‘Dapur, Sumur dan Kasur’ dalam Bingkai Hak Asasi Manusia

‘Dapur, Sumur dan Kasur’ dalam Bingkai Hak Asasi Manusia

OMONG DENG, dawainusa.com – Di suatu sore, kami bercerita. Tentang banyak hal. Sampai topiknya merujuk ke, “Kenapa Kakak tidak ingin rujuk lagi dengan suami?” Iya, saya sadar, pertanyaan itu mungkin kelewat kurang ajar; untuk ditanyakan, apalagi dituliskan kembali di sini.

Dia menghela nafas panjang sebelum menjawab. Seolah terlihat berhati-hati sebelum menyatakan isi hatinya. Ada jeda sekian detik yang diisi dengan ketukan random jari-jarinya di atas meja dan tegukan teh yang diminumnya dalam gerak slow motion.

“Kalau teringat dengan anak-anak, saya ingin balikan lagi. Anak-anak butuh figur ayah, meski ia jarang menunjukkan sikap sebagai seorang ayah yang baik,” ujarnya membuka suara.

“Tetapi kalau ingat perlakuannya ke saya sebagai istri, biarlah saya tetap begini. Hidup dengan tenang tanpa dihantui bayang-bayang kekerasan setiap harinya,” tutupnya dengan mata berkaca-kaca.

Mendengar itu, saya berjanji dalam hati untuk tidak lagi membahas topik sama atau sejenisnya. Tidak akan lagi. Sore itu, atau di kesempatan lain berikutnya. Hanya berharap, semoga dia bahagia dengan keputusannya.

Ya, bukankah setiap orang berhak untuk memilih kebahagiaannya sendiri?

Tentang Menikah dan Konsep Kebahagiaan

Memang, akan terasa kurang adil jika saya tidak lagi menanyakan hal yang sama. Karena dia, dan teman-teman lain, setiap minggunya akan terus-terusan mendesak saya dengan pertanyaan yang sama, “Kenapa sampai sekarang belum menikah juga?”

Bukan hanya ‘setiap minggu’. Setiap hari, bahkan. Mulai dari hari Minggu, dengan pertanyaan: “Koq di rumah aja, gak kemana-mana? Makanya, buruan menikah biar gak cuma bengong dengan komputer”.

Ungkapan senada juga akan berlanjut ke Senin sampai Jumat dengan teguran saat capek atau sedang tidak bersemangat makan: “Makanya, buruan nikah, biar bisa dimasakin” atau “Makanya, buruan nikah, biar bisa dipijet kalau capek.” Dan, ‘makanya-makanya’ lainnya.

Puncak litani ‘makanya-makanya’ itu akan meledak di malam Minggu. Seolah-olah, sendirian menghabiskan waktu malam minggu dengan menonton deretan serial “The Last Kingdom” atau “Outlander” adalah ciri seseorang yang malam Minggu-nya ‘tidak bahagia’.

Kadang, rasa kesal karena terus-terusan dicibir seperti itu terungkap dalam tulisan semisal ‘Antara Media Online yang Tidak Laku, Bujang Lapuk dan Perawan Tua’.

Kadang juga, ingin rasanya menanggapi pernyataan-pernyataan itu dengan pertanyaan-pertanyaan kurang ajar semisal, “Bahagiakah Anda dengan pernikahan Anda?” atau “Apakah dengan menikah Anda sudah bahagia?

Ya, bukankah setiap orang berhak untuk memilih kebahagiaannya sendiri? Kenapa harus membanding-bandingkan kebahagiaan Anda dengan orang lain? Bukankah dengan membanding-bandingkan pencapaian hidup, Anda justru akan tampak sangat ‘tidak bahagia’?

Ah, cukup dulu tentang pengantarnya. Saya sudah kelewat kurang ajar.

Tentang Bingkai Hak Asasi Manusia

Mari kita sejenak bertolak lebih dalam, ke inti tulisan ini, sambil merayakan peringatan hari Hak Asasi Manusia (HAM) yang jatuh pada hari ini, 10 Desember 2018.

Sepanjang bulan November 2018, saya terlibat bersama rekan-rekan Dewan Pengurus Cabang Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (DPC PMKRI) cabang Jakarta Pusat dalam diskusi rutin setiap Jumat. HAM adalah tema utama yang dibahas sepanjang November dalam diskusi yang diselenggarakan di gedung Margasiswa I itu.

