Cinta Beda Kasta, Suami Dibunuh di Depan Istri yang Sedang Hamil

Cinta Beda Kasta, Suami Dibunuh di Depan Istri yang Sedang Hamil

INDIA, dawainusa.com Amrutha Varshini tak pernah menduga jika sang suami, Pranay Perumalla harus tewas di tangan ayah kandungnya. 14 September menjadi hari tragis yang dialaminya. Perumalla dibunuh dalam sebuah kasus “pembunuhan demi kehormatan” (honor killing).

Pembunuhan demi kehormatan adalah pembunuhan seorang anggota keluarga, karena keyakinan pelaku bahwa korban telah membuat malu atau mencemarkan keluarga, atau telah melanggar prinsip-prinsip komunitas atau agama.

Biasanya untuk alasan-alasan seperti menolak untuk memasuki perjodohan, berada dalam hubungan yang tidak disetujui oleh keluarga mereka, berhubungan seks di luar nikah, menjadi korban pemerkosaan, berpakaian dengan cara yang dianggap tidak pantas, terlibat dalam hubungan non-heteroseksual atau melepaskan iman.

BBC berhasil mengungkap kisah lengkap perempuan berusia 21 tahun itu. Kisah cinta Amrutha dan Pranay sudah terjalin lama, saat keduanya masih duduk di bangku SMA di Miriyalaguda, sebuah kota kecil di negara bagian Telangana, wiyalah selatan India.

Baca juga: Pengakuan Pangeran Charles Soal Perselingkuhannya

“Sejak pertama bertemu, kami sudah saling menyukai. Kami kerap ngobrol lewat telepon dan akhirnya kami jatuh cinta,” ujar Amrutha.

Keduanya pun menjalin cinta, meski berbeda kasta. Amrutha yang berasal dari keluarga kaya tak peduli meski harus menikah dengan Pranay yang merupakan kasta Dalit yang dianggap paling rendah di India.

Dua tahun lalu, tepatnya pada April 2016, keduanya memantapkan pilihan untuk menikah. Pernikahan itu pun tanpa ada restu dari orangtua Amrutha. Kini, dalam kondisi mengandung lima bulan, Amrutha berada dalam situasi yang tak pernah dia bayangkan.

“Ayah membunuh suami saya karena dia tak berasal dari kasta yang sama dengan kami,” ujar Amrutha.

Kronologi Pembunuhan

Di hari pembunuhan, Amrutha bangun kesiangan. Punggungnya sakit, sehingga dia pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan kondisinya.

Pranay dan ibu mertua Amrutha mengantarkan perempuan itu berobat ke rumah sakit. Saat mereka meninggalkan rumah sakit, Amrutha sempat menanyakan sesuatu kepada suaminya yang berjalan agak di belakang.

Baca juga: Kisah Finalis Indonesia Idol yang Jadi Pencuri Demi Menyambung Hidup

Saat Pranay tak menjawab, Amrutha menoleh dan langsung terkejut melihat sang suami sudah tergeletak di tanah.

Rekaman kamera CCTV milik rumah sakit, yang kemudian disiarkan berbagai stasiun televisi, memperlihatkan seorang pria membuntuti keluarga Pranay saat mereka menuju pintu keluar rumah sakit.

Pria itu kemudian membacok tubuh bagian atas Pranay dengan senjata yang terlihat seperti kapak. Saat Pranay terjatuh, pria itu kembali membacoknya.

Amrutha mengatakan, ibu mertuanya mendorong pria itu, sementara dirinya lari ke dalam rumah sakit meminta tolong.

“Saat saya mengabarkan hal ini kepada ayah saya, dia hanya mengatakan ‘apa yang harus saya lakukan? membawa dia ke rumah sakit?’,” kenang Amrutha.

Tragedi itu kembali mengingatkan Amrutha soal larangan yang diberikan ibunya kala dia masih kecil. Saat itu, sang ibu tidak mengizinkan dia bebas memilih teman apalagi yang berbeda kasta.

Sehingga tak mengherankan jika orangtuanya amat menentang hubungan asmaranya dengan Pranay saat mereka mengetahui hal tersebut.

