Dawainusa.com – Curhat seorang anak 5 tahun asal Sampit, Kalimantan Tengah yang ditinggalkan ibu kandung dan ayah tirinya mengundang haru.

Anak 5 tahun tersebut menjadi korban siksaan dari ayah tiri dan ibu kandungnya dan ditemukan di sebuah warung gorengan sekitar Masjid Jalan Kopi.

Melansir TribunNews pada Selasa (25/8/2020), bocah berinisial L itu mengalami luka di sekucur tubuhnya karena mengalami penyiksaan dari ayahh tiri dan ibu kandungnya.

Baca jugaVideo Antrean Perceraian Mengular di Bandung Viral di Medsos

Curhat Anak 5 Tahun

Tampak mata anak 5 tahun tersebut membengkak dan terdapat luka lebam. Selain itu tangan anak tersebut pun terlihat dibalut perban.

“Sungguh malang nasib Lela bocah 5 tahun ini, dari wajah sampai sekujur badannya babak belur akibat dianiaya Ibu Kandung dan Ayah Tirinya” tulis akun Twitter @topanrizaldiii, pada 23 Agustus 2020.

Melihat keadaan menyedihkan dari sang Bocah, bebetapa warga pun bertanya untuk mengorek informasi soal penyiksaan dan penganiayaan yang dialaminya.

“Dimana rumah kamu?” tanya salah seorang warga.

“Di Baamang (kecamatan Bamang, Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah),” jawab sang bocah polos.

“Yang mukul siapa?” tanya warga lagi.

“Yanto (ayah tiri) sama mama,” jawab sang bocah.

“Abah tirinya sama mamanya,” imbuh warga lainnya.

Bocah tersebut mengaku dijanjikan untuk bertemu neneknya oleh ibu kandung dan ayah tirinya. Namun yang terjadi sang Bocah justru ditinggalkan di sebuah warung.

“Sekarang mau kemana?” tanya warga lagi.

“Ke datuk,” jawab sang bocah.

“Tadinya disuruh nunggu di situ,” ujar sang Bocah.

Yang lebih menyedihkan ketika sang bocah menceritakan bagaimana penyiksaan dari ibu kandung dan ayah tirinya.

Ia bahkan mengaku selain dipukul tapi juga diinjak di perut oleh ayah tiri dan ibu kandungnya.

“Wajah saya dipukul oleh Yan (Ayah Tiri), belakang saya ditendang. Kalau tangan mama Yat (Ibu) yang mau patahin,” ungkap sang bocah.

“Parut ulun (perut saya) masih sakit, tadi diinjak oleh mama (ibu),” kata sang bocah.

“Ulun (saya) diantar mama (ibu) dan abah (ayah), kesini disuruh ke rumah nenek, tapi ulun ngalih (sulit) berjalan,” jelas bocah malang itu lagi.

Sementara Sri Hartini (41) pemilik warung gorengan, mengungkapkan ada tiga orang yang mengantar bocah tersebut, dan memantau dari kejauhan, kemudian setelah warga mulai banyak mereka kabur.

“Yang mengantar anak ini dua orang laki-laki dan satu orang perempuan, mungkin ibunya, mereka melihat dari jauh. Saat anak ini mengaku dipukul ibunya, warga langsung keluar, dan melihat orang banyak mereka kabur,” ungkap Sri.

Rupanya ketika mengantarkan bocah 5 tahun ke warung, ibu kandung dan ayah tirinya ini langsung kabur melarikan diri ke Palangkaraya.

Beruntung, tak berapa lama kedua pelaku penyiksaan dan penganiayaan ini berhasil ditangkap polisi.

“Dapat info dari grup fb pelaku telah sampai tadi malam di Polres Kotawaringin Timur untuk ditindak lanjuti,” tulis akun @topanrizaldii lagi.

“Pelaku kabur dari Sampit menuju Palangkaraya dan telah ditangkap oleh pihak yg berwajib di Bundaran Besar Palangkaraya,” pungkasnya.