Salah satu hal yang menarik dalam diskusi-diskusi itu adalah keaktifan kader-kader perempuan PMKRI Cabang Jakarta Pusat dalam menyuarakan hak-hak kaum perempuan, khususnya terkait konteks kehidupan sosial masyarakat Indonesia. Tulisan saudari Rere Marselina, ‘Kekerasan Seksual Terhadap Perempuan, Bukti Hilangnya Martabat Manusia’  boleh dibilang menjadi salah satu buktinya.

Saya tergelitik dengan ungkapan yang sempat muncul dalam salah satu diskusi. Tentang ‘minimnya’ konsep kesetaraan antara laki-laki dan perempuan dalam kehidupan sosial masyarakat Indonesia. Tentang pelabelan ‘dapur, sumur dan kasur‘ sebagai tugas pokok yang dianggap merendahkan martabat perempuan.

Saya tidak akan mengulas bagaimana keseruan debat tentang ‘dapur, sumur dan kasur‘ itu di sini. Jika penasaran seperti apa tema itu dibahas di sana, silahkan datang ke diskusi Jumat berikutnya, ke gedung Margasiswa I di jalan Sam Ratulangi I, Menteng, Jakarta Pusat.

Pertanyaan yang mungkin bisa disisakan di sini adalah, “Apakah perempuan-perempuan yang selama sekian abad hidup dalam masyarakat yang mengamini konsep ‘dapur, sumur dan kasur‘ bisa disebut perempuan-perempuan yang menikah-tetapi-tidak-bahagia?”

Bisa “Ya”, bisa juga “Tidak”. Bukankah setiap orang berhak untuk memilih konsep kebahagiaannya sendiri?

Tentang ‘Dapur, Sumur dan Kasur’ di Dunia 4.0

Hal yang menarik dari perkembangan revolusi industri 4.0 adalah goncangan terhadap nilai-nilai moral serta ‘kemapanan’ berpikir umat manusia. Tentunya, revolusi itu sendiri lahir dari peluang, replikasi, mutasi dan seleksi yang membawa umat manusia semakin sadar diri sekaligus memperbaiki diri untuk mengungkap sejumlah kelemahan yang mungkin bisa, bahkan menantang untuk diperbaiki.

Di masa-masa ini, luapan arus informasi yang datang dari segala penjuru seolah menghancurkan tembok-tembok dalam masyarakat yang sebelumnya menghalangi semua manusia, bukan hanya golongan tertentu, agar bisa mengembangkan dirinya seluas mungkin.

Konsep tentang kebahagiaan, ketakutan pada maut, impian pada kehidupan lain yang tak pernah putus lagi, dan damba pada yang Maha Takterbatas kini diwacanakan dengan bebas di ruang-ruang media sosial, bercampur-aduk dengan sekian banyak tawaran tips serta trik untuk bertahan hidup dan berkembang.

Batas antara yang baik dan buruk, yang benar dan yang salah, menjadi tipis dan kesimpulan atasnya bahkan kadung dikerucutkan dari banyaknya jumlah Like dan Comment.

Di belantara percakapan semesta yang maha luas itu, tema ‘dapur, sumur dan kasur’ juga mendapat tempat. Beberapa dialog yang membahas ‘status’ tentang tema itu menarik untuk disimak dan direnungkan. Satu diantaranya adalah, “Jika dapur, sumur dan kasur bisa dikerjakan oleh mesin sebagaimana digambarkan dalam film Blade Runner 2049, lalu bagaimana masa depan hidup berkeluarga?”

Atau komentar lain lagi soal curhatan atas istri yang gak ngapa-ngapain di rumah, sementara suaminya sibuk membanting tulang. Semua urusan rumah tangga, baik urusan ‘dapur’ maupun ‘sumur’ tinggal di-order via aplikasi Go-jek atau Grab.

Sang suami mengeluh karena semuanya serba di-order dan urusan ‘kasur’ terasa hambar. “Kalau apa-apa pakai di-order, pengen juga istri menjawab kalau diminta soal urusan kasur: ‘Aku lagi capek, Mas. Aku order online aja ya, buat Mas malam ini’,” tulisnya.

Ah, tulisan ini sudah kelewat panjang. Tak terasa sudah pukul 15.00. Saatnya makan siang. Sendiri.

Jika ada nanti ada yang masih juga bertanya, “Kenapa makan siangnya telat?” atau “Kenapa makan siangnya sendiri?”, ijinkankan saya mengulang jawaban Pak Edy Rahmayadi dalam wawancara Kompas TV berjudul Pembunuhan di Tengah Fanatisme Sepak Bola pada akhir September silam:

Apa urusan Anda menanyakan itu? Bukan hak Anda juga bertanya kepada saya.

* Jakarta, 10 November 2018

COMMENTS