Dalam Persidangan, Pelaku Teror Paris Mengaku Hanya Percaya Tuhan

Dalam Persidangan, Pelaku Teror Paris Mengaku Hanya Percaya Tuhan

Dalam persidangan, Salah Abdeslam melakukan aksi diam dan menolak semua perintah hakim sebagai bentuk pembelaan diri. Hanya satu kalimat yang keluar dari mulutnya, yakni 'Saya percaya Tuhan, saya tidak percaya pada kalian dan sekutu kalian'. (Foto: Salah Abdeslam - Breakingnews.co.id).

BRUSSELS, dawainusa.com Tak banyak kalimat yang terucap dari mulutnya. Untuk menyebut namanya saja ia tetap memilih diam. Mulutnya ditutup rapat-rapat. Seuntai kalimatnya yang bisa terdengar jelas dalam persidangan hanya, ‘Saya percaya Tuhan, saya tidak percaya pada kalian dan sekutu kalian’.

Itulah Salah Abdeslam. Ia adalah pelaku aksi teror di Paris pada November 2015 lalu, peristiwa jahanam yang menewaskan ratusan korban jiwa dan korban luka-luka.

Baca juga: 358 Orang Tewas Akibat Ledakan Bom Truk di Somalia

Abdeslam satu-satunya pelaku yang masih hidup hingga saat ini, sedangkan pelaku-pelaku lain telah meregang nyawa dalam aksi baku tembak dengan aparat kala itu.

Sebagaimana dilansir SKY News, dalam persidangan, Senin (5/2), pria kelahiran Maroko itu melakukan aksi diam dan menolak semua perintah hakim sebagai bentuk pembelaan diri. Ia bahkan menolak ketika hakim menyuruhnya berdiri dengan alasan malam sebelumnya ia tidak tidur.

Apapun yang diputuskan majelis hakim diterimanya karena dia hanya takut pada Tuhan-nya. “Saya tidak takut kepada kalian maupun sekutu kalian. Saya menaruh kepercayaan kepada Tuhan,” tutur Abdeslam.

Abdeslam Tutup Mulut, Persidangan Ditangguhkan

Persidangan terhadap Abdeslam tidak mendapatkan apa-apa. Tak banyak informasi yang bisa didapatkan darinya. Akibatnya, hakim yang memimpin sidang tersebut memutuskan untuk penangguhan proses persidangan terhadap pria 28 tahun itu.

Jika terbukti bersalah, ia akan mendekam dalam penjara selama 40 tahun. Mengingat usianya sekarang 28 tahun, dia perkirakan akan menikmati hidup sebagai terpidana hingga mencapai 68 tahun.

Sementara itu, Asosiasi Korban Eropa yang dikenal dengan nama V-Europe mengaku keecewa dengan persidangan terhadap Abdeslam. Hal tersebut disampaikan salah satu anggota dari asosiasi tersebut, yakni Guillame Denoix de Saint Marc.

Baca juga: Ketegangan di Timur Tengah dan Akhir Perjanjian Oslo

Kekecewaan mereka lantaran mereka tidak mendapatkan informasi apa-apa dari persidangan tersebut. Menurut dia, Abdeslam adalah kepingan teka-teki untuk menjawab pertanyaan mereka.

“Kami tidak mendapat informasi apapun. Padahal, mereka adalah kepingan teka-teki yang diperlukan untuk menjawab pertanyaan kami,” kata Marc.

Untuk diketahui, Abdeslam sudah ditetapkan terdakwa pada 18 Maret 2016 lalu. Sejak saat itu, ia selalu menolak untuk menjawab pertanyaan para investigator. Ia ditangkap, pada 18 Maret 2016 di kawasan Molenbeek, Brussels, Belgia, Jumat (19/3/2016) waktu setempat. Sebelumnya ia menjadi buronan polisi selama 4 bulan.

Dalam peristiwa teror di Paris, dirinya berperan sebagai pengemudi yang membawa tiga pelaku teror lainnya termasuk kakak kandungnya sendiri, yakni Brahim, yang menjadi pelaku peledakan bom bunuh diri.

Tentang Peristiwa Paris

Abdeslam menjadi topik pembicaraan tidak terlepas dari peristiwa Paris yang terjadi di Stadium State de France, Gedung Konser Bataclan, Rue Bichat, Av. de la Republique, Bd. Voltaire, Rue Charonne, Bld Beaumarchais, pada 13 November 2015 silam.

Korban dalam peristiwa jahanam itu mencapai ratusan orang. Setidaknya ada 137 orang yang tewas dan 413 orang yang mengalami luka-luka.

Kejadian itu bermula ketika seorang pria tak dikenal melakukan tembakan di sebuah restoran dan menyebabkan sejumlah orang tewas dan luka-luka. Diketahui pelaku menggunakan senapan Kalashbikov.

Polisi mulai melakukan penjagaan. Polisi gabungan melaporkan korban tewas sebanyak 20 orang, tetapi tidak diketahui apakah serangan masih berlanjut atau tidak.

Baca juga: Boko Haram dan Cerita Pilu di Balik Pengungsi Nigeria

Ada dua ledakan bom bunuh diri di luar stadium utama State de France, di mana tim sepakbola Prancis sedang bertanding melawan tim Jerman, beberapa orang ditemukan tewas.

Saksi mata mengatakan, orang-orang bersenjata menyandera belasan orang di gedung konser Bataclan (serangan tembakan kedua). Gedung konser berdekatan dengan kantor Charlie Hebdo, yang dulu pernah diserang oleh kelompok militan.

Presiden Prancis Hollande (kala itu) mengumumkan melalui televisi dan radio bahwa keadaan darurat untuk Prancis akan segera dideklarasikan.

“Prancis harus kuat melawan terorisme. Penyerang berada di Paris, ini mengkhawatirkan. Kami  mengerahkan seluruh tenaga keamanan, pertemuan Kabinet akan dilakukan, militer sudah dikerahkan,” kata Presiden Hollande.*