, justru banyak kader yang mencemoh sikapnya, bahkan ada yang menilai dia sangat arogan sekali sekaligus rendah kualitas dirinya yang selama ini menjadi besar karna partai “ungkap Hugo, Kamis, (21/12).

Baca juga: Rayakan Hari Ibu, Jokowi: Mama-mama Papua Perempuan Indonesia

Bahkan, pilihan Ray yang terlibat dalam deklarasi paket Viktory-Jos, juga dinilai sebagai ajang cari panggung. Di mata Hugo, Ray dibesarkan oleh PDIP Perjuangan, namun hanya karena panggung dadakan dia naik bicara ibarat seorang hero.

“Ray lagi cari panggung. Ketemu ada yang ngasih panggung, jadilah dia naik panggung. Sikap Ray seperti itu, justru memperkuat teman-teman ditingkat DPC dan PAC diakar rumput makin bersemangat mengonsolidasi diri “tegasnya.

Sementara itu, Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Organisasi Djarot Syaiful Hidayat menilai keputusan yang diambil Raymundus Fernandes sebagai cerminan bahwa Ketua DPC PDIP Timor Tengah Utara itu belum paham tentang makna kesabaran revolusioner.

“Ray Fernandes belum paham akan makna kesabaran revolusioner, sehingga memilih keluar dari PDI Perjuangan hanya karena tidak setuju dengan keputusan DPP PDIP yang mencalonkan Marianus Sae sebagai calon gubernur NTT,” kata Djarot dalam rilisnya di Kupang, Rabu (20/12) malam.

Mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta itu mengaku mengenal betul tentang sosok dan kepribadian Bupati Timor Tengah Utara yang memilih keluar dari PDI Perjuangan itu.

Menurutnya sikap Ray Fernandes yang memilih mundur dari partai menunjukkan rendahnya semangat perjuangan yang seharusnya dimiliki oleh kader partai PDI Perjuangan itu sendiri.

Djarot mengatakan bahwa sebelumnya Ketua Umum PDI Perjuagan Megawati Soekarnoputri telah menugaskan dirinya untuk bertemu dengan para tokoh di Flores untuk mencari tahu latar belakang Bupati Ngada itu.

“Keputusan Ibu Mega dan DPP Partai sudah final dan dalam penilaian saya sendiri Marianus Sae, Bupati Ngada memang berprestasi dan memiliki kinerja yang baik,” katanya menambahkan.* (AT)