Curhat Bocah
Foto Tangkap Layar Instagram/@maklambeturah

Baca jugaViral Seorang Ibu Mencari Anaknya yang Hilang di Pohon Bambu, Begini Ceritanya

Menurut puhak kepolisian, pelaku ini ditangkap ketika terjaring razia lalu lintas.

“Naik sepeda motor, berdua terjaring petugas Polantas Polresta Palangkaraya di Pos Bundaran Besar Kota Palangkaraya,” imbuh Kapolres Kotawaringin Timur (Kotim).

Ketika menginterogasi kedua pelaku, Polisi ini tak menyangka ibu kandung dan ayah tiri,

“Tega sekali kau ini,” ujar polisi.

“Terlalu tega kau orangtua. Itu darah dagingmu. Dia itu anak kecil,” tegas polisi lainnya.

Polisi dan dinas perlindungan anak fokus atasi trauma korban

Dilansir dari Banjarmasin Post, Kapolres Kotim, AKBP Abdoel Harris Jakin, Senin (24/8/2020), membenarkan pihaknya sudah menangkap ibu kandung bocah itu bersama ayah tirinya.

Mereka dibantu Polresta Palangkaraya dan Polda Kalteng.

Menurut Kapolres, pihaknya masih menunggu tim Resmob Polres Kotim yang masih dalam perjalanan membawa pasangan Yan dan Yat.

“Sementara itu, kami juga masih fokus untuk penyembuhan luka fisik maupun trauma yang dialami korban. Masih dilakukan pemulihan dengan perawatan pihak Rumah Sakit dr Murjani Sampit,” ujarnya.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) , Hj Ellena Rosie, Senin (24/8/2020), membenarkan pihaknya bersama lembaga swadaya masyarakat (LSM) Lentera Kartini menangani sang bocah.

Menurut Rossie, setelah ditemukan di warung, korban dititipkan ke LSM Lentera Kartini. Selanjutnya, dilarikan ke RSUD dr Murjani, Kota Sampit.

“Kapolres Kotim membesuk dan siap membiayai pengobatan korban hingga nantinya dirujuk untuk pemeriksaan psikologisnya di RS Bhayangkara Palangkaraya, Jumat nanti. Karena kami tidak punya tenaga ahlinya, sehingga Kapolres bersedia membantu,” imbuh dia.

Menurut Rosie, panggilan akrabnya, DP3AP2KB Kabupaten Kotim akan mendampingi bersama LSM Lentera Kartini untuk penanganan korban.

“Kami akan terus berkoordinasi bersama Kapolres dan Lembaga Lentera Kartini untuk penanganan korban,” tandasnya.

Dia mengungkapkan, ada indikasi masalah pernikahan dini yang berdampak pada masalah keluarga, sehingga akhirnya anak yang jadi korban.

“Saya menyarankan, sebelum menikah, diperlukan persiapan yang matang. Usianya harus memadai untuk usia pernikahan. Demikian juga masalah psikologis, serta dukungan pihak keluarga orangtua yang juga harus perhatian untuk fokus menyangi anak,” urainya.

Rossie menjelaskan, ibu korban sudah beberapa kali menikah sejak usia dini. Bukan hanya pernikahan dua kali, tapi sudah beberapa kali. Sedangkan saat ini, ibu korban diduga sedang pacaran.

“Diduga, teman ibunya juga ikut memukuli si anak ini. Kondisi psikis bocah tersebut semakin tertekan. Tentu, perlu bimbingan pemulihan psikologisnya. Keributan dalam rumah tangganya bukan hanya kali ini saja terjadi, tapi ini yang paling parah,” ujarnya.

Lebih jauh Rossie mengatakan, rencananya setelah korban pulih dari luka fisik dan trauma, dipelihara dan dirawat datunya.

Karena dari pembicaraan bersama datu bocah tersebut, siap untuk merawat korban agar tidak mengalami lagi kekerasan fisik dan tekanan psikologis dari orangtua.