“Saat itu kami harus sembunyi-sembunyi saat ingin bertemu. Saya tidak peduli soal kasta atau kekayaan keluarganya. Hal terpenting adalah kami saling mencintai,” kata Amrutha.

Bahkan setelah mereka menikah, lanjut Amrutha, orangtuanya memaksanya pulang ke rumah dan menguncinya di dalam kamar.

Namun, Amrutha berhasil meloloskan diri dan dia kemudian pindah ke kediaman keluarga Pranay yang merestui pernikahan ini.

Amrutha mengatakan, mereka berencana pindah ke Kanada saat mengetahui dirinya sudah mengandung. Mereka memutuskan menunggu hingga bayi mereka lahir sebelum pindah ke negeri itu.

Amrutha mengabarkan soal kehamilannya kepada kedua orangtuanya berharap hal tersebut bisa sedikit melembutkan hati mereka. Namun, Amrutha amat terkejut ketika ayahnya justru meminta dia menggugurkan janin yang dikandungnya.

“Kami selalu hidup dalam ketakutan tetapi saya tak pernah terpikir ayah bisa berbuat kejahatan semacam ini,” ujar Amrutha.

Justice For Pranay

Derita Amrutha belum berakhir. Sejak kematian suaminya, tak satu pun anggota keluarga menghubungi, termasuk sang ibu yang dulu kerap menelepon Amrutha.

“Saya kira dulu ibu amat perhatian kepada saya, tetapi kini saya kira dia menelepon hanya untuk memata-matai saya,” tambah Amrutha.

Baca juga: Cara Aneh Pemimpin Korut Kekang Arus Informasi Masyarakat

Perhatian besar justru tercurah kepada keluarga Pranay yang menjadi korban pembunuhan. Sejumlah kelompok perjuang hak-hak kasta Dalit dan aktivis perempuan mengunjungi kediaman keluarga Pranay untuk memberi dukungan dan rasa simpati.

Sebagai bentuk penghormatan kepada mendiang suaminya, Amrutha membuka akun Facebook dengan nama “Justice for Pranay” yang hanya dalam beberapa hari sudah mendapat 112.000 followers.

Lewat akun Facebook itu, Amrutha mengunggah berbagai foto unjuk rasa dan pesan-pesan dukungan terhadap dirinya dan keluarga Pranay.

Amrutha juga mengunggah foto saat police for Pranay” yang hanya dalam beberapa hari sudah mendapat 112.000 followers.

“Jangan biarkan ayah saya bebas!” demikian kalimat yang mendampingi foto tersebut.

Tuntutan Amrutha mencari keadailan bagi suaminya terdengar Kausalya, perempuan kasta atas yang suaminya, Shankar, juga dibunuh karena berbeda kasta.

Sejak itu, Kausalya melawan orangtuanya dan berjuang menentang aturan kasta dan “pembunuhan demi kehormatan”. “Pembunuhan Pranay mengingatkan saya kepada Shankar,” kata Kausalya kepada BBC.

“Cinta Amrutha kepada suaminya akan membuatnya kuat. Dia mengatakan akan melawan sistem kasta dan mencari keadilan untuk Pranay. Kami akan mendukungnya,” Kausalya menegaskan.

Soal sistem kasta di India ini memang membuat kehidupan rumit. Sejauh ini tak ada data resmi tetapi berdasarkan sebuah studi ratusan orang tewas dibunuh di India dalam apa yang disebut “pembunuhan demi kehormatan”.

Sebagian dari korban adalah akibat mereka menikah tanpa restu atau mencintai seseorang di luar kasta mereka. Banyak keluarga di India masih memilih pernikahan yang sudah diatur dengan sesama kasta atau orang dengan agama yang sama.

Tetapi Amrutha selalu ingat apa yang dikatakan Pranay. Pranay mengatakan, sistem kasta tidak boleh menghalangi cinta.

“Kami berdua bertekah memperjuangkan cinta kami. Kini saya berjuang demi keadilan. Namun, saya khawatir ayah saya kelak akan menyakiti anak dan keluarga suami saya,” ujar Amrutha.*