Curhat Pramugari Lion Air sebelum Pesawat Jatuh: Sangat Melelahkan Bu

Curhat Pramugari Lion Air sebelum Pesawat Jatuh: Sangat Melelahkan Bu

JAKARTA, dawainusa.com – Alfiani Hidayatul Solikah, salah satu dari 5 pramugari yang bertugas dalam penerbangan Pesawat Lion Air JT 610 yang jatuh di Perairan Karawang, Jawa Barat, Senin (29/10) pagi sempat curhat kepada Rindang Wahyu Wijayanti, guru bahasa Inggris-nya saat SMA.

Dilansir Kompas.com, pramugari yang kini diketahui berusia 19 tahun ini curhat kepada gurunya itu sehari sebelum insiden tersebut terjadi, yakni pada Minggu (28/10). Dalam curhatnya itu, ia mengungkapkan kepada gurunya tersebut bahwa dirinya merasa sangat lelah.

“So tired mom. Now i realize that work is not easy. Life is not easy dan happy is not easy. sometime behind smile is sadness (Sangat melelahkan Ibu. Sekarang aku menyadari bekerja tidak gampang. Hidup tidaklah mudah dan gembira tidak mudah. Terkadang di balik senyum adalah duka),” tulis Alfi kepada gurunya itu.

Baca juga: Benarkah Seorang Bayi Penumpang Pesawat Lion Air JT 610 Selamat?

Tulisan Alfi itu kemudian mendapat tanggapan dari gurunya tersebut. Ia membalas pesan dari mantan anak didiknya di SMAN 1 Dalopo, Madiun demikian. “Yeah, sometimes we are forced to smile (Ya, terkadang kita dipaksa untuk tersenyum),” tulis Rindang.

“Yes Mom, actually i need happiness and freedom. I dont like pressure. (Ya Ibu, sebenarnya aku ingin bahagia dan bebas, aku tidak suka tertekan),” balas Alfi kembali.

Foto Alfiani Hidayatul Solikah

Alfiani Hidayatul Solikah & Teman Pramugarinya – ist

Dari cerita Rindang, Alfi memang sering curhat kepadanya. “Saya terus support. Saya motivasi, teman-teman kamu yang lain saja ingin seperti kamu,” ungkap Rindang.

Soal Jatuhnya Pesawat Lion Air J610

Adapun detik-detik jatuhnya Pesawat Lion Air JT610 yang membawa 189 orang itu telah dijelaskan oleh pihak Basarnas. Kronologi kejadian jatuhnya pesawat ini disampaikan Kepala Badan SAR Nasional Muhammad Syaugi dalam jumpa pers bersama KNKT di kantor Basarnas, Jakarta, Senin (29/10).

Dari berbagai informasi yang telah dihimpun oleh pihak Basarnas, mereka kemudian menjelaskan bahwa kronologi jatuhnya pesawat tersebut ialah sebagai berikut.

Pada Senin, 29 Oktober 2018, pukul 06.21 WIB Pesawat Lion Air JT610 take off. Pukul 06.33 WIB Pesawat Lion Air JT 610 hilang kontak. Pukul 06.50 WIB Basarnas menerima laporan dari ATC bahwa pesawat Lion Air JT610 rute Jakarta-Pangkalpinang mengalami hilang kontak.

Baca juga: Kisah Korban Lion Air J610 yang Tinggalkan Istri dalam Kondisi Hamil Tua

“Kalau kami lihat di peta, lost contact ada di atas sini (Karawang, Jawa Barat). Ini jaraknya kalau dari kantor SAR Jakarta 34 nautical mile. Kalau Tanjung Priok 25 nautical mile. Kalau dari Tanjung Karawang 11 nautical mile. Jadi tidak terlalu jauh. Kami dapat informasi bahwa pesawat itu lost contact di ketinggian 2.500 saat itu,” terang Syaugi.

Setelah mendapat informasi itu, tim SAR Basarnas melakukan konfirmasi ke Lion Air dan ATC. “Konfirmasinya bahwa pesawat itu terbang dan lost contact sehingga kami berangkatkan armada, baik kapal laut, tim, dan helikopter,” tutur Syaugi.*